Ada Tol Trans Sumatera, Pungli Pun Hilang Perekonomian Kian Berkembang

Iring-iringan kendaraan Presiden RI Joko Widodo melintasi Gerbang Tol Simpang Pematang Lampung. (Foto istimewa)

PULAU SUMATERA memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Dalam setiap tahun, pulau yang dihuni sekitar 58,6 juta jiwa ini selalu menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kedua di Tanah Air setelah Pulau Jawa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020, Sumatera berkontribusi sebesar 21,36 persen dalam PDB, di bawah Pulau Jawa sebesar 58,75 persen.

Dengan kontribusi yang signifikan ini, tak heran jika infrastruktur di Sumatera terus digenjot supaya perekonomian di wilayah itu semakin tumbuh dan berkembang.

Salah satu infrastruktur yang menjadi perhatian pemerintah adalah jalan tol. Mulai dari Lampung hingga Aceh, diharapkan bisa tersambung jalan tol untuk mendorong pengembangan kawasan di pulau tersebut.

Selain itu, keberadaan jalan tol juga bisa memperlancar lalu lintas serta memperlancar pendistribusian barang dari tempat asal ke kota tujuan yang manfaatnya bisa menunjang pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, pembangunan jalan tol sebuah keniscayaan bagi Indonesia yang memiliki luas daratan hingga 1,9 juta kilometer.

Dari sinilah, kenapa jalan tol menjadi prioritas dan proyek strategis nasional di era pemerintahan Joko Widodo sejak Kabinet Kerja hingga sekarang Kabinet Indonesia Maju.

Dan dari sini pulalah, tol yang menghubungkan kawasan di Sumatera, yaitu Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.704 kilometer dibangun dan dipercayakan kepada PT Hutama Karya (HK).

PT HK, salah satu BUMN yang bergerak di bidang jasa konstruksi, pengembangan dan penyedia jasa jalan tol ini siap menghubungkan Lampung hingga Aceh melalui JTTS dengan 24 ruas jalan berbeda pada 2024 mendatang.

Berkat kerja keras HK, sudah enam ruas JTTS yang telah beroperasi, antara lain Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung, Bakauheni-Terbanggi Besar, Palembang-Indralaya, Medan-Binjai seksi 2 dan 3, Pekanbaru-Dumai, dan Sigli Banda Aceh seksi 4.

BACA JUGA :  Tolak Angin dan Kuku Bima Energi Terima Penghargaan Indonesia WOW Brand Award 2021.

Dengan beroperasinya jalan tol itu, warga pun senang karena bisa mempersingkat waktu perjalanan dan merasa nyaman serta aman lantaran terhindar dari pungutan liar (pungli) yang sering dijumpai di jalan Lintas Timur. Kini, pungli pun hilang.

“Sebelum ada JTTS, kondisi jalanan rusak dan saya khawatir dengan keselamatan saya karena pungli dan tindak kriminal selalu mengintai. Setelah JTTS beroperasi, jauh kenyamanan dan ketenangan hati jadi hal penting,” ujar Mono Triyadi, seorang driver logistik dikutip dari Channel Youtube Hutama Karya dan dilihat Suara Merdeka, Sabtu (20/3).

Perasaan senang juga disampaikan Karso Sumito, pedagang durian. Ia menuturkan, keberadaan jalan tol tersebut sangat membantu dan menunjang distribusi hasil dagangannya kepada pembeli. “Jalan tol benar-benar bantu saya, barang dagangan saya harus cepat sampai pembeli, masih bisa dinikmati dan masih segar. Dulu pernah dua kali gagal antar gara-gara padat di jalanan, sebagian besar dagangan saya rusak di jalan dan saya suka putus asa,” ungkap Karso.

“Belum lagi lama di jalan, kangen keluarga di rumah. Kalau pulang, sudah pada tidur, padahal besok pagi-pagi antar barang lagi. Sekarang (setelah ada JTTS) serba cepat dagangan sampai ke konsumen dan masih segar dan tidak tergantung cuaca, sehingga pendapatan meningkat. Terpenting bisa cepat sampai rumah, ketemu anak dan keluarga saya, jauh lebih bahagia,” cerita Karso Sumito.

Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Bakauheni – Terbanggi Besar. (Foto Hutama Karya)

Bagi Bianca Lorita, warga Jakarta yang suka piknik, keberadaan jalan tol di Sumatera bisa mempersingkat waktu perjalanan. Ia bersama keluarga, waktu itu hendak bepergian ke Palembang mengendarai mobil pribadi.

“Waktu perjalanan hanya 4 jam dalam keadaan santai dari Bakauheni ke Palembang. Kalau dulu kan bisa lebih lama. Selain itu bisa melihat pemandangan laut dan kapal-kapal yang di dekat pelabuhan yang dari Palembang ke Bakauheni. Kalau dari Bakauheni ke Palembang, pemandangan perkebunan sawit, karet dan persawahan,” tutur Bianca Lorita.

BACA JUGA :  Proyek yang didanai Kanada Dukung Peran Pemimpin Perempuan Indonesia selama Pandemi COVID-19

Pembangunan jalan tol juga memberikan peluang ekonomi kepada pedagang di Rest Area, seperti yang diutarakan Anna, salah seorang penjual makanan. Ia menjajakan dagangan selalu laku ketika banyak pengguna jalan yang beristirahat di lokasi tersebut. “Seneng sih, karena dengan usaha ini ekonomi jadi lancar, enak gitu lah,” kata Anna.

Melihat banyaknya manfaat yang didapat dari pembangunan JTTS, sudah saatnya semua pihak mendukung dan mengawal proyek strategis nasional ini yang dikerjakan PT HK ini. Sebab, kemajuan perekonomian Sumatera sangat penting untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan di kawasan ini. Jangan sampai pertumbuhan terhenti karena bisa menghambat perekonomian warga.

Hal itu pula yang diinginkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI ini berharap perekonomian di Bumi Melayu terus bangkit. Presiden meminta agar sentra pariwisata, kawasan industri, sentra pertanian dan sentra perkebunan disambungkan dengan jalan tol dan diberikan akses penghubung. Dengan demikian, manfaat ekonominya akan bisa maksimal.

Maka sudah sepantasnya Presiden Jokowi meneken Perpres Nomo.117 Tahun 2015 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dalam rangka pengembangan kawasan di Pulau Sumatera. Karena sudah saatnya Sumatera bangkit, Bumi Melayu mengejar Jawa yang selalu unggul menyumbang PDB setiap tahun.

(Arif M Iqbal)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *