Versi Asli Film Remake Seharga Rp 350 Milyar Tayang di Indonesia.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Apple TV membuat kejutan dengan membeli hak film Perancis berjudul La Famille Bélier untuk diremake dengan harga USD 25 Million (Rp 350 Millyar lebih).

Apple TV pun sukses meremake film ini menjadi film berjudul CODA yang pada tahun 2021 ini berhasil mencetak sejarah dengan meraih penghargaan Sundance Film Festival terbanyak sepanjang masa dengan 4 piala.

Untuk kategori U.S. Grand Jury Prize: Dramatic, Audience Award: U.S. Dramatic, U.S. Dramatic Special Jury Award for Ensemble Cast, and Directing Award: U.S. Dramatic prize.

Kejutan juga terjadi di Indonsia. Pasalnya, versi asli film CODA berjudul La Famille Bélier saat ini sudah bisa disaksikan secara legal di Indonesia melalui digital platform Klik Film.

Frederica, Direktur Klik Film menjelaskan, Klik Film memang selalu berusaha menghadirkan film-film bagus yang ada dimanapun, untuk menghapus dahaga para penikmat film di Indonesia.

“Hadirnya film La Famille Bélier menjadi satu bukti eksistensi Klik Film untuk terus menghadirkan film-film bagus. Dan akan banyak lagi kejutan-kejutan yang akan kami hadirkan,” katanya di Jakarta, Rabu (10/3/2021).

Film La Famille Bélier bernarasi tentang Paula (Louane Emera) yang dibesarkan di lingkungan tani dan peternakan. Kedua orangtuanya, Rodolphe Belier (Francois Damien) dan Gigi (Karin Viard), tuli sekaligus bisu. Adik laki-lakinya, Quentin (Luca Gelberg) mengalami nasib serupa.

Di sekolah, Paula bergaul karib dengan Mathilde (Roxane Duran). Suatu hari, ada audisi paduan suara yang menuntut peserta pamer vokal di depan guru, Pak Thomasson (Eric Elmosnino).

Mathilde ditolak karena suaranya dianggap bencana. Namun Paula diterima dengan alasan punya alto bagus. Di kelas itu, Paula mengenal Gabriel (Ilian Bergala) yang tampan juga pendiam.

BACA JUGA :  Pengusaha Harus Naik Kelas, Anin Berikan Bantuan untuk UMKM di Jabar  

Dirasa punya vokal harmonis, Thomasson menjodohkan mereka di lagu “Aku Akan Mencintaimu.” Thomasson juga mengabarkan ada audisi vokal di Prancis.

Kegeniusan film ini terletak pada ide menempatkan remaja dengan bakat menyanyi di lingkungan keluarga yang tak bisa mendengar maupun bicara.

Susah untuk meyakinkan orangtua bisu tuli bahwa putrinya pintar nyanyi.

Sepanjang film, akting dan penuturan menjadi daya tarik kunci. Kita bisa menebak dengan mudah ke mana muara cerita berbasis keluarga macam ini.

Yang tak disangka, kepintaran Eric menyimpan “hidangan penutup” berupa adegan mengejar waktu dan suasana di ruang audisi.

Yang bikin hati remuk, saat Paula memutuskan menyanyi sambil menggunakan bahasa isyarat. Ambyar sudah hati penonton. Mata ayah dan ibu Paula berkaca.

Saat selesai bernyanyi, mereka berdiri dan berteriak “Bravo, bravo!” meski tak jelas pelafalanannya. Sungguh, adegan ini tak disangka-sangka menguras hati dan air mata.

Masih ada satu adegan lagi yang sebaiknya Anda saksikan sendiri. Sebuah babak pamungkas yang melegakan dan membawa kita pada pemahaman klasik, keluarga adalah segalanya. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *