Airlangga Hartarto “Nggege Mongso”

 

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

NAMANYA kerap masuk dalam survei sebagai sosok potensial calon presiden 2024. Namun posisinya jauh di bawah Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, atau bahkan Sandiaga Uno. Mungkin karena itulah ia “nggege mongso” untuk mengejar ketertinggalan popularitas dan elektabilitasnya dalam survei.

Dia adalah Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar dan Menteri Koordinator Perekonomian.

“Nggege mongso” secara harfiah berarti mempercepat datangnya musim. Dalam konteks ini, Airlangga mempercepat datangnya musim kampanye Pemilihan Presiden 2024 yang sesungguhnya masih lama, sekitar 3,5 tahun lagi.

Namun mulai medio Februari lalu, Airlangga bersafari politik dengan menyambangi ketua umum-ketua umum partai politik. Mulai dari Surya Paloh (Partai Nasdem), Suharso Monoarfa (Partai Persatuan Pembangunan), Prabowo Subianto (Partai Gerindra), hingga entah siapa lagi nanti.

Tujuan pertemuan, menurut Airlangga, untuk membangun soliditas antar-ketua umum parpol, terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Golkar akan mengajukan Airlangga sebagai capres dalam Pilpres 2024. Adapun Nasdem menawarkan kursi cawapres bagi Airlangga. Capres Nasdem akan ditentukan melalui konvensi.

Pilpres 2024 praktis masih 3,5 tahun lagi. Kabinet Indonesia Maju pun belum genap 1,5 tahun bekerja. Ibaratnya, Belanda masih jauh. Akan tetapi, mengapa Airlangga “nggege mongso”?

Itu tadi. Mungkin ia mau mengejar ketertinggalan popularitas dan elektabilitasnya dari sosok potensial capres lainnya. Apalagi PDI Perjuangan dan Gerindra sedang mesra-mesranya, sehingga ada kemungkinan menduetkan Prabowo dengan Puan Maharani, Ganjar Pranowo atau Tri Rismaharini, seperti desas-desus yang berembus.

Golkar tak mau sekadar menjadi penonton. Golkar maunya menjadi aktor, bahkan aktor utama. Meski dalam Pemilu 2019 Golkar hanya mendapat juara tiga setelah PDIP dan Gerindra.

Anak Manis

BACA JUGA :  Saat Lobster Gerindra Bicara

Semenjak menjadi Menteri Pertahanan, Prabowo yang semula garang seakan kehilangan taring, bahkan menjadi anak manis. Begitu pun Sandiaga Uno semenjak diangkat Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Bahkan keduanya rela mendapat “talak tilu” dari pendukung utamanya, yakni eks-Front Pembela Islam (FPI) gara-gara pro-Jokowi dan tak membela Rizieq Syihab.

Sebagai anak manis, kemungkinan PDIP akan menduetkan Prabowo atau Sandi dengan salah satu kadernya, baik sebagai capres atau pun cawapres.

Abuse of Power

Selain Menko Perekonomian, Airlangga adalah Ketua Tim Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Jadi, sudah bisa dibayangkan betapa sibuknya politisi berusia 58 tahun itu dengan tugas yang seabrek-abrek. Mengapa dia masih bergenit-genit ria melakukan safari politik?

Apakah safari politik itu ada hubungannya dengan tugas pokok dan fungsi dia sebagai Menko Perekonomian dan Ketua Tim Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional? Secara langsung tentu saja tidak. Bahkan salah-salah Airlangga bisa terjebak “abuse of power” (penyalahgunaan kekuasaan) dengan memanfaatkan fasilitas dan jabatannya di pemerintahan untuk kepentingan politik diri sendiri dan partainya.

Begitu pun mereka yang diajak bertemu Airlangga. Prabowo adalah Menhan. Suharso adalah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Keduanya juga bisa terjebak dalam “abuse of power”.

Di sinilah pentingnya seorang menteri tidak merangkap jabatan ketua umum parpol, seperti yang pernah dijanjikan Jokowi pada awal pemerintahan periode pertamanya.

Kalaupun sudah terlanjur menjadi ketua umum parpol, begitu diangkat menjadi menteri, mestinya mereka nonaktif dari jabatan di parpolnya.

Kesetiaan kepada parpol berakhir ketika kesetiaan kepada negara dimulai. Demikianlah semestinya Airlangga, Prabowo dan Suharso.

Lalu, dengan siapa akhirnya nanti Airlangga berduet? Dengan siapa pun tak masalah, baik bagi Airlangga maupun Golkar. Airlangga adalah politisi “jalan tengah”. Dia bukan politisi “garis keras”. Airlangga tak masalah menjadi capres atau cawapres berpasangan dengan siapa pun.

BACA JUGA :  Lima Hari, Satu Buku.

Golkar pun demikian. Ideologi Golkar adalah karya-kekaryaan. Siapa pun yang berkuasa, tak terlalu penting bagi Golkar. Yang penting mereka ikut ada di dalam pemerintahan untuk mewujudkan ideologi karya-kekaryaan tadi.

Dengan Surya Paloh dan Prabowo, Airlangga juga punya “chemistry” atau kesenyawaan yang kuat. Baik Surya maupun Prabowo adalah bekas kader Golkar. Mereka menyempal karena kalah bertarung memperebutkan kursi ketua umum Golkar.

Plus, bergabungnya Jusuf Kalla nanti di menit-menit terakhir. Bekas ketua umum Golkar ini tentu tak mau menjadi penonton saja. Dengan JK pun Airlangga bersenyawa.

JK dan Surya Paloh saat ini sedang mengelus-elus jago yang sama untuk dipertarungkan pada Pilpres 2024. Siapa dia? Semua orang sudah tahu.

Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *