Menyingkap Doktrin Terorisme

Oleh Mohammad Farid Fad

RENTETAN kejadian teror di gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan (28/3) dan Mabes Polri (31/3) sungguh menghentak akal sehat. Betapa tidak, di tengah gigihnya negara melawan serangan ganasnya mikroba Covid-19, kombatan justru melakukan bom bunuh diri dan melepaskan tembakan membabi buta. Tak seperti lazimnya, aksi kali ini memiliki kemiripan, pelakunya sama-sama tergolong milenial.

Esensi terorisme, menurut Yuval Noah Harari (2016), adalah pertunjukan. Logikanya, semakin viral akan membawa kelegitan tersendiri bagi mereka. Para teroris sengaja menghidangkan spiral kekerasan hingga membuat kita digiring pada imaji kekacauan abad pertengahan.

Kengawuran yang agresif akan digdaya ketimbang kepakaran yang pasif. Sesuatu yang tak benar sekalipun akan dinilai ”benar” bila dibenar-benarkan terus-menerus. Tak peduli betapa absurdnya ”kebenaran” tersebut. Akal sehat pun dikafani lalu dimakamkan, digantikan dengan merasa tahu dalam ketidaktahuan.

Teringat ajaran Leviathan-nya Hobbes, menurutnya manusia ditakdirkan homo homini lupus, manusia adalah serigala pemangsa bagi sesama. Para peneror telah mengajarkan kibul ideologis hingga terbentuk manekin pecinta kematian (nekrofilis), bukan pecinta kehidupan (biofilis).

Tentu saja, tak bisa dipungkiri, fenomena pengerasan pemahaman keagamaan tak terlepas dari selera publik yang mengalami pergeseran, dari pola agamawan high-brow (terdidik) menjadi low-brow (serba instan). Dalam rimba narasi, ocehan awam yang sok tahu bisa jadi malah lebih didengarkan ketimbang uraian sistematis cerdikcendekia.

Simbol-simbol agama hanya diperalat menjadi kuda troya dengusan nafsu para kombatan. Citra Ketuhanan Yang Maha Pengasih dan Penyayang pun lenyap tenggelam oleh hasrat angkara murka. Tingkat spiritualitas hanya ditera lewat desingan mesiu dan bau amis darah. Religiusitas pun menjadi tandus dan gersang.

BACA JUGA :  Harmoko : Jurnalis dan Politisi Ulung, Berwawasan Luas: Oleh Zainut Tauhid Sa'adi, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia

Ajaran Islam yang bernilai mulia diringkus bersalin rupa menjadi narasi apokaliptik. Hingga secara serampangan menganggap yang tak sepaham sebagai bidíah, kafir, bahkan sesat. Tak urung, terjadilah apa yang disebut gejala pengilahian diri (self-deification).

Di balik selubung terorisme, ada akal sehat yang dihina, diacuhkan bahkan diludahi. Hingga bisa disebut bahwa terorisme adalah penghayatan keagamaan yang bercerai dengan rasio. Imbasnya, agama akan kehilangan elan vitalnya bila terus-menerus dirudung narasi radikalisme (tatharruf).

Sementara ciri khas manusia, menurut kodratnya, adalah ia memikirkan dan mempertimbangkan perbuatannya sebelum bertindak. Oleh karena itu, tentu, hanya manusia yang tak memahami kemanusiaannya sendirilah yang menginginkan teror itu terjadi. Padahal sejatinya, manusia hidup dalam harmoni dan bahumembahu saling membantu, homo homini socius.

Bagaimana mungkin Tuhan sebagai Realitas Tertinggi (The Supreme Being) justru menghendaki ajaran pemuliaan kematian dengan melenyapkan diri atau nyawa pihak lain. Bahkan Allah Swt telah menegaskan bahwa barangsiapa membunuh seseorang, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia (Q.S. 5: 32).

Yang jelas, Tuhan tak menjadikan ajaran agama-Nya bak mesin pembunuh. Ajaran welas asih menjadi fitrah tiap agama. Sebagaimana pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah, manusia itu bila bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.

Agama tak pernah mengajarkan kekerasan namun pemahaman atas agamalah yang menyebabkan munculnya radikalisme. Pemahaman keagamaan yang benar justru menyempurnakan cita rasa kemanusiaannya, bukan sebaliknya. Dikarenakan Tuhan Yang Maha Hidup menghendaki bumi bagai hamparan tikar eksistensi peradaban manusia.

BACA JUGA :  Makna dibalik Kurban: Penghargaan Hak Asasi Manusia dan Revitalisasi Kebudayaan: Widia Febriana,Pemerhati Sosial dan Budaya

Aksi lancung teroris tersebut melesatkan persoalan, bagaimanakah gerangan wajah Islam yang sesungguhnya, wajah garang yang dengan buas memangsa manusia lain lengkap dengan bom rakitan dan senjata? Ataukah paras asih yang menyinarkan kilauan ilmu berabad-abad, yang melahirkan karya al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dan deretan pemikir lainnya?

Mereka terjebak pada kesadaran semu, odi ergo sum, aku membenci maka aku ada. Teror yang ditebarkan mereka hanya terasa bagai parade kebrutalan, sejenis nihilisme baru, demi kehancuran diri dan sesama. Atau malah mereka pengidap dystopia, antithesis dari utopia.

— Mohammad Farid Fad,pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin Kendal, dosen FITK UIN Walisongo Semarang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *