Transformasi Digital Bank Jateng

GP

Oleh Gunawan Permadi

SEBAGAI sebuah brand, Bank Jateng dapat dikatakan tidak pernah lepas dari top of mind konsumen dan warga Jawa Tengah. Secara nasional pun, brand Bank Jateng sudah melekat di benak masyarakat.

Tidak heran, sebab Bank Jateng meraih peringkat pertama untuk Bank Pembangunan Daerah (BPD) Buku 3 dengan aset di atas Rp 50 triliun sampai dengan Rp 100 triliun versi Infobank Top BUMD Award 2021.

Menginjak usia ke-58 tahun tepat pada 6 April 2021 ini, Bank Jateng telah mencatat segudang prestasi, namun tentu juga tidak akan lupa pada sejumlah tantangan masa depan. Perubahan zaman yang ditandai dengan perkembangan teknologi digital adalah tantangan yang sudah dan harus terusmenerus dijawab oleh Bank Jateng. Tantangan yang tidak mudah, tetapi tidak terhindarkan.

Berselancar pada era digital menjadi satu keterampilan setiap lembaga, tidak terkecuali Bank Jateng, sebagai bagian dari adaptasi untuk memenangi masa depan. Tantangan itu sekaligus menemukan momentum tepat saat pandemi Covid-19. Mengapa? Pandemi mengubah metode operasi hampir setiap sektor dengan digital sebagai back bone.

Tranformasi digital di Indonesia bahkan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan dengan prediksi sebelumnya. Menurut data Google dari survei global, Indonesia mencapai kemajuan digital yang dicapai dalam satu tahun ini, padahal sebelumnya diperkirakan baru dapat tercapai lima tahun lagi.

Ini sekaligus juga mengisyaratkan bahwa transformasi digital bagi siapa pun tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk berlangsung lebih cepat pula. Bank Jateng, sebagai bank-nya wong Jawa Tengah terlihat sudah, sedang, dan akan bertransformasi dan berselancar pada era digital untuk memenangi zaman.

Saat pandemi Covid-19 seperti ini, untuk menghindari kontak yang banyak dilakukan nasabah dengan perbankan, maka Bank Jateng lebih mendorong nasabah memanfaatkan fasilitas mobile-banking. Transaksi kapan saja dan di mana saja. Sudah pasti tidak hanya mobile banking semata. Internet banking, layanan e-channel bahkan kolaborasi dengan berbagai layanan echannel bakal makin melengkapi adaptasi dan inovasi yang ditempuh. Kolaborasi, adaptasi, dan inovasi adalah tiga kata kunci yang wajib dimainkan secara istiqamah.

BACA JUGA :  Dari Pandemi hingga Vaksinasi

Migrasi Digital

Proyeksi McKinsey menyebut ‘gelombang kedua’ penggunaan otomatisasi yang semakin mendesak sejalan dengan kedatangan pandemi global. Pandemi mengharuskan masyarakat lebih banyak berada di rumah dan melakukan kegiatan secara digital, termasuk layanan perbankan.

Menurut McKinsey, mesin dapat mengambil peran hingga 10-25% dari fungsi pekerjaan di bank, menaikkan kapasitasnya, dan memungkinkan pegawai bank fokus pada proyek dan pekerjaan yang bernilai lebih tinggi.

Laporan Bancography di Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa bank-bank di Negeri Paman Sam itu telah mengurangi kantor baru sejak 2013, di tengah kian berkembangnya layanan perbankan digital (digital banking).

Tren digital banking memang tidak terelakkan, dan hanya tinggal menunggu waktu sampai terjadi migrasi penuh layanan perbankan berbasis digital. Prediksi Lembaga Riset International Data Corporation Indonesia (IDC) lebih tegas lagi, yakni bahwa 33 persen perusahaan global akan gulung tikar, jika tak segera mengadopsi teknologi cloud dan melakukan transformasi digital.

Ledakan penggunaan smartphone, tablet, Internet, aplikasi yang saling terhubung memungkinkan relasi business-to-business (B2B) dan bisnis ke konsumen (B2C) berjalan dengan baik.

Perusahaan dimungkinkan berinteraksi secara personal, langsung dan real time dengan konsumen dan partner bisnis. Mengutip pakar semiotika YA Piliang, sebuah migrasi besarbesaran kehidupan manusia tampaknya tengah berlangsung.

Migrasi humanitas ini telah menimbulkan perubahan besar tentang bagaimana setiap orang menjalani dan bentuk kehidupan yang sebelumnya dilakukan berdasarkan relasi-relasi alamiah (natural), kini dilakukan dengan cara yang baru, yaitu cara artifisial.

Tidak saja berbagai aktivitas manusia kini dilakukan dengan cara yang baru, lebih dari itu, kini tengah berlangsung semacam transformasi terminologis dan epistemologis tentang apa yang disebut sebagai migrasi digital besar-besaran yang juga berlangsung kini, yaitu pemberian awalan cyber untuk hampir seluruh bidang kehidupan nyata.

BACA JUGA :  Panjang Umur Kebodohan.

Kontribusi Sosial-Budaya

Jika melihat data kinerja sampai dengan Desember 2020, kesimpulan yang dapat ditarik adalah: terjaga dalam kondisi baik. Indikatornya antara lain aset Rp 73,11 triliun, DPK Rp 58,98 trilun, kredit Rp 51,11 trilun, dan laba usaha Rp 1,54 triliun.

Kontribusi Bank Jateng bagi pendapatan asli daerah (PAD) juga tercatat Rp 5,3 trilun berupa total dividen dan imbal hasil yang diterima selama kurun waktu 2005-2020. Pertumbuhan kredit untuk UMKM terus tumbuh. Bank Jateng mengeluarkan kredit UMKM sudah lebih dari Rp 50 triliun dari sekitar Rp 80 triliun kredit yang ada.

Dan, di luar dugaan pada masa pandemi ini, laba Bank Jateng sudah sampai Rp 1,6 triliun pada Oktober. Melesat jauh dari target Rp 1,2 triliun atau naik lebih dari 40 persen dibandingkan dengan posisi tahun lalu yang baru Rp 900 miliar pada bulan yang sama.

Namun, ada yang lebih menarik selain data-data angka baik berupa kontribusi bagi PAD maupun perekonomian Jawa Tengah, yakni Bank Jateng sebagai lokomotif sosial-budaya Jawa Tengah dan lebih luas lagi, Indonesia.

Menarik misalnya bahwa institusi Bank Jateng telah menyelenggarakan pelatihan micro business simulation (BMS) sebanyak 751 kali kepada 9.654 pelaku UMKM, pelatihan saving game sebanyak 152 kali kepada 1.988 orang, dan digitalisasi UMKM melalui marketplace BIMart yang didukung bank ini.

Angka-angka itu bukan semata pencapaian kuantitatif, melainkan juga pemenuhan kualitatif sebagai kontribusi sosial-budaya. Perubahan sosiologis melalui aktivitas digital itu pada ujungnya akan membangun budaya literasi keuangan, perubahan perilaku berbasis digital yang lebih efektif dan efisien, yang kemudian akan mendukung mobilitas sosial yang lebih cepat.

Sangat penting untuk mengkaji lagi kontribusi sosialbudaya ini dan diterjemahkan ke dalam strategi peta jalan, agar peran Bank Jateng sebagai lokomotif sosial-budaya di Jawa Tengah tampil kuat. Inilah kekuatan sekaligus kontribusi intangible Bank Jateng selain kontribusi tangible yang telah diuraikan dalam data dan statistik kinerja.

BACA JUGA :  Analisa ekonomi “MEMPERTAHANKAN SURPLUS NERACA PERDAGANGAN” Oleh Ryan Kiryanto (Ekonom)

Perubahan sosial yang sedang terjadi, sebagai akibat langsung maupun tak langsung dari migrasi digital di berbagai sektor, telah memengaruhi perubahan relasi sosial, perilaku, dan akhirnya budaya masyarakat.

Siapa sangka, perbankan dengan kekuatan finansial dan transformasi digitalnya telah berperan serta pula dalam perubahan sosial-budaya itu. Dalam kerangka inilah, kita meletakkan transformasi digital Bank Jateng sebagai pendorong perubahan sosial-budaya, terutama bagi masyarakat Jawa Tengah.

Transformasi digital dalam kerangka kontribusi sosial-budaya itu kita yakini akan menarik warga ke arah perubahan zaman yang lebih dinamis dan bertumbuh, baik secara ekonomi maupun sosial. Dirgahayu Bank Jateng, banknya wong Jawa Tengah. (37)

— Gunawan Permadi, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *