Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Dari Bumi Andalas Untuk Nusantara

ADANYA Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang di bangun PT Hutama Karya menjadi peluang besar bagi para Usaha Kecil Menengah (UKM) daerah untuk menjajakan dagangannya di beberapa titik rest area. Peluang itu diberikan untuk UKM-UKM binaan bank BUMN seperti BNI, BRI dan Mandiri.
Berita itu merupakan ilustrasi kecil banyak pihak menyambut baik selesainya JTTS ini. Sebab, “munculnya ” JTTS tersebut merupakan peluang yang baik bagi UKM-UKM daerah.Salah satu alasannya JTT jadi jalur-jalur utamanya Trans Sumatera.
Salah satu contoh kehadiran outlet di rest are KM 87, pedagang aneka jajanan khas Lampung kini mampu melakukan peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan konsumen. Selain itu kualitas kemasan produknya juga diperbaiki agar lebih menarik banyak pembeli. Menurut salah seorang penjual, Santy,(24), sejak JTTS dioperasikan, penjualan meningkat berlipat sehingga mereka minta tambah pasokan dari suplier makanan oleh-oleh. Contoh untuk kripik pisang, dari biasanya ,- para pedagang- hanya mengambil (bahan pisang) dari 3 supplier. Sekarang rata-rata nambah jadi 5-6 supplier.
Harapan sejumlah pedagang , omzet yang diperoleh bisa naik jadi dua kali lipat dari sebelumnya. Mereka juga ingin suatu saat nanti outlet miliknya akan menjadi salah satu pusat oleh-oleh khas Bandarlampung. Fenomena serupa juga dialami kota-kota besar lain yang dilalui JTTS semisal. Musi Banyuasin.
Tak hanya menjadi jalan tanpa hambatan, tol Trans Sumatera juga dibangun untuk memberikan efek-efek baik bagi perekonomian warga Sumatera. Salah satunya dengan menggandeng UKM binaan BUMN untuk membuka outlet di rest area setempat. .
Dalam sebuah kesempatan, Direktur Utama PT Hutama Karya, Bintang Perbowo mengatakan dengan selesainya JTTS diharapkan bisa meningkatkan perekonomian warga Lampung dan Sumatera Selatan.
Sebab angkutan logistik dari satu tempat ke tempat lain akan lebih cepat, murah dan bisa dibeli masyarakat yang membutuhkan. Sehingga perekonomian Indonesia melalui Trans Sumatera ini menjadi lebih baik.
Kehadiran Jalan Tol Trans Sumatera (JJTS) semakin merekatkan provinsi di Pulau Sumatera. Contoh konkret, jarak tempuh Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), menuju Bakauheni, Provinsi Lampung, yang sebelumnya ditempuh jalur darat 12 jam, saat ini hanya berkisar 3,5 jam.
Karena itu pula Mega Proyek Nasional JTTS karya PT Hutama Karya (Persero) tersebut, memberi manfaat yang begitu besar bagi warga khususnya di Kota Palembang, dan umumnya masyarakat di Sumsel, bahkan provinsi tetangga (Lampung).
Sebagaimana yang diungkapkan Topan (57), warga Lampung menyebutkan kehadiran JTTS tersebut membuat Lampung semakin terkoneksi dengan Bumi Sriwijayai. Buktinya, jarak 373 kilometer (km) itu, kini menjadi lebih singkat secara signifikan.
Kehadiran pembangunan JTTS tersebut juga membuatnya kerap kembali ke Sumatera Selatan. Bukan itu saja, adanya JTTS pun memudahkan ia dan keluarga bepergian ke Sumatera Selatan. Pergi dengan keluarga ramai-ramai untuk main ke Palembang, ada tol jadi hemat juga. Untuk di tol itu, cuma menghabiskan biaya Rp 1 juta (biaya tol pulang pergi). Itu pakai mobil pribadi 1500 cc. Jadinya biaya perjalanan menjadi hemat.
Geliat pembangunan infrastruktur Pemerintah Pusat (JTTS) merupakan lompatan besar untuk poros utama Trans Sumatera. Hal ini juga berdampak terhadap pembangunan di Bumi Sriwijaya menjadi kian terintegrasi.
Sebab adanya infrastruktur yang selaras antara pusat dan daerah adalah jawaban dari upaya untuk mempercepat lajunya perekonomian di Sumsel. Jadi, kehadiran jalan tol di Sumsel, ini adalah kuncinya. Ya, itu (jalan tol) cara terbaik menjawab kebutuhan sarana transportasi yang semakin modern.
Bukan hanya Pemprov Sumsel saja, pembangunan JTTS itu juga menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin (Muba). Di mana Ruas Betung (Sp. Sekayu) – Tempino – Jambi sepajang 131 km yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan program strategis di Muba tersebut sedikitnya melintasi enam kecamatan. Mulai dari Kecamatan Babat Supat, Kecamatan Lais, Kecamatan Keluang, Kecamatan Sungai Lilin, Kecamatan Tungkal Jaya, dan Kecamatan Bayung Lencir.
Karena itu, kehadiran JTTS sangat berpengaruh bagi perekonomian warga. Karena itu, exit Jalan Tol Trans Sumatera di sini harus terhubung dengan segitiga emas dan kawasan industri hijau di Kabupaten Muba.
Umumnya stake holder di Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan m.
endukung kehadiran JTTS bahkan mereka meminta agar Hutama Karya dapat memperbanyak rest area. Tujuannya, untuk menghidupkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang dilintasi jalan tol tersebut. Nantinya kan para pelaku UMKM di Muba bisa menghidupkan perekonomian mereka [warga sekitar] di lokasi rest area. Itu akan terus kita perjuangkan.
Project Director PT Hutama Karya (Persero), Hasan Turcahyo, menjelaskan JTTS Palembang – Lampung menjadi solusi bagi masyarakat hingga kalangan pengusaha. Berbagai manfaat besar dapat dirasakan adanya JTTS tersebut. Mulai dari turunnya biaya logistik, mempermudah pergerakan barang dan jasa, dan kegiatan pariwisata menggeliat.
Kehadiran jalan tol juga, lanjutnya, akan memberikan kontribusi mengurai kepadatan lalu lintas (lalin) yang selama ini terjadi di Jalan Lintas Sumatera. Mengingat, kawasan Betung, Sumsel selama ini kerap macet lantaran ruas jalan yang rusak dan volume kendaraan tidak sebanding dengan ruas jalan.
Hadirnya itu (JTTS) menghasilkan pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat Sumatera, khususnya Sumsel, dan Lampung.
Saat ini, Hutama Karya tengah mengerjakan Sebelumnya, pada persemian Ruas Tol Kayuagung – Palembang sepanjang 42,5 km, beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Provinsi Lampung, semakin terkoneksi dengan Provinsi Sumsel.
Menurut Jokowi, ruas tol yang merupakan bagian dari Jalan Tol Kayu Agung – Palembang – Betung (Kapal Betung sepanjang 111,69 km merupakan poros utama dari keseluruhan JTTS. Ruas Tol Kayu Agung – Palembang kini terhubung dengan JTTS lainnya, yakni Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (TPPK) yang diresmikan pada 15 November 2019 lalu.
Ini menjadi sebuah lompatan besar karena (Palembang ke Lampung) menghemat waktu tempuh hingga 75 persen. Efisiensi itu jelas memberikan kontribusi pada penurunan biaya logistik dan memberikan daya saing yang besar bagi Palembang dan Lampung.
Daftar panjang keseluruhan ruas tol bagian dari Trans Sumatera, mencapai 2.992 km. Adapun rinciannya, 657 km ruas jalan tol di sepanjang Trans Sumatera dapat digunakan, 608 km dalam tahap konstruksi, 430 km memasuki persiapan konstruksi, dan direncanakan pembangunan untuk 1.297 km lainnya segera menyusul.
Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang dilaksanakan PT Hutama Karya (Persero), telah memberikan berbagai dampak positif bagi perekonomian masyarakat Pulau Andalas. Begitu pula halnya dengan warga yang tinggal di Bumi Lancang Kuning. Manfaat jalan bebas hambatan ini juga ikut dirasakan usai dibukanya ruas tol Pekanbaru-Dumai (Permai), sejak September 2020 lalu.
Data Dinas Pariwisata Riau menunjukkan kunjungan wisatawan pada libur panjang Tahun Baru Imlek selama 3 hari di akhir Februari lalu, ada sebanyak 6.800 pelancong yang berkunjung dan menghabiskan waktu guna berlibur ke Dumai. Sedangkan sepanjang 2020 lalu, angka kunjungan wisata kota yang dijuluki Dumai Bersemai ini sempat menyentuh 140.000 kunjungan. Angka itu jauh naik signifikan dibandingkan 2018 yang di posisi 33.572 orang, serta periode 2017 yang hanya sebanyak 32.825 orang.
Dinas Pariwisata Provinsi Riau menyatakan dengan adanya dukungan infrastruktur seperti jalan tol, peningkatan sektor pariwisata setempat terus meningkat. Dampaknya dapat dirasakan setelah dioperasikannya jalan tol Permai secara resmi sejak tahun lalu.
Di samping sektor pariwisata, bisnis UMKM juga ikut merasakan dampak positif berkat hadirnya jalan tol Trans Sumatra tersebut.
L
Dengan jalan tol, penjualan oleh-oleh terus membaik. Salah satunya didorong kemudahan pengiriman produk dari Pekanbaru ke Dumai, atau sebaliknya, sehingga omset terus bertambah dan distribusi barang semakin cepat tanpa harus menginap seperti sebelum dibukanya jalan tol.
Kemudian disokong ramainya jumlah masyarakat yang berwisata antar dua daerah, dan tentunya berbelanja makanan olahan serta buah tangan yang menjadi khas daerah untuk dibawa pulang ke rumah.
Sekarang mereka mulai kewalahan memenuhi pesanan ini, mulai dari reseller, swalayan, sampai toko oleh-oleh yang semakin banyak dibuka. Kalau kami menilai, produksi sekarang sudah balik seperti sebelum pandemi. Bahkan lebih tinggi 50 persen lah dan memang bisnis UMKM ini sudah bangkit kembali.
Hutama Karya menyatakan telah menyiapkan 4 titik rest area di sepanjang Tol Pekanbaru-Dumai yang diprioritaskan untuk UMKM daerah sekitar, guna memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menjalankan usahanya, dan mengembangkan produk-produk unggulan setempat.
Hutama Karya juga telah berupaya memberikan pelayanan maksimal, agar fasilitas tempat istirahat yang disiapkan tersebut nyaman dan aman bagi pengunjung, sehingga menarik pengguna tol untuk semakin ramai singgah di rest area.
Beberapa rest area yang dimiliki Hutama Karya saat ini memiliki ornamen yang menunjukan simbol dari tiap daerahnya, dengan harapan dapat ikut menampilkan kebudayaan daerah sekitar, dimana kedepannya rest area yang dikelola oleh Hutama Karya diharapkan tidak hanya menjadi tempat peristirahatan, tetapi juga bisa menjadi simbol wisata daerah
Senior Executive Vice Presiden (SEVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Tjahjo Purnomo menjelaskan perseroan selaku pengelola JTTS, aktif berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah kota dan kabupaten yang dilalui oleh jalan tol yang dikelola.
Pihaknya menyebut telah bersinergi dengan pemda setempat guna memfasilitasi rest area yang diisi oleh UMKM binaan pemda. Hal ini bertujuan untuk dapat memajukan UMKM binaan terutama di sepanjang wilayah Jalan Tol Trans Sumatera.
Kedepannya, manfaat yang dirasakan pelaku pariwisata dan UMKM di Pulau Andalas bakal semakin meluas, seiring dengan rampungnya konstruksi dan dibukanya sejumlah ruas baru JTTS pada tahun ini.
Diantaranya, yakni Tol Bengkulu-Taba Penanjung (18 km), Tol Sigli-Banda Aceh seksi 2 Seulimun-Jantho (6 km), seksi 5 Blang Bintang-Kuto Baro (8 km) dan seksi 6 Kuto Baro-Baitussalam (5 km) serta Tol Pekanbaru-Bangkinang (31 km).
Sejak lama, PT Hutama Karya (Persero) selaku pemegang konsesi Tol Bakauheni-Terbanggi Besar janji memberi jatah sebesar 70 persen lahan kerja bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk menempati rest area di ruas ujung selatan Jalan Tol Trans Sumatera tersebut.
70 persen harus diisi UMKM. Rest area itu kalau luasnya 10 hektare (ha), 7 ha-nya nanti buat UMKM.
Adapun jumlah jatah itu terbilang jauh lebih besar dibanding arahan pemerintah, yang menghendaki adanya lahan khusus bagi UMKM di rest area tol guna mendorong peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 10/PRT/M/2018 tentang Tempat Peristirahatan dan Pelayanan pada jalan tol, pengelola tol diinstruksikan untuk menyediakan lahan bagi UMKM dan Koperasi sebesar 20 persen dan 30 persen di sebuah jalan tol yang baru beroperasi.
Lebih lanjut, Bintang mengatakan, kehadiran Jalan Tol Trans Sumatera seperti di ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar memiliki potensi ekonomi yang bagus, meski secara finansial belum baik.
Kendati begitu, ia percaya, keberadaan tol ini ke depannya akan sangat diperlukan untuk memindahkan arus logistik dari satu tempat ke tempat lain dengan lebih cepat.
Jadi kalau dulu orang jualan sayur enggak bisa bawa dengan sekian kilometer karena takut keburu layu, sekarang enggak lagi.
Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono menuturkan, berkaca pada pembangunan tempat peristirahatan di Tol Trans Jawa, Basuki meminta agar dibuatkan rest area tipe A dan B pada setiap jarak 20 km di ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar.
Rule of thumb-nya itu setiap 20 km ada rest area, itu (tipe) A dan B. Kalau A Itu yang ada pompa bensinnya, kalau B yang untuk kuliner, mushola, pasti ada. Itu tiap 20 km di dalam PPJT-nya ada rest area yang harus dikembangkan.
Dia pun menargetkan, pengerjaan tempat peristirahatan itu bisa rampung dan dapat segera beroperasi dalam kurun waktu sekitar 6 bulan.
Tahun 2020 lalu, PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) kembali memperoleh penghargaan terbaru pada ajang Teropong CSR Award (TCA) 2020 lalu. Pemberian penghargaan dilaksanakan secara virtual menggunakan aplikasi Zoom pada Rabu, 15 Juli 2020. Ajang ini merupakan salah satu bentuk penghargaan yang diberikan oleh media teropongsenayan.com kepada beberapa perusahaan BUMN dan Swasta yang telah berkontribusi dan memiliki komitmen besar dalam pelaksanaan program Corporate Social Responbility (CSR).
Dalam acara Teropong CSR Award (TCA) 2020, Hutama Karya telah berhasil meraih tiga kategori award, yaitu; Peduli Masyarakat, Peduli UMKM dan Peduli Bisnis Berkelanjutan. Penghargaan diterima langsung oleh Agus Kosasih selaku Manager CSR/PKBL di HK Tower dan diserahkan langsung oleh Ketua Panitia Teropong CSR Award 2020.
Ketua Juri TCA 2020 Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyampaikan bahwa penghargaan ini akan menjadi pendorong bagi perusahan-perusahaan di Indonesia untuk terus berinovasi, bersinergi dan meningkatkan brand mereka melalui berbagai program CSR. Program CSR tentunya akan sangat berperan dan membantu dalam upaya meningkatkan mutu serta mengembangkan kemampuan ekonomi masyarakat terutama dalam masa sulit seperti musim pandemi Covid-19 sekarang ini. Bamsoet juga menuturkan, selain meningkatkan bisnisnya, perusahaan juga harus dapat memberikan dampak bagi perekonomian, sosial dan lingkungan sekitar wilayah usaha mereka. Sekaligus berupaya memperkuat hubungan antara perusahan, pemerintah, dengan masyarakat berdasarkan prinsip saling menguntungkan (kemitraan).
Hutama Karya (Persero) telah berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam penanganan pencegahan pandemi Covid-19. Sebelumnya, terdapat berbagai aktivitas penyaluran bantuan yang telah direalisasikan oleh perusahaan selama pandemi Covid-19. Salah satu sektor yang terdampak cukup signifikan akibat pandemi Covid-19 adalah sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Oleh karena itu, Hutama Karya berupaya memberikan perhatian khusus bagi pemulihan UMKM yang terkena imbas pandemi Covid-19 dengan memaksimalkan penyaluran bantuan kepada mitra binaan dan UMKM lokal.
Selama pandemi hingga saat ini, Hutama Karya telah menyalurkan hampir 3 miliar rupiah kepada UMKM. Total UMKM yang dibantu yakni sebanyak 17 usaha yang tersebar di Jabobetabek dan Sumatera Utara. Harapannya melalui program penyaluran bantuan ini, Hutama Karya dapat mendorong UMKM lokal dan mitra binaan untuk dapat terus berproduksi dan menyeimbangkan daya jual usaha mereka. Berbagai UMKM di Sumatera Utara dikerahkan untuk memproduksi 23.000 pcs masker, diantaranya Alva Tailor (Gunung Sitoli, Nias), UMKM Bolang Toba (Laguboti), jaringan penjahit di Kecamatan Ajibata dan Kecamatan Balige di Toba dan Bless Konveksi di Kota Bandung.
Selain itu, PT Hutama Karya (Persero) melalui programnya berupaya mengembangkan dan mengelola UMKM di sekitar proyek Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) kepada masyarakat yang terdampak akibat pembangunan proyek strategis nasional sebagai upaya tanggung jawab sosial dan ekonomi agar kesejahteraan hidup masyakat sekitar dapat meningkat seiring dengan tersedianya infrastruktur yang semakin maju.
Dengan bersinergi dan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Lampung, Lembaga Dinas dan Kepala Desa setempat. Hutama Karya berupaya menopang perekonomian daerah dengan cara mengoperasionalkan beberapa rest area tepatnya di Rest Area KM 215 B dan KM 234 A ketika ruas tol sudah mulai beroperasi. Dengan adanya dukungan dari pemerintah merupakan suatu bentuk upaya perusahan untuk dapat menjalin relasi dan kepercayaan dalam rangka membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Saat ini, di Rest Area Lampung setidaknya terdapat 58 unit tenan UMKM di Rest Area 215 dan 32 unit di Rest Area 234. Diharapkan dengan adanya rasa tanggung jawab sosial dan ekonomi dari Hutama Karya, masyarakat dapat turut serta menikmati kehidupan yang memadai.
Dengan diraihnya penghargaan Terpong CSR Award (TCA) 2020 ini, mendorong PT Hutama Karya (Persero) untuk terus melaksanakan program CSR dan PKBL yang lebih baik dan bersinergi ke depannya dengan memberikan inovasi dan solusi untuk Indonesia maju.(budi nugraha/79)

BACA JUGA :  Di Atas Perahu Nelayan, Menhub Budi Karya Dengar Aspirasi Nelayan Patimban*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *