Berlaga Tanpa Penonton

 

Agus

Oleh Agus Kristiyanto

TERDAPAT banyak event olahraga, baik single-event maupun multi-event yang semestinya diselenggarakan pada 2020, tetapi kemudian ditunda pelaksanaannya pada 2021. Demi mengutamakan keselamatan bersama karena ancaman pandemi Covid-19, maka penundaan tersebut merupakan sebuah pilihan bijak yang patut diapresiasi oleh semua pihak.

Penundaan tersebut terjadi di hampir semua event olahraga pada level domestik, regional, maupun internasional. Sebagai contoh, Olimpiade Tokyo 2020 harus bergeser ke 2021, demikian pula Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2020 bergeser dari September 2020 ke Oktober 2021.

Bagaimana dengan penyelenggaraan PON XX Papua? Kabar terkini yang diperoleh dari berbagai pihak yang berkompeten dengan persiapan penyelenggaraan PON, tidak ada alasan untuk melakukan penundaan lagi. Artinya, PON XX tetap teragendakan pada Oktober 2021.

Bahkan, Wakil Ketua Umum KONI Pusat, Suwarno mewacanakan penyelenggaraan bisa mulai awal Oktober. Memperlebar durasi penyelenggaraan menjadi bagian dari upaya menata agar kedatangan dan kepulangan kontingen tidak menimbulkan kerumunan di Bandara Papua.

Mekanisme penerapan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas), terutama menghindari kerumunan, tetap terjaga pada sebelum, saat, dan setelah penyelenggaraan PON.

Penyelenggaraan PON XX yang semula dijadwalkan pada September 2020 kemudian (terpaksa) diundur ke Oktober 2021. Keterpaksaan tersebut justru merupakan sebuah masa pembelajaran bagi semua pihak, terutama kontingen masing-masing daerah, termasuk pihak tuan rumah. Waktu hitungan mundur ke Oktober 2021 tersebut merupakan masa belajar efektif untuk adaptasi bagi segenap kontingen atlet dari seluruh daerah, sekaligus masa pematangan persiapan bagi tuan rumah penyelenggara PON XX Papua.

Pertama, masa adaptasi menjadi keniscayaan bagi seluruh atlet, pelatih, dan para pembina yang terlibat langsung dalam penyiapan kontingen menuju Oktober 2021. Dalam setahun di bawah cengkeraman bahaya penularan virus korona, para atlet tetap berikhtiar berlatih dengan cara-cara khas. Interaksi dengan para pelatih pun dikemas dalam desain penerapan protokol kesehatan.

BACA JUGA :  Ganjar Pranowo Masuk Radar Joyoboyo?

Alokasi anggaran pemerintah (APBN/APBD) untuk memberhasilkan proses penyiapan atlet pun telah diserap dengan baik, demi untuk sebuah kesinambungan proses pembinaan dan pengembangan olahraga. Sukses PON adalah sukses pembinaan prestasi olahraga, sukses ekonomi kerakyatan, dan sukses penyelenggaraan.

Kedua, sukses penyelenggaraan menjadi prestasi besar tersendiri yang merupakan torehan khusus sejarah PON di Indonesia.

Sukses penyelenggaraan PON di Papua nantinya merupakan wujud justifikasi bahwa PON merupakan formula dahsyat untuk mempersatukan NKRI. Hak menjadi tuan rumah PON bukan hanya milik provinsi yang ada di Pulau Jawa, melainkan juga di seluruh wilayah NKRI.

Keberhasilan PON Kaltim, PON Riau, dan PON Sumsel menjadi suri teladan baik bagi Papua untuk menjadi tuan rumah yang gigih membangun semangat persatuan NKRI dengan menggunakan ”tools” sport as nation and character building.

Ketiga, PON XX Papua bisa menjadi event keolahragaan yang extraordinary, karena menjadi aksi nasional membangun rasa percaya diri kebangsaan. Penyelenggaraan yang sukses pada masa darurat pandemi Covid-19 akan menjadi pembuktian bahwa masyarakat Indonesia benar-benar keturunan ”pelaut” yang memiliki sifat gagah berani menghadapi situasi darurat.

Bukankah sifat gagah berani dalam semangat persatuan pada situasi darurat itu merupakan pesan moral yang paling esensial dari keberhasilan PON I 1948 di Solo? Pada saat PON XX diagendakan September 2020, banyak pihak yang sanksi atas kesiapan venue dan aspek keamanan tuan rumah Papua.

Penundaan menuju Oktober 2021 justru merupakan rentang waktu yang berharga bagi Papua untuk menata dan membuktikan kesiapan sekaligus menepis penilaian tersebut. Apresiasi yang tinggi patut disampaikan kepada pemerintah pusat, juga terutama Pemerintah Provinsi Papua yang berhasil mempersiapakan venue dan menciptakan situasi kondusif keamanan.

BACA JUGA :  Pengeja Kesunyian.

Dari hasil kunjungan rombongan DPD RI pada Februari 2021 telah dispastikan bahwa Papua telah siap dengan seluruh venue penyelenggaraan. Berbagai persolan teknis penyelenggaraan pun sudah on the right track disiapkan, mekanisme adaptasi kebiasaan baru sudah ditanamkan kepada seluruh kontingen yang akan datang ke Papua. Skenario klaster tempat penyelenggaraan sudah didesain untuk membuat sekat pengamanan dari kemungkinan buruk penyebaran Covid-19.

Syarat Vaksinasi

Kesiapan penyelenggaraan juga disempurnakan dengan syarat vaksinasi bagi atlet dan semua pihak yang hadir secara luar jaringan (luring) di Papua. Namun demikian, kesiapan yang telah matang tersebut masih belum mampu meyakinkan semua pihak. Akhirnya ada opsi yang ditambahkan, yakni PON bisa berlangsung tanpa penonton! Penyelenggaraan PON XX tanpa penonton merupakan sebuah penawaran terakhir dari kalkulasi persyaratan PON yang aman dan murah. Berlaga tanpa penonton pun memiliki konsekwensi ke banyak hal.

Pertama, tetap menimbulkan polemik tersendiri, selalu ada pro dan kontra. Pihak yang pro dengan laga tanpa penonton terutama datang dari kontingan daerah yang memang pasti membatasi jumlah personel yang diberangktkan ke Papua.

Perhitungan physical dan social distancing menjadi argumentasi pembatasan jumlah yang superselektif. Kalkulasi efisensi anggaran juga menjadi variabel penting, karena mengirim kontingen ke Papua konon budget-nya seperti mengirim ke Jepang. Pihak tuan rumah berpotensi kurang penuh menyetujui karena panggung laga olahraga formal tersebut esensinya sebagai sebuah tontonan bagi masyarakat sekitar.

Kedua, laga pertandingan tanpa penonton bukan berarti perhelatan menjadi sepi tak bermakna. Selama setahun lebih, masyarakat sudah terbiasa dengan hidup dalam suasana virtual. Gegap gempita arena PON bahkan akan menjadi viral tatkala seluruh pertandingan selalu dapat diakses cukup dengan gagdet yang ada di genggaman hampir seluruh masyarakat di Indonesia, bahkan di seluruh belahan dunia.

BACA JUGA :  Polda Papua Akan Gelar Simulasi Pengamanan untuk PON

Mereka tidak hadir di stadion secara fisik, tetapi leluasa menyimak informasi-infomasi dari gelanggang PON XX melalui jejak-jejak digital. Ketiga, tanpa penonton secara luring, seluruh atlet yang berlaga akan cenderung memelihara performansi terbaiknya yang lebih mengandalkan pada kekuatan motivasi internalnya.

Motivasi yang sangat esensial tanpa terlalu bergantung pada tepuk tangan dan sorak-sorai dari suporter. Capaian prestasi terbaiknya justru akan tersimpan dalam jejak digital yang bersifat awet yang memiliki nilai tontonan sekaligus tuntunan.

Keempat, mengandalkan income dari tiket masuk penonton akan bergeser menuju income generating dalam bentuk lain. Persoalan hak siar dan aneka promosi space iklan di sudut arena laga olahraga sangat leluasa untuk dikembangkan.

Tribun yang biasanya digunakan untuk duduk para penonton dan suporter, dapat dialih-fungsikan sebagai tempat untuk meletakkan aneka item promosi produk tertentu. Masih banyak keuntungan tersembunyi dan tak terduga di balik laga tanpa penonton yang menjadi tantangan bersama.

Sepi penonton tak selalu berarti pertunjukan yang gagal, tetapi merupakan situasi hening untuk berkontemplasi. Refleksi obyektif bagi siapa saja untuk melakukan perbaikan secara hakiki sumbangan olahraga untuk negeri melalui perbaikan PON.

Boleh jadi, selama ini sulit melakukan perenungan obyektif karena laga-laga di PON cenderung tak bisa sepi dari ricuh hiruk-pikuk penonton yang suka memaksa ”jagoannya” harus menang. (46)

— Prof Dr H Agus Kristiyanto MPd, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta, dewan pakar KONI Jawa Tengah, pengurus Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (APKORI).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *