Target 6 Juta Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi Belum Tercapai.

Anggota Dewan Pengarah Lembaga Sertifikasi Profesi Hatsindo Indonesia Teknik. (SM/BB)

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Pemerintah menargetkan 6 juta tenaga kerja konstruksi di Indonesia memiliki sertifikat. Meski sayangnya, sampai sekarang jumlah itu belum terpenuhi. Walau pada saat bersamaan, jumlah tenaga kerja konstruksi di Indonesia sangat besar jumlahnya.

“Baru satu juga jumlahnya tenaga kerja kontruksi yang memiliki sertifikat. Dengan kata lain dapat dikatakan, masih banyak tenaga kerja konstruksi yang tidak bersertifikat,” Anggota Dewan Pengarah Lembaga Sertifikasi Profesi Hatsindo Indonesia Teknik
Dymo di Hotel Mulia Jakarta, Jumat (9/4/2021) petang.

Dia menambahkan Hatsindo, atau Himpunan Ahli Teknik Konstruksi Indonesia, hadir sebagai salah satu wadah organisasi yang memiliki tugas melakukan pembinaan. Untuk meningkatkan kemampuan keterampilan dan keahlian. Serta turut berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional secara menyeluruh. Dengan memberikan pelayanan dalam hal pengurusan sertifikasi tenaga kerja di sektor jasa konstruksi.

“Asosiasi profesi kami mensertifikasi dari tukang, mandor hingga ahli. Untuk tenaga kerja asing, yang boleh kerja di Indonesia, sertifikat merek di level tenaga ahli, dengan catatan harus melakukan transfer ilmu pengetahuan,” imbuh Dymo.

Hal senada dikatakan Supay. Sertifikasi yang mereka keluarkan, mulai dari sertifikasi tenaga yang membangun jalan, hingga sertifikasi tenaga yang membangun gedung.

“Sertifikasi kita berlaku di luar negeri. Jadi, semua masyarakat Indonesia yang menjadi tukang di luar negeri harus mempunyai sertifikat ini,” kata Supay sembari menjelaskan institusinya memberikan sertifikat dengan didampingi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).

“Jadi, termasuk pembimbing haji harus disertifikasi. Indonesia akan maju, jika pengujian sertifikasi harus dilakukan secara terukur,” katanya lagi.

Turunannya, keberadaan sertifikat ini juga diperuntukkan untuk tenaga asing yang bekerja di Indonesia. “Kalau belum ada sertifikatnya, kita sertifikasi dulu. Karena UU mengamanatkan itu,” kata Supay.

BACA JUGA :  TIKI Tambah Cakupan Fasilitas Drive Thru

Dymo mengatakan keberadaan lembaga sertifikasi sangat penting. “Apa bedanya tenaga kerja bersertifikat dan tidak. Yang bersertifikat mempunyai kompetensi yang terukur. Baik dari dokumen, pelatihan, uji kompetensi, ” katanya.

Sebelumnya dia menjelaskan pandemi Covid-19 yang masih terjadi hingga sekarang, memberikan dampak negatif atas perkembangan jasa Konstruksi. Karena mengalami penurunan yang sangat drastis, sehingga berakibat terganggunya stabilitas perekonomian di masyarakat. Salah satunya pada sektor Konstruksi.

Sejumlah pekerjaan di bidang jasa konstruksi yang merupakan bagian dari pelaku ekonomi mengalami kevakuman sebagai akibat dampak yang ditimbulkan pandemi ini.

Di tengah melambamya perekonomian Nasional di Tanah air dikarenakan wabah Covid-19, sektor Konstruksi diharapkan masih dapat memiliki peluang-peluang untuk dapat bangkit dari ketepurukan.

Salah satu tantangannya meningkatkan sumber daya yang dimiliki, yaitu para tenaga kerja Konstruksi yang cakap dan profesional serta mampu berdaya saing di masa sekarang dan yang akan datang.

Hatsindo sendiri berdiri sejak tahun 2009, hadir sebagai asosiasi profesi yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan telah memiliki cabang yang tersebar di 34 Provinsi di Indonesia.

Asosiasi Hatsindo melaksanakan Akreditasi sebagai bentuk pengakuan formal sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu asosiasi untuk menentukan kelayakan asosiasi. Selaras dengan Peraturan Menteri PUPR Nomor 10 tahun 2020 tentang Akreditasi Asosiasi Badan Usaha Jasa Konstruksi, Asosiasi Profesi Jasa Konstruksi, dan Asosiasi Terkait Rantai Pasok Konstruksi.

Melalui proses seleksi yang ketat serta melengkapi persyaratan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat, Asosiasi Hatsindo lolos sebagai Asosiasi Profesi Jasa Konstruksi Terkreditasi yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri PUPR Nomor 14 tahun 2020 tentang Asosiasi Badan Usaha Jasa Konstruksi, Asosiasi Profesi Jasa Konstruksi dan Asosiasi Terkait Rantaj Pasok Jasa Konstruksi Terakreditasi.

BACA JUGA :  Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Dari Bumi Andalas Untuk Nusantara

Turunannya, para tenaga kerja konstruksi, sesuai dengan Undang~undang Nomor 2 tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Yang mengataman bahwa setiap tenaga kerja yang bekerja di bidang jasa konstruksi wajib memiliki Sertifikat Kompetensi Ketja.

Sertifikat Kompetensi Kerja sebagaimana dimaksud diperoleh melalui Uji Kompetensi yang dilakukan oleh Lambaga Sertikasi Profesi (LSP). (Bb-69)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *