244 Desa Wisata Ditarget Sudah Tersertifikasi Jadi Desa Wisata Mandiri

Gumuk Reco di Sepakung Semarang

JAKARTA- Pada 2021, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) punya program menggenjot program pengembangan desa wisata menjadi salah satu program prioritas pemerintah.

Dalam konteks global, tren ini sudah berlangsung lama dan berkembang di dunia, terutama di negara-negara yang sudah berkembang sektor pariwisatanya. Dalam tataran lokal, juga menstimulasi bangkitnya ekonomi masyarakat berbasis dari desa.

Itulah sebabnya sejak memegang kendali Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif awal tahun ini, Menparekraf Sandiaga Uno pun bergerak cepat termasuk mulai menggarap program desa wisata. Sejauh ini ada 244 desa wisata yang terus didorong pengembangannya. “Ibaratnya dari startup hingga menjadi unicorn,” tutur Sandi.

Hingga 2024, Kemenparekraf menargetkan 244 desa wisata sudah tersertifikasi menjadi desa wisata mandiri. Upaya ini patut didukung. Masalahnya di beberapa daerah tidak mudah menghadirkan persepsi pariwisata di tengah masyarakat setempat dengan kearifan lokalnya.

Terbatasnya visi dan persepsi itulah yang menjadi pangkal rendahnya minat dan kesadaran masyarakat mengenai pariwisata. Belum lagi soal kualitas SDM lokal.

Banyak pekerjaan rumah agar program pengembangan desa wisata bisa jadi budaya baru yang tumbuh di masyarakat. Namun masyarakat desa pun memerlukan dukungan, baik terkait sumber dana, penguatan kelembagaan, dan pemberdayaan.

Selain itu, tak dipungkiri, di desa kita menemukan masih minimnya infrastruktur desa, bahkan tertinggal. Itu perlu pembenahan. Adanya dana desa juga bisa menjadi alternatif untuk mendorong tumbuhnya desa wisata.

Peran pemda dan pemangku kepentingan di sektor pariwisata sangat dibutuhkan untuk mendorong tumbuhnya masyarakat desa berkreasi menciptakan produk wisata lokal, termasuk bagaimana produknya bisa diterima sebagai produk yang layak jual dan juga aspek pemasarannya.

Saran dan pemikiran dari ahli tetap diperlukan, misalnya sarjana pendamping desa atau pihak tertentu yang diterjunkan untuk membantu memetakan semua aspeknya. Hal ini penting agar tidak terjadi duplikasi model yang belum tentu cocok untuk desa tertentu, sekaligus menciptakan diferensiasi produk wisata yang berbasis lokal sesuai ciri khas dan keunggulannya. Dengan demikian masyarakat desa lebih mudah memahami karakteristik, potensi, dan kendalanya. (red)

BACA JUGA :  Rendang Jadi Andalan dalam Program Indonesia Spice Up The World

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *