Menristek : Penggunaan Produk Dalam Negeri Harus Disikapi Dua Pendekatan

Menristek/Kepala BRIN,Bambang PS Brodjonegoro (SMJkt/Prajtna Lydiasari)

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang PS Brodjonegoro menegaskan selain pentingnya ekonomi berbasis inovasi adalah upaya bersama terus menerus untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Menurutnya, penggunaan produk dalam negeri harus disikapi dengan dua pendekatan, pertama produk dirakit dalam negeri dan yang kedua produk yang dibuat didalam dengan menggunakan lokal konten yang besar.

“Kita ingin yang kedua, karena yang pertama itu proses manufaktur, rakitan, assembly di Indonesia. Tentunya kita tidak ingin hanya bermain di hilirnya, kita harus semakin ke hulu,” tegasnya.

Jadi, lanjut Bambang, kalau biasanya kita jargonnya adalah hilirisasi hasil riset tapi dalam hal peggunaan produk dalam negeri justru yang kita pikirkan bagaimana kita bisa ke hulu dalam pengertian dari desainnya, produk development-nya.

Bambang mengatakan dalam tahapan melakukan product development pun ada yang basisnya RnD sesuatu yang benar-benar baru, dan ada juga yang sifatnya reverse engineering. Dengan reverse engineering pemahaman akan suatu teknologi, tidak hanya sekedar tahu, atau sekedar bisa meniru teknologi tersebut, namun lebih dari itu dapat menjadi pondasi dalam melakukan sesuatu yang baru.

“Di sinilah urgensi penggunaan produk dalam negeri menjadi penting, peran BPPT melalui analisis dan rekayasa teknologi terutama peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tidak hanya di manufaktur (hilir) namun juga pada RnD (hulu). Hulu ini menjadi kritikal, sehingga kemampuan BPPT dalam pengkajian dan penerapan semakin sentral,” katanya.

Disisi lain Audit Teknologi BPPT menjadi bagian yang sangat penting melihat perkembangan kemampuan teknologi yang perlu diadopsi dari luar negeri. Ia menjelaskan bahwa diperlukan suatu strategi dalam penguasaan teknologi melalui audit teknologi.

BACA JUGA :  GeNose C19 diharapkan Sebagai Langkah Awal Pemulihan Sektor Pariwisata

“Sehingga teknologi yang diadopsi nanti adalah sesuatu yang akan dipakai seterusnya dikemudian hari dan sesuai dengan daya saing yang diharapkan,” jelasnya.

Tentunya Indonesia sebagai negara besar jika ingin ekonomi stabil maka tidak boleh bergantung terlalu besar terhadap produk impor. Dalam kaitannya untuk kebijakan moneter, neraca perdagangan ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu tingkatkan ekspor atau kurangi impor.

“Meningkatkan ekspor tidak mudah dilakukan karena perlu melihat kebutuhan pasar internasional, mengurangi impor bukan berarti mengurangi pembeliannya namun kita mensubtitusi kebutuhan produk impor dengan produk dalam negeri. Jadi subtitusi impor dalam hal ini sangat didorong sebagai upaya kita untuk Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN),” tuturnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *