Edy Setijono; Isinya Daging Semua.

Edy Setijono. (Doc Pribadi).

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Pejabat publik yang mempunyai kesadaran amanat jabatan adalah tak lebih dari sebuah titipan, sedikit jumlahnya. Diantara yang sedikit itu, Edy Setijono, adalah salah satunya.

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) itu sangat sadar sekali. Jabatan, yang saat ini diembannya, dan masuk ke periode kedua hanyalah sebuah episode. Yang bisa berhenti kapanpun jika amanat itu ditanggalkan dari kedudukannya.

Menyadari hal itu, Edy Setijono mempunyai kesadaran penuh atas kepercayaan yang diamanatkan ke pundaknya. Yang bersifat sementara dan karenanya tidak kekal sifatnya. Maka dengan ringan kata dia senantiasa mengingatkan dirinya sendiri, tidak pernah gentar hati, jika jabatan itu lengser darinya pada suatu ketika. Atau kapan saja.

Turunannya, lulusan UGM itu, senantiasa bekerja dengan sepenuh hati, dengan segala kecerdasan dan keuletannya. Jika orang lain telah bekerja cerdas dan keras. Maka dia mendorong hatinya untuk tiga kali bekerja lebih cerdas dan keras, dari orang kebanyakan.

Innalilahi wa innailaihi rojiun saja. Semua orang bekerja keras. Kita harus melibatkan kerja cerdas kita lebih berlipat upayanya,” kata si empunya nama.

Sebagai orang nomor satu di TWC, Edy Setijono, adalah tipikal man with the plan. Rencananya banyak dalam mengembangkan dan mendekatkan unit usahanya ke publik. Rencana yang dibarengi dengan ikhtiar riset, dan menguji hasil risetnya dalam bentuk data yang rigid itu, diharapkan makin mematangkan langkah TWC menggaet wisatawan sebanyak mungkin mengunjungi Borobudur, Prambanan dan Ratu Baku. Serta destinasi terkait di Joglosemar.

Dia bahkan tak segan beradu data demi mendapatkan analisa yang jitu dengan siapa saja. Tanpa harus mendongakkan dagu, jika data dan analisanya lebih bermutu. Dengan demikian lawan diskusinya tetap dia tempatkan di aras sepatutnya.

BACA JUGA :  Mengantisipasi Malapraktik dalam Mendidik Anak

Demikian pula sebaliknya, jika lawan diskusinya mempunyai analisa dan data yang sahih dan mustahak, dia akan dengan lapang hati menerimanya. Memberi salut kepadanya.

Demikian halnya saat Edy Setijono harus bersemuka dengan atasannya. Atau sesama aparatur negara yang secara hierarki berada di atasnya. Dia akan tetap memegang teguh keyakinannya. Bahwa kemudian ada implikasi politis yang membuatnya harus kehilangan jabatan karena keyakinan cara menjalankan roda administrasi dan teknis birokrasi lainnya, jauh-jauh hari dia telah menyiapkan hatinya.

“Saya bisa dicopot kapanpun. Dan itu biasa saja dalam birokrasi bernegara,” katanya.

Karenanya, dia membayar amanat yang diberikan kepadanya dengan penguasai detil di bidangnya. Terutama dalam persoalan menjual loka pariwisata hingga mancanegara. Dengan melibatkan peran aktif sistem sosial, dengan segala unsur kebudayaannya, yang ada di lingkungan tempat pariwisata itu.

“Semua harus kebagian dampak kue pariwisata, terutama masyarakat pendukung terdekatnya,” katanya.

Namun, dia juga sangat menyadari sekali, dalam banyak perkara kebijakan yang diambil pejabat aparatur negara, tidak selalu berbanding lurus dengan keyakinannya. Di sinilah penerimaan, pensiasatan, dan keluwesan yang berhubungan erat dengan kebesaran hati, memegang peranan penting. Pendewasaan jabatan memaksanya dewasa secara politik bernegara.

Kini, di masa pagebluk yang genap setahun menggebuk semua loka wisata di dunia, Edy Setijono harus dan terus merumuskan langkah barunya. Agar kehidupan kepariwisataan dapat kembali berjalan dengan cara barunya.

Dengan melakukan pembacaan ulang taktik dan strategi pemasaran. Sekaligus membuka kembali kran pariwisata dari manca negara. Dengan tetap menyesuaikan dengan prokes yang berlaku, dan laras dengan protokol kesehatan yang berbasis pada CHSE. Atau Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan). Sebagaimana telah dicanangkan dan dijalankan Kemenparekraf.

BACA JUGA :  Sawitri, Doktor dari Tengah Hutan.

Karena menjadi rahasia umum, kunci utama dalam pengembalian kondisi Kepariwisataan yang berkelanjutan di masa pandemi adalah sinkron dengan disiplin prokes yang ketat. Sehingga, bahkan saat kerumuman tercipta, jika prokesnya lunas, maka semua berjalan dengan pas. Hasil akhirnya, ekonomi bergulir kembali dan menghidupi kembali masyarakat pelakunya.

Ya, berbicara dengan Edy Setijono seperti memasuki perpustakaan yang menyediakan banyak pengetahuan. Tak berlebihan jika semua yang keluar dari buah pemikirannya adalah ‘daging semua’. Makanya tidak mengherankan, dia tidak gentar kehilangan jabatannya, jika suatu ketika ditanggalkan dari pundaknya. Panjang umur kerja cerdas. (Bb-69).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *