Tim Penggerak PKK Harus Miliki Medsos

Media Sosial

SEMARANG – Seluruh Tim Penggerak PKK hingga tingkatan desa/ kelurahan, kembali diingatkan untuk harus memiliki media sosial (medsos) sebagai sarana untuk sosialisasi, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi kegiatan. Bahkan, media sosial menjadi salah satu pelaporan tercepat.

Hal itu disampaikan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo, saat membuka Peningkatan Kapasitas Kader bagi TP PKK Kabupaten / Kota se-Jawa Tengah, Bimbingan Teknis Pralomba Business Plan UP2K PKK Provinsi Jawa Tengah, serta Pembukaan Kegiatan Budaya Cinta Produk Dalam Negeri bagi TP PKK Kabupaten/ Kota se-Jawa Tengah, secara virtual, Rabu (7/4/2021).

Ditambahkan, dengan adanya media sosial, setiap kegiatan dapat diunggah, baik foto maupun video. Sehingga, orang yang tidak berkecimpung di PKK mengetahui jika kegiatan PKK terhitung banyak. Di sisi lain, dokumentasi kegiatan tersebut juga tidak mudah hilang.

“Masih banyak tantangan yang akan kita hadapi pada masa pandemi ini, namun Gerakan PKK tidak boleh berhenti hanya karena pandemi, karena masyarakat memerlukan kehadiran kita. Jangan sampai posyandu terhenti yang berdampak pada stunting yang meledak,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Atikoh juga mengungkapkan jika masalah kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi isu sentral saat ini. Pada 2020, kekerasan dalam rumah tangga di Jawa Tengah terlaporkan mencapai 1.161 kasus, dengan berbagai bentuk kekerasan. Di situasi pandemi saat ini, dimana situasi serba sulit maka kekerasan dalam rumah tangga akan membawa dampak yang sangat besar bagi korbannya.

Diakui, mungkin banyak korban yang membutuhkan teman bicara, tetapi pandemi telah membatasi ruang gerak mereka untuk mencari pertolongan. Untuk itulah, kader PKK tetap harus memberikan dukungan kepada para korban kekerasan, melalui pemantauan, memberikan ruang untuk mereka bicara/ mengadukan masalahnya.

BACA JUGA :  Kariadi, Dokter dan Peneliti Malaria yang Gugur Diterjang Mimis

“Menjadi teman bicara korban kekerasan memang bukan hal yang mudah, karena dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan untuk melakukan konseling. Tapi, jangan sampai kader PKK tidak bisa berbuat saat ada yang membutuhkan pendampingan,” kata Atikoh. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *