Strategi Adaptasi dan Transformasi Lakon Wayang Sesaji Raja Suya:Oleh Dhianita Kusuma Pertiwi

INOVASI

Inovasi dan konservasi merupakan strategi pengembangan budaya yang tepat di era penuh disrupsi saat ini. Kesenian sebagai produk kebudayaan perlu terus berkembang sesuai dengan konteks zaman dengan menjadikan masa lalu sebagai titik berangkat. Fenomena tarik-menarik antara tuntutan mengikuti kebaruan dan menjaga nilai tradisi menjadi tantangan bagi pelaku dunia kesenian tradisi, termasuk pewayangan.
Artikel pengembangan dari tesis Transformasi Konsep Kekuasaan dalam Adaptasi Sabha-parva ke Lakon Wayang Sesaji Raja Suya Karya Ki Purbo Asmoro yang mendapatkan penghargaan Nusantara Academic Award 2020 melalui kerjasama Nusantara Institute dan BCA ini akan membahas tentang strategi adaptasi dan transformasi lakon wayang Sesaji Raja Suya dalam konteks pengembangan seni tradisi di Indonesia.
Lakon Sesaji Raja Suya diadaptasi dari Sabha-parva, kitab kedua Mahabharata. Kata sabha yang dalam Bahasa Indonesia berarti “ruang pertemuan”, mewakili inti cerita, yakni peristiwa-peristiwa yang berlangsung di ruang pertemuan kerajaan Indraprastha dan Astinapura, antara lain perencanaan dan pelaksanaan upacara rajasuya oleh Pandawa di ruang pertemuan kerajaan Indraprastha, dan permainan dadu antara Sengkuni dan Yudhistira di balai pertemuan Astinapura. Dari keseluruhan cerita tersebut, lakon wayang Sesaji Raja Suya hanya mengadaptasi kisah persiapan dan pelaksanaan upacara rajasuya.
Rajasuya merupakan upacara penobatan raja sebagai pemimpin agung yang menuntut persiapan rumit, berlangsung dalam jangka waktu panjang, serta mendatangkan banyak tamu sebagai saksi ritual. Upacara tersebut menjadi bagian dari praktik pemerintahan kerajaan India Kuno pada periode pra-Weda. Sementara itu, peninggalan sejarah kerajaan Nusantara tidak menunjukkan pernah dilakukannya rajasuya oleh raja Jawa di masa lalu. Meskipun begitu, Sesaji Raja Suya merupakan salah satu lakon wayang purwa yang populer sampai hari ini, terbukti dengan masih cukup sering dipentaskanya lakon tersebut, khususnya pada momentum peringatan ulang tahun organisasi atau institusi.
Transformasi dalam adaptasi Sabha-parva ke lakon Sesaji Raja Suya mengimplikasikan relasi timbal balik yang menghubungkan suatu karya dengan latar belakang budaya pada tempat dan waktu karya tersebut dibuat. Sekuen cerita yang menggambarkan persiapan dan pelaksanaan upacara rajasuya berkurang secara cukup signifikan, diikuti dengan amplifikasi adegan-adegan perang antara Pandawa dengan kubu musuh, yakni anak buah Jarasandha. Hal tersebut berkaitan dengan aturan dalam tradisi penulisan lakon dan alam pikir masyarakat Jawa dalam memaknai upacara rajasuya.
Struktur pembabakan lakon wayang purwa terbagi menjadi tiga bagian, yakni pathet nem, pathet sanga dan pathet manyura. Persiapan pasukan kedua kubu kerajaan, pemberangkatan pasukan, dan pertempuran prang gagal merupakan unsur adegan dalam babak pathet nem, diikuti dengan pertarungan akhir antara dua raja yang berseteru pada babak pathet manyura. Di samping itu, ada juga adegan prang kembang di pathet sanga yang menceritakan perkelahian Arjuna melawan buta liar sebagai penggambaran simbolik kemenangan kebajikan atas keburukan dalam pertarungan batin manusia.
Penggambaran serangkaian pertempuran yang kemudian ditutup oleh upacara penobatan raja selanjutnya dapat dihubungkan dengan pemaknaan rajasuya oleh orang Jawa. Rajasuya, yang direpresentasikan dalam Sabha-parva sebagai suatu upacara yang menuntut penarikan upeti dari raja di seluruh penjuru dunia, bertransformasi dalam lakon Sesaji Raja Suya sebagai upacara khidmat dengan ritual pembacaan doa oleh pandhita seraya mengelilingi api sesaji. Sesaji Raja Suya menekankan keberhasilan Puntadewa dan Kresna untuk menghadapi sejumlah rintangan sebagai indikator kelayakan mereka dinobatkan sebagai raja agung, alih-alih kepemilikan atas istana mewah serta keberhasilan menarik upeti dan merampas harta perang.
Masyarakat Jawa sampai hari ini masih mempercayai pentingnya selamatan sebagai ekspresi rasa syukur atas limpahan rezeki, juga cara manusia memohon kepada penciptanya untuk terus memberikan perlindungan kepada manusia dan makhluk lain. Selamatan juga didasari oleh gagasan kesukarelaan dan kesederhanaan, karena tamu yang hadir diundang tanpa paksaan dan diperlakukan setara selama selamatan berlangsung. Duduk bersama dalam posisi bersila di lantai memiliki makna membumi, memaknai kembali relasi manusia dengan penciptanya, dan meleburkan batas-batas antara sesama manusia seperti jabatan atau kedudukan.
Rajasuya pun dimaknai oleh masyarakat Jawa sebagai selamatan atas keberhasilan Pandawa mencegah upaya Jarasandha membuat kekacauan di muka bumi. Pemaknaan tersebut didasarkan pada gagasan perdamaian dan kesejahteraan yang terwujud melalui keseimbangan atau harmoni antara dua dunia, yakni jagad cilik dan jagad gedhe. Dengan dasar pemikiran tersebut, kemampuan pemimpin untuk menjaga harmoni atas wilayah kewenangannya pun dirayakan secara khidmat melalui pagelaran lakon wayang Sesaji Raja Suya pada acara-acara peringatan dies natalis oleh sejumlah institusi dan organisasi di Indonesia dalam konteks masyarakat kontemporer saat ini. Penyesuaian-penyesuaian tekstual dalam adaptasi Sesaji Raja Suya telah menjadikan lakon wayang tersebut dapat terus dinikmati dan dimaknai sampai hari ini.(***)

BACA JUGA :  Christine Hakim ; Film Tjoet Nja’ Dhien Bercerita Tentang Banyak Hal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *