Musuh Bersama Itu Bernama IPW

Oleh: Arif M Iqbal

 

MENDADAK Indonesia Police Watch (IPW) jadi musuh bersama para pelaku dan pecinta bola di Tanah Air. Ini tak lepas dari pernyataan Ketua Presidium IPW Neta S Pane, yang meminta Presiden Jokowi Menegur Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo karena telah mengeluarkan izin turnamen pramusim Piala Menpora 2021.

Piala Menpora sendiri akan digelar mulai 21 Maret hingga 25 April  di empat kota, yakni Malang, Solo, Bandung dan Sleman.

Alasan yang disebut Neta, penyelenggaraan turnamen bisa menjadi klaster Covid-19. Namun, pernyataan Neta tak didukung data dan fakta soal klaster baru Covid-19 dari sepak bola.

Misal, Liga Vietnam. Kompetisi yang diikuti 14 tim tersebut sudah memasuki pekan ketiga. Kasus corona di negara itu tak banyak-banyak amat. Hingga 2 Maret 2021, jumlah kasus hanya 2.475 dengan rincian 1.898 sembuh dan 35 meninggal.

Di Thailand, kompetisi sepak bola tertinggi juga sedang bergulir. Pengidap corona di sana sebanyak 26.073, beruntung 25.420 di antaranya berhasil disembuhkan dan yang meninggal 84.

Tetangga kita, Malaysia juga siap menggulirkan kompetisi Liga Super pada pekan ini. Kasus Covid-19 di Negeri Jiran 304.000, sembuh 278.000 dan meninggal 1.141 orang.

Dengan data dan fakta tersebut, sepak bola sepertinya tak mungkin menjadi klaster baru Covid-19. Apalagi jika turnamen atau kompetisi dilakukan secara profesional tanpa kehadiran penonton.

Mengapa? Pertama: seluruh pemain, pelatih, ofisial dan pihak yang terlibat di dalam kegiatan sepak bola menjalani swab test terlebih dulu. Ini juga terjadi di liga-liga di Eropa. Sebelum pertandingan, kondisi mereka sudah diketahui apakah terinfeksi corona atau tidak. Jadi semua dijalani sesuai prosedur dan protokol kesehatan yang ketat.

BACA JUGA :  Catatan Komite Seleksi Oscar Indonesia (The Indonesian Oscar Selection Committe).

Kedua: jika ada pemain yang terdeteksi positif Covid-19, mereka langsung dikarantina di tempat yang sudah disiapkan. Pemain bersangkutan tak akan bisa bersinggungan dengan orang lain lantaran sudah diasingkan, hingga dites lanjutan sampai hasilnya negatif dan akhirnya baru bisa bergabung dengan rekan-rekannya di lapangan.

Karenanya, besar kemungkinan tak ada yang namanya klaster baru dari sepak bola. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan pasar. Kenapa ada klaster pasar, karena tak ada swab test saat pedagamg atau pembeli masuk pasar. Kenapa ada klaster perkantoran? Ya karena tak semua perusahaan mewajibkan karyawan untuk menunjukkan surat bebas Covid-19 saat masuk kerja.

Dalam pernyataan IPW, Kapolri juga disebut membangkang kepada Presiden jika mengeluarkan izin turnamen Piala Menpora. Kali ini, Neta hanya memandang dari sisi kesehatan saja. IPW tak membeberkan dari sisi ekonomi.

Bukankah Presiden Jokowi selalu berkata penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi harus berjalan beriringan. Jika saja IPW menyebut sisi ekonomi, seharusnya Kapolri justru bukan membangkang, tapi malah membantu Presiden dalam memulihkan ekonomi di negara ini, khususnya di sektor olahraga.

Berapa banyak pemain di Liga 1 dan Liga 2 untuk sementara gantung sepatu karena pandemi ini. Padahal, mayoritas dari pemain selalu mengandalkan periuk nasi dari hasil keringat di lapangan. Jika tidak ada pertandingan, pemain akan mengalami kesulitan ekonomi.

Belum lama ini, penulis bertemu dengan marketing properti di Jakarta. Marketing itu bercerita, ada salah satu pemain Liga 1 dan bahkan sering dipanggil seleksi timnas sedang membeli sebuah rumah di Jakarta Timur dengan cara mengangsur.

Namun, pemain tersebut belum bisa melunasinya di saat pandemi karena kompetisi dihentikan. Ia tak lagi punya uang cukup untuk membayar kepada developer kala itu. Uang yang ada hanya untuk membiayai kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :  Jaringan Telekomunikasi Indonesia

Maka, jika turnamen atau kompetisi digulirkan, ini bak angin surga bagi pemain tesebut, juga pemain-pemain lain. Perekonomian di dunia sepak bola akan kembali pulih.

Atas dasar itulah, kenapa saat ini IPW menjadi musuh bersama, baik dari pelaku ataupun pecinta sepak bola di Indonesia.

Sampai-sampai, PSSI menyebut pernyataan Neta provokatif dan tendensius. Neta juga disebut tidak kompeten berbicara soal sepak bola.

Pernyataan demikian diutarakan Staf Khusus Ketua Umum PSSI Arief Wicaksono. Arief mengutarakan semestinya Neta bersama IPW-nya mengurusi hal lain, bukan malah menjadi provokator di lingkup sepak bola. “Seperti kurang kerjaan saja,” kata Arief.

Kontestan Piala Menpora juga ramai-ramai memusuhi IPW. Salah satunya Arema FC, klub kebanggaan Arek-Arek Malang. Melalui juru bicaranya, Sudarmaji, IPW dituding menakut-nakuti saja. Sudarmaji justru meminta Neta agar memberikan solusi, bukan malah menakut-nakuti atau terkesan mengancam.

Dari persoalan ini, tidak ada salahnya jika IPW, Polri, Kemenpora dan PSSI serta pelaku sepak bola saling berdiskusi dalam mencari sebuah solusi, bukan justru saling menyalahkan. Jika sudah ada titik temu, jangan pernah malu untuk meminta maaf satu sama lain.

Seperti petuah dari orang-orang bijak “Jangan pernah kamu malu untuk meminta maaf dan memaafkan orang lain, karena dua hal ini akan menjadi kunci untuk perdamaian”.

 

—Arif M Iqbal, Wartawan Suara Merdeka tinggal di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *