Film Berhenti Di Kamu; Cinta Yang Sederhana.

Film Berhenti Di Kamu. (Istimewa).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Cerita film Berhenti Di Kamu, diangkat dari novel berjudul sama karya Gia Pratama Putra yang dibintangi pasangan Roger Danuarta dan Cut Meyriska sebagai pemeran utama.r

Film produksi Mizan Production dan Max Pictures ini, berkisah tentang Dokter Gia Pratama (Roger Danuarta) yang merasa sudah waktunya untuk mencari pasangan. Saat umroh, ia berdoa di depan Ka’bah agar segera dipertemukan dengan jodohnya.

Tak lama kemudian, sosok Elsa (Salshabilla Adriani) hadir di hidupnya. Gia yakin kalau Elsa adalah wanita yang dikirimkan Tuhan untuknya. Ia lantas melakukan berbagai cara agar Elsa menerimanya. Gia bahkan mau membiayai liburan bersama dengan Elsa dan keluarganya di Eropa.

Sayang, beberapa hari menjelang keberangkatan, Elsa mulai berubah.

Liburan di pegunungan bersalju yang seharusnya menjadi momen indah, berubah menjadi mimpi buruk bagi Gia karena Elsa menolak cintanya.

Tak lama kemudian, Gia tak sengaja bertemu dengan Syafira (Cut Meyriska), yang juga sedang patah hati karena gagal menikah.

Menyaksikan film ini tanpa ekspektasi sama sekali membuat perasaan menonton jadi enak.

Apalagi cerita film tentang mencari pasangan alias jodoh itu sudah jamak. Yang menarik adalah, film ini mengalir seperti kehidupan sehari-hari sejak menit pertama. Sederhana dan tak berlebihan.

Termasuk untuk urusan wadrobe, nampaknya film ini sangat memperhatikan detail penampilan karakter yang dibuat tak berjarak dengan penonton kebanyakan.

Kehangatan keluarga yang ditampilkan dalam film ini juga jadi bumbu penyedap yang pas. Masing-masing keluarga memberikan peran dalam membentuk cerita cinta Gia.

Ada canda, tawa, tangis, tragedi, kepercayaan, pegorbanan, dan cinta yang ditampilkan secara silih berganti. Tanpa menggurui tapi bisa dirasakan dengan mudah.

BACA JUGA :  Rektor UGM Prof.Ir Panut Mulyono; Sambutan Masyarakat Pada GeNose C19 Luar Biasa.

Kunci terkuat dari film ini adalah skenario yang apik. Juga editan yang ciamik. Seperti keyakinan bahwa Tuhan memberi manusia cobaan untuk sebuah alasan tertentu.

Adegan-adegan di film ini tampil dengan alasan-alasan yang dimunculkan pada waktu yang tepat. Tak ada yang tercecer, setiap adegan menunjukkan fungsi yang tepat. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *