Ekonomi Sirkular Penting diperkenalkan dalam Kegiatan Riset dan Inovasi

Menristek/BRIN, Bambang PS Brodjonegoro (SMJkt/Ist)

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menyampaikan salah satu topik utama dalam kegiatan pengembangan riset dan inovasi terkait pembangunan rendah karbon adalah ekonomi sirkular. Menurutnya, sebagai seorang ekonom, kebanyakan akan selalu berpegangan kepada fungsi produksi.

Di mana begitu output didapat maka itu menjadi hasil akhir tanpa memperhatikan bahwa dari input ke output (proses produksi) pasti menghasilkan limbah yang tidak berguna dan hal tersebut tidak dihitung sebagai residu yang sebenarnya bisa dihitung sebagai input yang produktif.

“Di sinilah ekonomi sirkular penting diperkenalkan, di mana dari ekonomi linier (buat, gunakan, buang) menjadi sirkuler (restoratif dan regeneratif), sehingga limbah yang muncul harus bisa diolah kembali. Jadi limbah yang tadinya menjadi residu, harus kita kembalikan menjadi input untuk kemudian diolah lagi menjadi output,” ujar Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro.

Bambang menjelaskan bahwa PT Bio Konversi Indonesia (PT BKI) sendiri merupakan produsen pupuk organik hayati cair dengan merk dagang “Biokonversi” yang telah mengolah 150 ton sampah setiap harinya dan telah menyerap 150 tenaga kerja lokal. Formula dan teknologi produksi pupuk organik hayati cair PT BKI merupakan hasil riset dan pengembangan dari anak bangsa yang peduli akan kesejahteraan petani, masalah sampah di perkotaan dan kelestarian lingkungan.

“Melalui inovasi ini sampah organik perkotaan diubah menjadi pupuk organik ramah lingkungan dalam skala ekonomi yang cukup besar. Kita mendukung inovasi ini karena bagi saya ini adalah inovasi ekonomi sirkular, yang melahirkan alternatif kebutuhan pupuk di Indonesia, kita adalah negara yang perlu mengoptimalkan sektor pertaniannya,” jelasnya.

Di sisi lain, lanjut Bambang, berbicara konteks yang lebih besar yaitu harga, yang memungkinkan untuk mengurangi subsidi pupuk selama ini, meskipun harga berkurang bukan berarti kualitas juga berkurang jadi harus sama bahkan lebih baik.

BACA JUGA :  Inovasi dan Kesiapan Teknologi Sangat Dibutuhkan, Inilah Lima Prioritas Riset Nasional untuk Energi Baru Terbarukan

Untuk diketahui, teknologi produksi pupuk Biokonversi telah dipatenkan pada Ditjen HAKI Kementerian KUMHAM RI, dan telah mendapat pengakuan mutu baik dari lembaga sertifikasi organik lokal (LESOS), maupun internasional yaitu Control Union di Belanda. Pupuk organik hayati cair Biokonversi telah digunakan di lebih 23 provinsi di Indonesia, dan telah diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman.

“Inovasi ini dapat menjadi dukungan akan salah satu program Prioritas Riset Nasional (PRN) Kemenristek/BRIN yaitu Ketahanan Pangan. Penggunaan pupuk hayati yang ternyata berperan besar untuk menghasilkan tanaman yang subur dan sumber makanan bergizi, yang nantinya diharapkan dapat berkontribusi menanggulangi masalah stunting atau kekurangan asupan gizi,” terangnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *