Waspada Varian Baru Corona B1351

Oleh Anies

SETELAH setahun pandemi Covid-19 di Indonesia, diumumkan telah masuk varian baru virus Corona B117. Kini WHO juga mengeluarkan peringatan untuk virus corona varian B1351 dari Afrika Selatan pada Oktober lalu dan tidak kalah berbahaya.

Kini virus itu mulai menyebar ke beberapa negara lainnya termasuk Asia, meskipun belum menyebar ke 60 negara seperti B117 asal Inggris. Pandemi Covid-19 yang berlangsung lebih dari satu tahun ini telah diwarnai kehadiran varian baru virus corona penyebab Covid- 19 tersebut. Maka bukan hanya virus corona B117 yang harus diwaspadai, melainkan juga virus Corona B1351.

Apa sebenarnya virus Corona B1351 ? B1351 adalah varian virus corona yang berasal dari Afrika Selatan. Kini kasusnya meroket di Filipina hingga mencapai 52 kasus. Karena itu, Indonesia harus berhati-hati pada varian ini, mengingat kasusnya telah ada di sekitar kita.

Transportasi antarkedua negara yang baik, memungkinkan virus tersebut tidak lama lagi bisa menyebar ke negara kita. Varian ini mempunyai beberapa mutasi yang terbukti melemahkan efek perlindungan pada beberapa vaksin.

Virus Corona B1351 merupakan varian asal Afrika Selatan yang belakangan kasusnya melonjak di Filipina. Dia merupakan varian yang mengumpulkan mutasi yang banyak dan memungkinkan untuk escape antibodi dan sudah dibuktikan di dunia. Seperti diketahui, peneliti melakukan uji coba terkait vaksinasi vaksin Covid-19 Novavax di Afrika Selatan.

Hasil studi menunjukkan penurunan efektivitas vaksin dari 86% menjadi 60%. Beberapa vaksin di dunia ini efikasinya turun terhadap varian ini, meskipun terhadap varian B117 masih relatif lebih baik.

Diharapkan surveilans genomik Indonesia harus bisa melihat varian- varian di dalam negeri. Saat ini jumlahnya ada 446 full genome yang diteliti. Perlu diidentifikasi apakah ada varian-varian lokal yang berpotensi seperti itu, tentu saja menjadi pekerjaan rumah.

BACA JUGA :  Ketika Negara Lumpuh Melawan Djoko Tjandra

Pertanyaan yang layak diajukan, apakah virus Corona B1351 ini memiliki gejala yang berbeda dari virus corona strain sebelumnya? Pada hakikatnya gejalanya nyaris sama dengan Covid-19 varian sebelumnya. Belum ditemukan gejala yang khas, gejala yang timbul tergantung pada kondisi masing-masing pasien. Antara lain ada demam, batuk, sesak napas, diare serta kehilangan penciuman.

Meskipun demikian, saat artikel ini ditulis memang virus Corona B1351 atau strain dari Afrika Selatan ini belum ditemukan di Indonesia. Namun siapa dapat memperkirakan dalam hitungan hari telah menyebar di tengahtengah kita? Ingat terhadap kasus virus Corona B117 yang ditemukan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat dan disinyalir ada pula di Jawa Tengah.

Protokol Kesehatan

Untuk mengatasi terinfeksi akibat Covid-19 strain B1351, protokol kesehatan mutlak harus diterapkan. Juga secara lengkap sekarang kita harus menerapkan protokol 5M yaitu, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Ada saran untuk menggunakan masker ganda alias double masker.

Dengan adanya mutasi virus yang disebut-sebut lebih ganas dan lebih cepat menular ini, apakah double masker mutlak harus diterapkan? Sebenarnya tak ada keharusan untuk double masker. Memakai masker standar sudah cukup, yang penting cara pemakaiannya sudah benar.

Apabila ingin memakai double masker, pemakaiannya adalah masker bedah di dalam sedangkan masker kain di luar. Sebenarnya ada kekhawatiran orang-orang yang telah divaksin di Afrika Selatan bisa kembali terjangkit Covid-19 seperti orang yang tanpa infeksi sebelumnya.

Temuan ini menandakan, meskipun pernah terjangkit Covid-19 seseorang bisa kembali terinfeksi virus corona varian B1351. Konon laporan dari Afrika Selatan menunjukkan bahwa orang yang pernah mengalami infeksi sebelumnya dapat terinfeksi lagi, seperti orang yang tanpa infeksi sebelumnya. Vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca gagal memberikan perlindungan terhadap gejala ringan hingga sedang terhadap varian B1351 dari Afrika Selatan ini.

BACA JUGA :  Hidup Harus Lebih Dari Sekedarnya.

Uji klinis di Afrika Selatan menunjukkan, meskipun vaksin sukses melawan varian lama SARS-CoV- 2, namun tidak efektif terhadap varian baru sehingga dibutuhkan modifikasi. Penelitian ini dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada 16 Maret 2021. Jadi bukti pertama yang menunjukkan efikasi atau kemanjuran vaksin yang kini dipakai di banyak negara, tidak bisa mencapai ambang minimal kemanjuran 60 persen terhadap Covid-19 yang disebabkan varian B1351.

Kemunculan berbagai varian Covid-19 menimbulkan kekhawatiran bisa berdampak terhadap efikasi vaksin yang tersedia saat ini. Untuk itu, sebagian produsen sudah mulai melakukan modifikasi terhadap vaksin sehingga bisa melawan varian-varian tersebut. Hal yang kemudian disebut berpotensi jadi tantangan adalah proses panjang pengujian agar vaksinvaksin yang sudah dimodifikasi bisa mendapat izin.

Munculnya varian baru virus corona juga telah menimbulkan kekhawatiran bahwa vaksin dan perawatan yang dikembangkan berdasarkan jenis virus sebelumnya ada kemungkinan tidak dapat berfungsi dengan baik. Meskipun hasil penelitian menunjukkan infeksi ulang dapat terjadi pada individu yang telah disuntik vaksin, perlindungan yang diberikan oleh Sinovac terhadap infeksi corona yang parah dapat menimbulkan mekanisme lain dalam sistem kekebalan tubuh.

Sampai saat ini tidak ada bukti bahwa vaksin Covid-19 yang sudah tersedia sama sekali kehilangan efektivitasnya. Vaksin tersebut masih bisa memberikan efek perlindungan, terutama mencegah kasus parah dan kematian.(34)

Prof Dr dr Anies MKes PKK, guru besar Fakultas Kedokteran dan Sekretaris Universitas Diponegoro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *