Kalau Bukan R Soeprapto, Basrief Arief Adalah Bapak Kejaksaan RI

Saya, kali pertama bertemu langsung dengan Basrief Arief di ruang kerja Jaksa Agung RI pada Jumat, 22 November 2013. Kala itu, saya sebagai Ketua Forum Wartawan Kejaksaan Agung (Forwaka) beserta pengurus diberi kesempatan beraudiensi dengan jajaran pimpinan korps adhyaksa saat itu. Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Jaksa Agung RI, Andhi Nirwanto; Jaksa Agung Perdata dan Tata Usaha Negara (JAM Datun) yang sekarang ini menjadi Jaksa Agung RI ke 24, Sanitiar Burhanuddin; Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Widyo Pramono; Jaksa Agung Muda Pembinaan, Bambang Waluyo; Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Mahfud Manan; Jaksa Agung Muda Pengawasan, Marwan Efendi (almarhum); serta Kepala Pusat Penerangan Hukum yang saat ini menjabat Wakil Jaksa Agung RI, Setia Untung Arimuladi.

Audiensi itu bukanlah sekedar seremonial belaka, karena sebelumnya atau setelahnya tidak pernah dilakukan oleh pejabat yang meneruskannya. Dan, itu bisa jadi tonggak sejarah sinergisitas antara Kejaksaan RI dengan jurnalis. Di mana, antara jurnalis di lingkungan Kejaksaan Agung dengan pimpinan Kejaksaan RI mempunyai semangat yang sama dengan profesinya masing-masing yakni kesejahteraan yang seutuhnya yang mencakup, edukasi, kritis, kontrol, independensi dan hiburan. Lebih dari itu, terjalin hubungan kekeluargaan, tidak lebih dari hubungan seorang bapak dengan seorang anak.

Sinergisitas yang dianalogikan layaknya hubungan keluarga itu mencuat karena perbedaan usia para pimpinan Kejaksaan Agung, khususnya Jaksa Agung RI, Basrief Arief dengan pengurus Forwaka pada saat itu. Di mana, usia jajaran pengurus Forwaka saat itu tidak lebih tua dengan usia anak Basrief Arief yang pertama, Abraham Arief. Lebih dari itu, ungkapan itu bermakna sekritis-kritisnya berita ataupun kemitraan harus tetap saling menjaga marwah dan wibawa masing-masing.

“Tolong ini, niat baik dan program teman-teman Forwaka sangat baik agar bisa direalisasikan,” ujar Basrief sambil menunjuk ke arah saya dan wajahnya menatap wajah jajaran yang duduk di samping kanan dan kirinya.

Kedekatan dengan kalangan jurnalis rupanya terbangun sejak pria kelahiran Tanjung Enim, Sumatera Selatan, 1947 itu menjabat Kepala Bagian Humas yang kemudian bersulih nama menjadi Kepala Pusat Penerangan Hukum. Tentu, karena kepiawaiannya menciptakan suasana persahabatan nan bersahaja. Basrief membangun kedekatan tanpa jarak, ia tidak melarang wartawan menunggu di depan pintu kantornya yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Dan, tidak ada petugas ataupun jajaran pegawai Kejaksaan yang berdiri di depan wartawan untuk membatasi jarak ataupun mengatur pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Apalagi petugas keamanan yang membawa senjata api laras pendek yang menonjol di pinggang atau senjata laras panjang yang dipamerkan, tidak ada. Aman dan nyaman karena Kejaksaan RI lembaga sipil, bukan militer atau kepolisian.

BACA JUGA :  KPK, Bahtera Nuh yang Dilubangi dari Dalam

Basrief komitmen fungsi dan peran pers optimal dan terkelola dengan baik, bukan sekedar dengan institusi Kejaksaan RI, melainkan dengan pribadinya selaku pimpinan Kejaksaan RI. Ia menyadarinya, sebagai Jaksa Agung RI perlu kontrol sosial langsung dari pers yang lebih independen dibandingkan jajaran dibawahnya, bukan sekedar pencitraan. Sehingga ia rutin memberikan ruang kepada wartawan tiap pekan untuk mendapatkan informasi pembanding yang telah didapatkannya. Tentu, bukan sekdar informasi pencitraan yang disampaikannya, apalagi yang membuat gaduh keadaan.

Basrief nyaris selalu menanggapi pertanyaan dan informasi dari wartawan, meskipun jawabannya tidak selalu sesuai dengan pertanyaan.

“Ah bisa saja kamu, Ahi (nama wartawan Pos kota) mana Ahi?,” ujar Basrief sambil tersenyum diplomatis ketika tidak berkenan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan wartawan.

“Ah Bapak ini, bisa saja ngeles,” ujar wartawan disusul dengan tawa bersama.

Lalu, apakah Basrief memilih-milah pertanyaan wartawan agar citra institusinya mengkilap tanpa cela atau noda? Tidak. Raut mukanya tetap bersahabat ketika wartawan beramai-ramai mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling berkaitan, atau kasus yang mangkrak karena bertahun-tahun belum terselesaikan. Apalagi menyembunyikan saksi, tersangka atau terbitnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Padahal, pada saat itu belum era media sosial yang sangat lebih mudah menyembunyikan informasi. Semua itu dilakukan semata-mata sebagai pertanggungjawaban kepada publik dan pentingnya peran dan fungsi pers yaitu, edukasi, kontrol, advokasi dan hiburan.

Lalu, apa prestasi selama kepemimpinan Basrief?. Prestasinya selama lima tahun menjadi pemimpin lembaga pengendali perkara itu sangat banyak dan datanya cukup lengkap. Tapi tidak perlu ditulis di sini karena butuh beratus-ratus halaman. Prestasi yang sangat fundamental dalam pemberantasan korupsi misalnya, Basrief tidak hanya konsentrasi pidana badan kepada koruptor. Lebih dari itu, fokus ke pemulihan kerugian negara atau hasil kejahatan dengan melacak asset-aset hasil kejahatan. Pusat Pemulihan Aset (PPA) lahir di era kepemimpinan Basrief, dan hasilnya kerugian negara ratusan triliunan rupiah telah berhasil dipulihkan.

BACA JUGA :  Ketika Negara Lumpuh Melawan Djoko Tjandra

Menyadari, masyarakat Indonesia masih tidak sepenuhnya mengerti hukum karena bukan latar belakang hukum maka Basrief lebih mengedepankan edukasi dalam penegakan hukum. Maka terlahirlah tag line Kejaksaan RI yakni “Kenali Hukum dan Jauhi Hukuman” serta meraih penghargaan sebagai institusi penegak hukum paling terbuka dalam keterbukaan publik.

Contoh lainnya, yakni Program Pembaharuan Kejaksaan yang dilaksanakan tahun 2014  yaitu Museum Kejaksaan RI. Di mana, dalam rangka memupuk penghayatan terhadap korps dan jiwa korsa khususnya mengenal lebih dalam peranan institusi Kejaksaan dalam perjalanan sejarah bangsa, maka pada tanggal 11 Agustus 2014 telah diresmikan museum Kejaksaan RI yang berlokasi di Badan Diklat Ragunan, Jakarta Selatan. Keberadaan museum ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk penanaman dan pembentukan jati diri terutama bagi insan Adhyaksa muda sehingga memiliki Kebanggaan sebagai bagian dari Korps Adhyaksa.

Pada tanggal 12 september 2014 telah diresmikan beroperasinya Kawasan Pusat Kegiatan Pengembangan dan Pembinaan Terpadu Sumber Daya Manusia (SDM) Kejaksaan “Adhyaksa Loka” dan Rumah Sakit Umum Adhyaksa oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Keberadaan kedua sarana tersebut kiranya dapat dimanfaatkan secara maksimal dan tepat sasaran untuk meningkatkan Kualitas SDM Kejaksaan sekaligus mendukung fungsi penegakan hukum yang diemban oleh Korps Adhyaksa.

Kesejahteraan Pegawai

Upaya Korps Adhyaksa dalam memperjuangkan perbaikan tunjangan profesi telah memperoleh apresiasi dari pemerintah dengan diterbitkannya Peraturan Presiden nomor 117 tahun 2014 tanggal 17 September 2014 tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Jaksa yang mengatur kenaikan cukup siginifikan. Bersamaan dengan itu, telah pula diterbitkan peraturan presiden nomor 133 tahun 2014 tanggal 17 oktober 2014 tentang penyesuaian tunjangan kinerja pegawai kejaksaan RI, yang diharapkan dalam waktu tidak terlalu lama lagi dapat terealisasi, sehingga dalam waktu tidak terlalu lama lagi dapat dinikmati secara menyeluruh bagi segenap jajaran Kejaksaan baik Jaksa maupun Tata Usaha.

BACA JUGA :  Pahlawan Kemanusiaan Perlu Dimanusiakan

Demikian pula pada tanggal 20 Agustus 2014 telah dilakukan peletakan batu pertama Pembangunan Rumah Susun Sewa (RUSUNAWA) bagi pegawai Kejaksaan yang terletak di Kedoya Jakarta Barat , semoga kedepan pembangunan rusunawa dapat dilakukan di setiap daerah sebagai pemenuhan kesejahteraan.

Lalu, tugasnya sebagai seorang pemimpin untuk melahirkan pemimpin. Setidaknya, Basrief di akhir masa tugasnya sebagai Jaksa Agung RI pernah menyampikan pernyataan dan harapan.

“Jaksa Agung mendatang sebaiknya junior saya,” ujar Basrief saat itu seraya mengusap kedua kumisnya yang lebat.

Alasan juniornya lebih tepat adalah karena lebih paham anatomi Kejaksaan RI. Pertanyaanya, apakah yang dimaksud juniornya tersebut adalah Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara, Sanitiar Burhanuddin yang juga punya anatomi tubuh yang sesuai dengan petunjuk Basrief, berkumis lebat. Jawaban yang tepat adalah, bukan siapa yang memimpin tetapi prestasi yang diukir. Jadi, Sanitiar Burhanuddin-lah saat inilah yang mempunyai kesempatan untuk mengukir prestasi korps adhyaksa untuk bangsa.

Tentu sesuai dengan teori manusia mempunyai sisi terang dan sisi gelap. Dan kita sebagai orang yang telah ditinggalkan mempunyai kewajiban untuk mengenang kebaikan-kebaikan yang dapat menjadi teladan. Selamat Jalan Bapak, kami saksi kebaikan-kebaikanmu. (Nurokhman/ Wartawan Suara Merdeka/Ketua Forwaka 2013/2014)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *