Bioskop dan OTT Saling Melengkapi.

Deddy Mizwar. (SM/BB).

JAKARTA, Suaramerdekajkt —
Layanan Over-The-Top (OTT) atau layanan konten berupa data, informasi atau multimedia yang berjalan via jaringan internet, adalah dua hal yang berbeda dengan layanan Bioskop.

Karena, dua hal itu, sebagaimana dikatakan Manoj Punjabi CEO MD Pictures, adalah dua model bisnis yang berbeda.

“Harusnya OTT menjadi komplimen bagi bisnis bioskop. Tapi karena ada pandemi akhirnya semua berubah (sistem bisnisnya),” kata Manoj dalam webinar “Bisakah Film Indonesia Andalkan Platform Digital OTT,” yang diinisiasi oleh KReasi; Koperasi Seniman Indonesia, Senin (5/4/2021) petang.

Manoj menambahkan, dalam kondisi normal, bisnisnya harusnya bermula dari bioskop, OTT baru FTA (Free To Air).

Karenanya, produser film seperti dia, masih menunggu untuk tetap menayangkan filmnya di bioskop. “Supaya bisa mendapatkan pemasukan yang optimal. Karena betapapun, OTT tidak bisa menggantikan bioskop,” kata Manoj lagi sembari mengatakan, jika kondisi normal dia prediksi film produksinya, Asih bisa mendapatkan 1,5 – 2 juta penonton. Tapi karena di masa pandemi hanya mendapatkan 250 ribu penonton.

Manoj Punjabi. (SM/BB).

Masih menurut Manoj, krisis pandemi justru harusnya membuat insan film makin kreatif. Sekaligus terbuka dengan OTT. Meski secara bersamaan pemasukan OTT dipatok keuntungannya. Disesuaikan dengan bujet pembuatan, dan dikurasi dengan sangat ketat. Dengan kata lain, tidak ada Jack pot dalam bisnis ini.

Dan secara bersamaan tidak ada laporan jumlah penontonnya dari OTT yang bersangkutan.

Segendang sepenarian, Deddy Mizwar, Ketua Umum PPFI mengatakan, betapapun juga layanan bioskop belum tergantikan. Betapapun canggihnya teknologi menonton film dari rumah. Karena ada teknologi suara yang modern di sana.

Menurut dia, di kondisi pandemi saat ini, sebenarnya para pekerja film sudah bekerja dengan maksimal. Meski di saat bersamaan ada beberapa produser film memilih untuk istirahat beberapa saat.

BACA JUGA :  Dewa Budjana Rilis Single Kedua “Blue Mansion”.

“Karenanya, harus ada upaya dari bioskop untuk meyakinkan masyarakat, datang ke bioskop tanpa rasa khawatir. Karena prokes-nya terpenuhi. Selain itu film yang dijual juga harus yang benar,” katanya.

Dengan kepastian bioskop adalah tempat yang aman, Deddy meyakini, masyarakat akan kembali ke bioskop. “Karena kerinduan itu ada,” katanya lagi. (Bb-69).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *