Maybank Bukukan Laba Bersih FY20 Sebesar RM6,48 Miliar Dividen final yang diusulkan sebesar 38,5 sen per saham  

 
 


 

 
Ikhtisar Kinerja Tahunan 2020 (secara tahunan)
 
·       Pendapatan berbasis non bunga bersih (net fee based) tumbuh 12,3% menjadi RM8,11 miliar
·       Pendapatan bunga bersih (net fund based) turun 4,9% menjadi RM16,65 miliar
·       Pendapatan operasional bersih (net operating income) tumbuh 0,1% menjadi RM24,76 miliar
·       Biaya overhead tercatat menurun sebesar 2,7% menjadi RM11.25 miliar
·       Laba operasional sebelum provisi meningkat 2,6% mencatat rekor sebesar RM13,52 miliar
·       Laba sebelum pajak menurun 21,4% menjadi RM8,66 miliar dari RM11,01 miliar
·       Laba bersih turun 20,9% menjadi RM6,48 miliar menjadi RM8,20 miliar
·       Posisi likuiditas yang sehat dengan LCR Group sebesar 142,0% dari 141,0%
·       Posisi modal yang kuat: 18,10% total rasio modal (setelah dividen yang diusulkan, dengan asumsi reinvestment rate sebesar 85%) & rasio CET1 sebesar 14.73%
        
 
Kuala Lumpur, Suara Merdeka Com.-Maybank, bank keempat terbesar di Asia Tenggara dari segi aset, hari ini mengumumkan menutup tahun keuangan yang berakhir 31 Desember 2020 dengan laba bersih sebesar RM6,48 miliar dibandingkan RM8,20 miliar pada tahun sebelumnya, sehubungan Grup harus membukukan secara signifikan net impairment loss yang lebih tinggi disebabkan dampak lanjutan dari pandemi COVID-19, meskipun demikian, hal ini sebagian telah diimbangi oleh pendapatan operasional bersih yang lebih tinggi dan pengurangan biaya overhead. Laba sebelum pajak (PBT) untuk tahun ini turun menjadi RM8,66 miliar dari RM11,01 miliar pada tahun sebelumnya.
 
Terlepas dari tahun yang penuh tantangan, Grup mencatat pendapatan operasional bersih (net operating income) yang stabil atau lebih tinggi 0,1% menjadi RM24,76 miliar dari tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh peningkatan sebesar 12,3% secara tahunan (YoY) pada total pendapatan berbasis biaya bersih menjadi RM8,11 miliar, terutama berasal dari pendapatan asuransi dan investasi bersih yang lebih tinggi karena Grup mampu mendapatkan keuntungan dari return yang lebih baik.
 
Kenaikan pada pendapatan berbasis biaya bersih (net fee based income) sebagian juga tergerus oleh penurunan 4,9% pada total pendapatan berbasis dana bersih menjadi RM16,65 miliar yang disebabkan penurunan margin bunga bersih sebesar 17 basis poin (bps) secara tahunan karena penurunan pinjaman dan security yields, serta dampak dari adanya empat kali pemotongan Overnight Policy Rate sebesar 125 bps serta timbulnya kerugian atas modifikasi suku bunga tetap pinjaman oleh sebab diterapkannya blanket moratorium berjangka waktu enam bulan yang diberikan kepada nasabah.
 
Grup tetap menerapkan manajemen biaya secara disiplin serta membantu mengurangi dampak dari kondisi operasional Grup yang melemah, yang menyebabkan terkelolanya tren penurunan pada biaya overhead menjadi RM11,25 miliar atau 2,7% lebih rendah dari RM11,56 miliar pada FY19. Hal ini berdampak pada rasio biaya-terhadap-pendapatan Grup yang membaik menjadi 45,4% dari 46,7% di tahun sebelumnya.
Oleh karena pendapatan operasional yang lebih tinggi dan biaya overhead yang semakin rendah, laba operasional sebelum provisi (PPOP) mengalami kenaikan 2,6% atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang merupakan sebuah rekor menjadi RM13,52 miliar. Meskipun demikian, Grup terus mengambil sikap konservatif dan melakukan pencadangan secara proaktif karena penurunan peringkat pada portofolio tertentu serta meningkatkannya manajemen overlay khusus untuk bisnis tertentu dan debitur korporasi yang menunjukkan perlambatan di pasar dan pada beberapa portofolio ritel.
 
Kondisi ini menyebabkan net impairment loss meningkat menjadi RM5,07 miliar pada FY20 dibandingkan dengan RM2,32 miliar tahun lalu, yang mempengaruhi laba bersih secara keseluruhan untuk tahun tersebut.
 
Kredit dan simpanan
Operasional Grup di Malaysia mencatat ekspansi gross loans yang stabil sebesar 4,0% untuk FY20, melampaui pertumbuhan industri sebesar 3,4%. Hal ini didukung peningkatan yang sehat sebesar 6,8% di segmen Community Financial Services yang didorong permintaan konsumen serta Perbankan Bisnis dan UKM yang kuat. Namun demikian, di pasar utama yaitu Singapura dan Indonesia, mencatat penurunan masing-masing sebesar 1,9% dan 14,8%, terutama karena adanya upaya write-off dan repayments, mengingat Grup terus mengelola eksposurnya di kedua pasar ini sebagai bagian dari strateginya untuk terus menyeimbangkan kembali portofolionya dengan mengurangi risiko. Akibatnya, gross loans Grup untuk tahun 2020 relatif sama dibandingkan dengan tahun lalu.
 
Sementara itu gross deposits pada tingkat Grup meningkat sebesar 2,6% dimana seluruh pasar menunjukkan peningkatan stabil, yang dipimpin oleh pasar di Singapura sebesar 6,9%, Indonesia sebesar 3,8% dan Malaysia sebesar 1,2%. Peningkatan yang baik terlihat pada segmen low cost current dan saving accounts (CASA), sementara fixed deposits berbiaya tinggi menurun sebagai bagian dari strategi untuk menjaga basis pendanaan yang efisien. Hal ini mengakibatkan rasio CASA Grup meningkat menjadi 42,8% pada Desember 2020 dari 35,5% pada Desember 2019.
 
Pengelolaan aset dan liabilitas yang efektif, serta funding mix juga mendorong Grup untuk dapat mengurangi tekanan pada margin bunga, terutama dari pemotongan suku bunga dan dampak dari Day-One modification loss. Upaya ini mengakibatkan NIM untuk FY20 turun hanya 17 bps menjadi 2,10%, dibandingkan dengan 2,27% di FY19 dan masih dalam kisaran target FY20 sebesar 20 bps.
 
Likuiditas & Kekuatan modal
Maybank terus menjaga posisi likuiditas yang sehat dengan Liquidity Coverage Ratio sebesar 142,0% dan Loan-to-Deposits Ratio sebesar 90,1%. Rasio modal total adalah 18,10% (setelah dividen yang diusulkan, dengan asumsi reinvestment rate sebesar 85%), dengan rasio CET1 di 14,73%, yang menjadi Maybank sebagaisalah satu bank dengan kekuatan modal terbaik di regional.
 
Kualitas Aset
Grup mencatat peningkatan pada kualitas aset dengan rasio Gross Impaired Loans (GIL) turun menjadi 2,23% pada Desember 2020 dari 2,65% pada Desember 2019. Meskipun demikian, Maybank terus mempertahankan sikap proaktif untuk meningkatkan manajemen  overlay terhadap bisnis atau debitur korporasi yang mengalami perlambatan, serta portofolio ritel yang juga mengalami perlambatan di setiap variabel makroekonomi yang terjangka
 
Sementara itu, loan loss coverage untuk tahun tersebut mengalami peningkatan yang signifikan, mencapai 106,3% pada Desember 2020 dari 77,3% pada tahun sebelumnya sebagai akibat dari peningkatan provisi yang dilakukan selama tahun tersebut serta pembentukan kredit baru yang lebih rendah karena mengalami penurunan nilai.
 
Grup terus melakukan pengawasan ketat atas portofolio kredit sebagai bagian dari inisiatif manajemen risiko yang kuat, dan secara aktif melibatkan nasabah yang terkena dampak kondisi bisnis yang menantang untuk memberikan nasihat dan dukungan dalam mengelola kewajiban keuangan mereka.
 
4QFY20 vs 4QFY19
Pada kuartal keempat yang berakhir pada 31 Desember 2020 (4QFY20), Grup mengalami penurunan pendapatan operasional bersih (net operating income) sebesar 2,8% menjadi RM6,31 miliar dari RM6,49 miliar pada 4QFY19 karena kenaikan 0,1% dalam pendapatan berbasis biaya bersih (net fee based income) tidak mampu mengimbangi penurunan 4,0 % pendapatan berbasis dana bersih (net fund income). Akibatnya, PPOP menurun 2,9% menjadi RM3,42 miliar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Ditambah dengan adanya net impairment losses yang lebih tinggi secara signifikan sebesar RM1,50 miliar dari RM298,9 juta pada tahun sebelumnya, PBT untuk kuartal tersebut turun 39,0% menjadi RM1,99 miliar dari RM3,26 miliar pada 4QFY19, sementara laba bersih turun 37,2% menjadi RM1. 54 miliar dibandingkan dengan RM2.45 miliar tahun sebelumnya.
 
Dividen
Direksi telah mengusulkan dividen single-tier final sebesar 38,5 sen per saham, yang terdiri dari porsi electable sebesar 21 sen per saham di bawah Rencana Reinvestasi Dividen (Dividend Reinvestment Plan). Bersama dengan dividen interim sebesar 13,5 sen per saham, jumlah dividen setahun penuh menjadi 52 sen per saham, dan diterapkan ke dalam rasio pembayaran dividen setahun penuh sebesar 91,2%.
 
Chairman dan Group President & CEO Maybank
Maybank Chairman, Tan Sri Dato ‘Sri Zamzamzairani Mohd Isa mengatakan bahwa terlepas dari tantangan yang disebabkan pandemi COVID-19, Grup telah mampu menunjukkan ketahanan dan kemampuannya untuk tetap bergerak dalam mengelola risiko maupun disrupsi lain yang belum pernah terjadi sebelumnya.  “Prioritas utama kami ke depan adalah terus fokus pada keberlanjutan finansial kami dan menciptakan nilai bagi jutaan stakeholders’ kami. Kami akan segera melanjutkan rencana M25 Grup yang akan menetapkan roadmap dan sasaran strategis kami lima tahun ke depan untuk mendorong kami ke tingkat berikutnya dan mempercepat pertumbuhan kami. Kami yakin bahwa rencana ini dapat membantu Grup untuk menjalankan bisnis sesuai tatanan dunia baru dan membangun jaringan yang lebih kuat di kawasan ini.”
 
Sementara itu, Presiden & CEO Grup, Datuk Abdul Farid Alias mengatakan bahwa kinerja Grup ditopang oleh diversivikasi operasional dan fokus dalam memastikan likuiditas dan basis permodalan yang kuat.  “Meskipun kami memperkirakan lingkungan akan tetap menantang dalam jangka menengah, kami berharap momentum ekonomi akan terangkat setelah kampanye vaksinasi digulirkan secara lebih komprehensif. Grup tetap berkomitmen untuk berpegang pada dasar-dasar praktik perbankan yang sehat dan manajemen yang hati-hati yang menjadi dasar fondasi kami, sementara pada saat yang sama mencari peluang penghasil pendapatan baru dan memanfaatkan kemampuan teknologi kami untuk menghasilkan produk dan layanan kelas dunia. Kami sedang mempersiapkan, beberapa inisiatif digital menarik yang dirancang untuk memberikan pengalaman pelanggan generasi berikutnya, yang akan diluncurkan kepada nasabah kami tahun ini. ”
 
Pasar Utama
Maybank Indonesia membukukan laba setelah pajak dan kepentingan non pengendali sebesar Rp 1,3 triliun untuk FY20 dibandingkan dengan Rp1,8 triliun sebelumnya, karena adanya peningkatan penyisihan kerugian sebesar 16,5% yang disebabkan Bank mengambil langkah konservatif pada hampir semua segmen portofolio bisnis yang disebabkan adanya pandemi COVID-19.  Namun demikian, Bank mencatat peningkatan bisnis digital yang signifikan baik di segmen ritel melalui M2U maupun segmen korporasi melalui M2E. Total transaksi melalui M2U pada tahun 2020 melonjak 110% menjadi 10 juta transaksi, baik yang terdiri dari transaksi finansial maupun non finansial, sedangkan simpanan CASA yang dihimpun melalui M2U melonjak 190,2% menjadi Rp3,4 triliun. Total transaksi melalui M2E juga meningkat 36,2% menjadi 970.000 transaksi, dengan jumlah dana yang dihimpun Bank melalui layanan ini melonjak 78,8% menjadi Rp14 triliun.(budi nugraha/69)
 
 

BACA JUGA :  Sertifikasi B Corp, Bentuk Tanggung Jawab Perusahaan kepada Stakeholder

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *