Di Manakah Allah Berada?

Ini

DAF (SM/Bb).Kajian Hermeneutika Menuju Penyusunan buku ‘Ilmu Nalar’.

Oleh Doddi Ahmad Fauji.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Jika kita beriman kepada Allah, suka tak suka, harus mencari tahu, di mana Allah berada. Ada yang mengatakan, setidaknya almarhum H. Zainuddin MZ, bahwa Allah itu tidak berada di mana-mana, sebab Allah berada di mana-mana.

Pernyataan Kyai Zainuddin ini tentu bersifat seperti ayat mutsyabihat (simbolik), yang perlu dikaji dengan ilmu mantik, setidaknya dengan ilmu nalar, atau yang paling sederhana harus dikaji dengan akal, sebab berkali-kali Allah dalam Quran bahkan Injil bertanya; Afala tataqilun? (Apakah kalian tidak berakal)?

Orang yang akalnya tak jalan, sepertinya tidak wajib menjalankan ajaran agama, dan tidak dikenai hukum. Ini mengacu pada hadits yang pertama kali disampaikan oleh paman saya, di Masjid Assunnah yang waktu itu dindingnya masih dari bilik. Paman saya, Kiyai Komarudin Shaleh, menerangkan hadits yang diriwayatkan oleh Amad dan ash-haabus-sunan. Bunyinya seperti di bawah:

Rufi’al qalam ‘an tsalaatsin: ‘aninna’im hatta yastayqidza, wa ‘anish shabiyyi hatta yahtalima, wa ‘anil majnuuni hatta ya’qila” (H.R. Ahmad dan ash haabus sunan…) Artinya: Bahwa Nabi saw bersabda: …dibebaskan dari tugas (taklif) pada tiga golongan yaitu; orang tidur hingga ia bangun; anak-anak hingga ia bermimpi (baligh); dan orang gila hingga ia sadarkan diri.

Nah, kata ‘gila’ dan ‘sadar diri’, termasuk ajaran yang simbolik juga, yang mesti ditafsir dengan akal dan seperangkat ilmu. Menurut para psikolog dan psikiater, gila itu ada tingkatannya, ada stadium-nya.

Gila paling parah adalah bila sudah masuk ke stadium 4, yang sulit diajak bicara, dan malah suka powe (posisi wenak). Pernah mungkin melihat orang gila stadium 4, dengan pakaian compang-camping, mengais makanan di tong sampah, atau bertapa di pinggir jalan. Namanya juga gila, syah-syah saja. Tentu mereka tidak dikenai hukum.

Tapi gila dalam stadium paling rendah, yaitu stadium 1, banyak jenisnya. Manusia yang kurang ‘sa-eundan’: tak punya ras-rasan dan tak punya lilingeran, adalah masuk ke dalam kategori gila juga, mungkin dengan stadium rendah. Haruskah mereka menjalankan hukum?

BACA JUGA :  Budi Darma; Guru yang Sabar, Telaten dan Tawadhu

Nah, bahkan manusia yang tidak memikirkan di mana Allah berada, tak sadar Allah berada, menurut saya, termasuk orang gila juga. Maka dari itu, kita mesti mencari tahu, Allah itu berada di mana?

Secara taklid (turut pendapat para ulama) dengan mudah kita berpendapat, Allah bertahta di Arasy, karena dalam Quran pun disebutkan, sesungguhnya Allah yang maha Pengasih, bertahta di arsys-tawa, seperti dituturkan dalam surat Al-Mulk ayat 16:

Juga empat Majhab paling banyak pengikutnya dalam ajaran Islam, yaitu mazhab Syafi’iah, Hanafiah, Hambali, dan Maliki bersepakat, Allah ber-tahta di Arasy.

Dan, disebutkan dalam fatwa-fatwa para imam pendiri mazhab itu, bahwa ‘Arasy’ berada di langit. Nah, pertanyaan berikutnya, di manakah langit berada? Sementara ini, bisa dijawab dengan singkat, langit berada di atas, maka arasy pun berada di atas, sebab arasy berada di langit. Ya, langit dan arasy pada akhirnya berada di atas manusia.

Nah, masalahnya, apa yang kita sebut langit memang berada di atas, tapi kaki kita menginjak tanah, menginjak bumi, dan bumi itu berbentuk bulat, serta berputar. Disebabkan bumi itu bulat dan berputar, maka pada saat ini, apa yang kita sebut atas, akan menjadi bawah setelah 12 jam bumi berputar.

Jadi, langit pun ternyata ada ‘di bawah’ kaki kita dan di atas kaki kita selamanya, dengan kaya lain, kita berada di dalam langit, sebab ke atas, ke bawah, ke kanan dan ke kiri kita terdapat langit, sedangkan Allah bertahta di arasy, dan arasy berada di langit.

Itulah alasan kenapa Kiyai Zainuddin MZ mengatakan Allah tidak ada di mana-mana, sebab Allah ada di mana-mana.

Dalam dunia modern, bumi itu bulat, pertama kali dideklarasikan oleh astronom Copernikus, kemudian diteruskan oleh kiyai Galilei Galileo. Baik pendapat Copernicus maupun Galileo, bertentangan dengan pendapat para Pendeta, Uskup, bahkan Paus dari Kristen Ortodox di Eropa. Akhirnya, Copernicus dimusuhi dan dianggap sesat, bahkan kiyai Galilei Galileo dihukum mati.

BACA JUGA :  Klik Film Sajikan Rangkaian Film JAFF 2020.

Sebetulnya Quran sudah memberikan sinyalemen bahwa bumi itu bukan satu-satunya benda langit. Bumi itu berada di dalam langit.

Quran Surat Arahman menjelaskan dengan gamblang bahwa benda-benda langit itu beredar pada porosnya masing-masing. Namun, ada manusia yang kerap butuh pembuktian, sebelum pecaya begitu saja. Maka, berangkatlah astronom asal Saudi Arabia ke langit, untuk melihat dari jauh, bahwa bumi itu bulat.

Dikutip dari Solopos.com, astronaut muslim asal Uni Emirat Arab, Hazza Al Mansouri, baru kembali dari International Space Station (ISS), dan menyatakan bentuk bumi memang bulat. Sebelumnya, astronaut asal Malaysia, Dr. Sheikh Muszaphar Shukor juga mengutarakan hal serupa.

Shukor adalah dokter bedah ortopedi dan juga astronaut pertama asal Malaysia. Pada Oktober 2007, berkat kerja sama antara Malaysia dan Rusia, Shukor terbang ke ISS menggunakan Soyuz TMA-10, dan menyaksikan pemandangan spektakuler planet ini.

Masih menurut Solopos.com, sebelum Hazza Al Mansouri dan Dr. Sheikh Muszaphar Shukor, beberapa astronaut muslim lainnya telah membenarkan Bumi itu bulat. Mereka adalah Hazza Al Mansouri asal Uni Emirat Arab, yang merupakan astronaut pertama dari negaranya, dan juga dari kawasan Arab yang mengangkasa di International Space Station (ISS) selama 8 hari, sebelum kembali ke Bumi belum lama ini.

Pencapaiannya menjadi headline di Uni Emirat Arab. “Hazza Al Mansouri telah kembali dengan selamat setelah mengunjungi ISS. Selamat bagi rakyat UAE untuk pencapaian bersejarah ini,” tulis Sheikh Mohamed bin Zayed, pangeran Abu Dhabi.

Prestasi Hazza pun diperingati dalam bentuk koin dan perangko. Menilik riwayatnya, Hazza lahir pada 13 Desember 1983 di Abu Dhabi. Pada masa kecil, dia senang melihat bintang dan meteor jatuh di padang gurun Liwa. Hazza kecil rupanya sudah bermimpi menjadi pilot dan senang membaca tentang antariksa atau perjalanan ke luar angkasa.

BACA JUGA :  Asli-Palsu dalam Seni Rupa.

Beranjak dewasa, dia pun kuliah di jurusan penerbangan di Khalifa bin Zayed Air College dan lulus pada 2004. Memenuhi cita-citanya, Hazza menjadi pilot Angkatan Udara UAE. Dia berlatih di Amerika Serikat dan menerbangkan jet tempur F-16.

Lalu ada astonaut Sultan bin Salman Al Saud, yang lahir 27 Juni 1956 di Riyadh, Arab Saudi, yang tercatat sebagai muslim pertama dan anggota kerajaan Arab pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa. Dia dipilih NASA sebagai spesialis muatan untuk misi pesawat ulang-alik STS-51G.

Nah, orang Arab pun kini bekerja sama dengan NASA, karena mereka juga meyakini bahwa Quran bukan hanya buah kelapa yang jadi mainan monyet, yang hanya berisi kata-kata tanpa pembuktian. Quran bukan isim atau ajimat. Mengamalkan Quran, bukan hanya melapalkannya seperti burung beo, namun harus di-Iqro.

Tapi apa artinya Iqro? Bisakah seseorang dusebut sudah iqro bila tidak tahu isi dan maknanya. Maka dari itu, warga Indonesia yang kebanyakan beragama Islam, akan makin tertinggal dari negara modern, bila menempatkan Quran hanya semacam bacaan yang harus dirapal seperti isim, jangjawokan, singlar, mantra dan lain-lain. Quran adalah hudal-lil mutaqin (petunjuk bagi orang takwa). Tapi Quran tak akan bisa jadi petunjuk bila tidak bisa dipahami isinya, serta bila yang membacanya ternyata tidak sadar.

Saya akan kembali pada paparan di manakah Allah berada?

Jawabannya tak cukup hanya bertaklid dengan mengatakan Allah ada di arasy, dan arasy ada di langit, dan langit ada di atas. Perlu penjelasan lebih detail dengan disertai referensi yang bisa dipercaya.

(Barsambung)

*Doddi Ahmad Fauji, Mudir Sanggar SituSeni untuk kemanusiaan, untuk semua kalangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *