Guru, Amaliahmu Abadi.

Umbu Landu Paranggi (Istimewa).

In Memoriam Umbu Wulang Landu Paranggi.

Oleh Yanusa Nugroho.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Saya rasa, yang paling ‘pas’ mengggambarkan tokoh yang satu ini adalah Pak Taufiq Ismail, lewat sajaknya: ‘Beri Daku Sumba’. Saya tampilkan di sini puisi tersebut.

TAUFIQ ISMAIL

BERI DAKU SUMBA

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
dan angin zat asam panas mulai dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa-nova dan tiga ekor kuda
beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
beri daku ranah tanpa pagar, luas tak berkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukiit yang jauh

(saya kutip dari ‘Laut Biru Langit Biru’ –bunga rampai sastra karya Ajip Rosidi–Pustaka Jaya, 1977).

Saya rasa tidak berlebihan jika Taufiq Ismail membayangkan Umbu begitu perkasa, yang lahir dari kegersangan alam Sumba. Sosok yang pada tahun 70-an melahirkan Persada Studi Klub, dan dari PSK ini berlahiran tokoh-tokoh sastra Indonesia.

BACA JUGA :  Kantungi Sertifikat Halal, Bakmitopia Buka Outlet ke-41 di Bandung.

Orang yang dijuluki presiden (nya) Malioboro oleh Emha Ainun Najib (salah seorang murid Umbu) itu bisa saya ibaratkan sang penggosok intan. Banyak manusia yang berkarakter ‘intan’ ketika itu, yang di tangan Umbu, dengan ‘gosokan’nya dalam membuka bukan saja wawasan ilmu tetapi–konon– juga kedalaman kemanusiaannya, lahir kembali menjadi ‘manusia berlian’ yang kemudian menghiasi cakrawala kesenian/kebudayaan Indonesia hari ini.

Umbu Wulang Landu Paranggi lahir di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943, wafat di Bali 6 April 2021. Beberapa tahun terahir hidupnya, Umbu memang tinggal di Bali, dan cukup dekat dengan penyair Wayan Jengki Sunarta.

Selamat jalan guru..amaliahmu abadi. (Bb-69).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *