Kemenristek/BRIN Dorong Ekonomi Sirkular Melalui Percepatan Pencapaian Bauran Energi Nasional 2025

SMJkt/Ist

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Salah satu gagasan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) dalam percepatan pencapaian bauran energi nasional 2025 adalah mendorong ekonomi sirkular dengan dukungan riset dan inovasi. Untuk itu, pemerintah mendorong hilirisasi riset dan inovasi yang peduli akan kelestarian lingkungan.

“Oleh karena itu, pengembangan ekonomi sirkular yang fokus pada penggunaan optimal dari sumber daya dalam aspek produksi hingga konsumsi, dapat menjadi solusi atas permasalahan sampah/limbah. Disisi lain, kegiatan ekonomi sirkular dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan energi berbahan dasar limbah (waste to energy),” ujar Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro pada acara Forum Kehumasan Dewan Energi Nasional (DEN) secara virtual, Kamis (8/4).

Bambang juga menyebutkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) diharapkan dapat diterjemahkan dengan baik di tingkat K/L maupun pemerintah daerah. “Kita harapkan juga peraturan-peraturan Menteri dapat selalu in-line dengan RUEN,” imbuhnya.

Bentuk dukungan lainnya, Kemenristek/BRIN juga mendorong pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi. “Kita tidak bisa menghilangkan kemungkinan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai sumber energi baru, jika kita ingin mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil,” lanjutnya.

Dalam kurun waktu 2020-2024, terdapat 33 kegiatan dan 17 program terkait pengembangan PLTN yang tertuang di dalam Matrik Rencana Umum Energi Nasional Kemenristek/BRIN tentang PLTN. Pembangunan PLTN tersebut, dengan mempertimbangkan lokasi yang  bebas resiko bencana alam, serta kemudahan transmisi listrik ke wilayah-wilayah yang memerlukan energi listrik dalam skala besar,  baik melalui kabel darat atau kabel bawah laut.

Hal lain yang ditekankan oleh Menristek/Kepala BRIN terkait dengan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan di tanah air, adalah pentingnya pencapaian tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di sektor pembangkit EBT, yaitu surya 40 persen, bio-energi 40 persen, dan panas bumi 35 persen.

BACA JUGA :  K-Line Donasikan Komputer untuk SMK di Jakarta.

“Dengan demikian, diharapkan Indonesia tidak saja menjadi pengguna EBT, namun juga sebagai produsen di sektor pembangkit EBT,”  pungkasnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *