Begini Cara Deteksi Dini Penyakit Gagal Ginjal Kronik.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Kurva pasien penyakit gagal ginjal kronik di Indonesia terus meningkat. Dan sampai hari ini, belum ada sebuah cara yang bisa mengembalikan fungsi ginjal ke keadaan semula. Atas dasar itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga kesehatan ginjal sedini mungkin.

Ahli Penyakit Dalam Ginjal dan Hipertensi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, dr. Jonny, Sp.PD-KGH, M.Kes, MM menjelaskan fungsi ginjal pertama adalah fungsi ekskresi yang memiliki peranan untuk membuang sisa-sisa metabolisme di dalam tubuh. Dimana ginjal mengolah makanan dan sisanya akan diproses di ginjal dan dibuang melalui urin.

Kedua, ginjal memiliki fungsi membuang kelebihan cairan dimana jika ada cairan berlebih akan dibuang melalui ginjal. Juga sebagai organ sekresi atau menghasilkan berbagai hormon di dalam tubuh yang mengatur tekanan darah.

“Di dalam pembuluh darah ginjal juga ada saraf simpatik yang mengatur tekanan darah. Oleh karena itu hipertensi digabungkan dengan ginjal,” kata Dokter Jonny dalam webinar yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bekerjasama dengan Baxter dalam rangkaian acara World Kidney Day 2021, Sabtu (20/3).

Hormon lain yang dihasilkan oleh ginjal adalah vitamin D yang mengatur pembentukan tulang dalam tubuh. Juga ada hormon eritropoietin yang mengatur pembentukan sel darah merah sehingga dengan penyakit ginjal kronis hormon ini kurang sehingga HB-nya rendah.

“Ginjal juga mengatur keseimbangan tubuh. Ginjal akan mengatur apabila kita kelebihan cairan maka dia akan di buang (buang air kecil). Kalau kekurangan dia akan mengkonservasi cairan supaya diserap dan dikeluarkan lebih sedikit. Oleh karena itu kepekatan (warna) kencing sangat menentukan keadaan cairan di dalam tubuh seseorang,” ujarnya.

BACA JUGA :  Salurkan Donasi Masker dan Hand Sanitizer, WeCare.id Gandeng BAZNAS

Menurutnya, ada dua penyakit yang menyumbang angka pasien gagal ginjal kronik.

Pertama adalah Diabetes Melitus sebesar 30% dan hipertensi sebesar 25%. Sisanya, terbagi melalui penyakit peradangan ginjal, batu ginjal, penyakit autoimun, dan penyakit bawaan sejak lahir dimana ginjalnya terdapat banyak kista.

“Juga penggunaan obat-obatan herbal untuk menurunkan berat badan dan penggunaan obat meningkatkan stamina,” lanjutnya.

Jonny menjelaskan hampir seluruh pasien gagal ginjal di Indonesia datang dengan kondisi yang cukup parah. Sehingga pasien-pasien tersebut harus mendapatkan tindakan cuci darah (hemodialisis) atau cuci perut (peritoneal dialisis)

Untuk mengetahui gejala awal terkena penyakit ginjal, menurut Jonny gejalanya adalah badan terasa lemas, tidak nafsu makan, mual karena racun tubuh tinggi. Tahap selanjutnya adalah kurang darah, buang air kecil sedikit, bengkak, sesak napas, kelainan tulang, gatal-gatal, dan tidak sadarkan diri.

Oleh karenanya dibutuhkan pencegahan sedini mungkin agar penyakit ginjal tidak bersifat progresif. Pun kalau sudah ada penyakit bawaan seperti Diabetes Melitus maka orang tersebut harus mengendalikan gula darah dan tekanan darahnya. Oleh karena itu harus perlu bantuan medis untuk mencari tahu penyebab penyakit ginjal agar situasi bisa dikendalikan.

“Sehingga akan mencegah progresifitas kerusakan ginjal. Misal stadiumnya dua dengan kreatinin 1,9 atau 2 itu kalau dia ada kencing manis (diabetes) maka kencing manisnya harus diobati dengan baik, sampai gula darahnya itu kurang dari 200,” jelasnya.

Sementara jika penyebabnya adalah karena hipertensi maka harus dikendalikan tensinya dan kalau bisa harus kurang dari 130/90. Pasien juga harus berhenti merokok agar laju progresifitas penyakit ginjal bisa ditekan. Perbanyak makan buah dan sayur-sayuran.

“Perhatikan kadar kalium juga jika sudah ada gangguan ginjal, olahraga teratur, kontrol berat badan, kurangi garam. Hindari minuman dengan karbonasi. Maka inilah cara kita mencegah,” katanya.

Jika penyakit tersebut tidak bisa terbendung maka situasinya akan menjadi pelik. Menurut Jonny sampai hari ini belum ada satupun cara atau obat yang bisa mengembalikan fungsi ginjal kembali sebelum adanya penyakit. Intinya, untuk menjadikan fungsi normal ginjal sangat sulit dan tidak memungkinkan.

BACA JUGA :  WeTV Original Kaget Nikah, Bertabur Bintang.

Pun, semua orang harus menyadari sejak usia 40 tahun kecepatan fungsi ginjal akan menurun setiap tahunnya satu mililiter per menit. Sehingga walaupun sudah melakukan pencegahan, tidak menutup kemungkinan akan mengalami cuci darah maupun cuci perut.

“Tetapi setidaknya kita cegah progresifitasnya biar tidak terlalu cepat jatuh ke stadium paling akhir. Inilah pencegahan yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan gagal ginjal,” tegasnya.

Atas dasar itu, Jonny mengajak seluruh pihak untuk melakukan deteksi dini penyakit ginjal. Bisa melalui medical check up standar pemeriksaan khusus untuk kesehatan ginjal. Bisa melakukan pemeriksaan urine rutin, ureum kreatinin, dan USG ginjal dan saluran kemih. (Bb-69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *