Dirjen Diksi Tekankan SMK Pusat Keunggulan Bukan Bentuk Sekolah Favorit

Dirjen Diksi Kemendikbud, Wikan Sakarinto (SMJkt/Prajtna Lydiasari)

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto menekankan bahwa program SMK Pusat Keunggulan bukan bertujuan untuk membentuk sekolah favorit atau menjadikannya “menara gading” bagi sekolah lainnya. Namun, sebagai tempat bersama untuk mengembangkan SMK yang ada di lingkungannya.

“Intinya, adanya kolaborasi sekolah yang ada di sekitarnya, SMK Pusat Keunggulan menjadi pengimbas bagi SMK lain,” tekan Wikan.

Wikan menjelaskan latar belakang dikeluarkannya kebijakan Program Merdeka Belajar ke-8: SMK Pusat Keunggulan. Menurutnya, selama ini Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan SMK terkait pemenuhan kebutuhan tenaga kerja.

“Untuk itu, diperlukan adanya solusi yang komprehensif untuk menjawab tantangan dalam rangka pembenahan kondisi SMK sejalan dengan kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.

Pada 2019, Kemendikbud memulai transformasi pengembangan SMK, yakni program Revitalisasi SMK yang ditujukan ke 300 sekolah. Fokusnya pada peningkatan mutu dan kualitas sarana dan prasarana pembelajaran sesuai dengan standar dunia kerja.

Lalu pada 2020, terdapat program SMK Center of Excellence (CoE) yang menyasar  491 sekolah dan 4.586 guru serta kepala sekolah dengan fokus pada pengembangan peningkatan pembelajaran dunia kerja, kompetensi guru, dan kepala SMK, serta sarana dan prasarana.

Kemudian, pada 2021 ini, untuk menjawab tantangan dan menyempurnakan program sebelumnya, Kemendikbud meluncurkan program SMK Pusat Keunggulan. Program ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang terserap di dunia kerja atau menjadi wirausaha melalui keselarasan pendidikan vokasi yang mendalam dan menyeluruh dengan dunia kerja.

Sekolah yang terpilih dalam program SMK Pusat Keunggulan diharapkan menjadi rujukan serta melakukan pengimbasan untuk mendorong peningkatan kualitas dan kinerja SMK di sekitarnya.

“Jadi, tidak sekadar MoU tanda tangan, foto-foto, masuk koran, namun mencakup seluruh unsur 8+i sehingga pendidikan vokasi benar-benar menikah dengan industri,” terangnya.

BACA JUGA :  Rekor dalam Sejarah, Bukti Guru Honorer dapat Kesempatan Luas dan Adil

Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), M. Bakrun mengatakan bahwa saat ini sudah ada 3000 lebih SMK yang mendaftar. Ditjen Diksi masih terus dalam proses seleksi secara transparan bersama akademisi dan forum rumah vokasi untuk membuat seleksi ini berjalan dengan baik.

Terkait kurikulum, Bakrun mengatakan bahwa SMK Pusat Keunggulan akan memakai Kurikulum Merdeka agar sekolah bisa mengembangkan sendiri kompetensi keahlian yang lain. Dalam kurikulum ini fleksibilitasnya sangat tinggi, sehingga kalau tidak sesuai, Kemendikbud tetap terbuka dan memberi alternatif untuk beralih ke program keahlian lain.

“Dulu ada 149 spektrum keahlian, itu terlalu beragam. Sekarang sudah kita sederhanakan jadi 59, kita naikkan menjadi program keahlian. Sehingga beberapa yang sudah ketinggalan zaman akan coba di situ dia bisa ngetwist ke mana. Karena ketika spektrum itu bidangnya sudah nggak laku lagi akan berat,” katanya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *