Pelabuhan Tanjung Priok Menuju Pelabuhan Green Port dan Smart Port

DALAM upaya mewujudkan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbaik nasional, berbagai upaya terus dilakukan oleh Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok amugen S Sartoto.
Kalangan pebisnis di pelabuhan Tanjung Priok turut merespon adanya sejumlah inovasi dan pelabuhan tersebut.
Wakil Ketua Umum bidang Kepabeanan DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Widijanto menilai, selama ini kinerja kepemimpinan sudah cukup maksimal berkolaborasi dengan stakeholders dalam mengurai berbagai persoalan di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.
Harapannya, sebagai pimpinan puncak di pelabuhan, Kepala OP Priok yang b bisa melanjutkan hal-hal apa saja yang sudah baik sebelumnya serta menyelesaikan persoalan-persoalan apa saja yang masih menjadi hambatan pebisnis di pelabuhan itu.
Sejumlah PR yang masih perlu mendapat perhatian dari Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok antara lain; menyangkut uang jaminan kontainer, dan implementasi penuh delivery order (DO) online.
Selain itu, Otoritas Pelabuhan harus memastikan kelancaran arus barang dan logistik melalui pelabuhan Priok menjelang dan saat memasuki libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 (Nataru).
Sedangkan pada aspek keselamatan angkutan laut dan kepelabuhanan, pihak Syahbandar mesti menjadi garda terdepan dalam memastikan terselenggaranya kegiatan jasa angkutan laut yang aman dan nyaman.
Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbesar dan tersibuk di Imdonesia menjadi barometer perekonomian nasional lantaran lebih dari 65% perdagangan ekspor impor maupun domestik dikapalkan melalui pelabuhan tersebut.
Pelaku usaha mengharapkan dengan adanya kepemimpinan OP maupun Syahbandar di pelabuhan Priok itu, tetap melibatkan stakeholders terkait dalam setiap kebijakan yang akan diambil nantinya.

 Pelabuhan Tanjung Priok sendiri, Jakarta, ditargetkan meraih predikat Green Port pada tahun 2021, sebagai pelabuhan yang Bersih, Bebas Pencemaran, dan Ramah Lingkungan.
Konsep Ecoport merupakan tantangan dalam penerapan, elemen-elemen kunci dan pilar dalam penerapan Ecoport, hingga program dari Forum Ecoport tersebut. 
Pembangunan pelabuhan berwawasan lingkungan (ecoport) diartikan sebagai pengembangan pelabuhan berkelanjutan (sustainable port) yang tidak hanya memenuhi persyaratan lingkungan hidup, akan tetapi juga mengangkat kepentingan ekonomi pelabuhan.
Konsep Ecoport memiliki empat pilar. Pertama, pemenuhan semua persyaratan regulasi di bidang lingkungan hidup (compliance). Kedua, penerapan sistem manajemen lingkungan (misalnya ISO 14001) untuk menjamin keselarasan dan konsistensi pelaksanaan program-program lingkungan yang telah ditetapkan.
Ketiga, pelaksanaan green initiatives. Yang terakhir adalah keterlibatan stakeholders untuk mendukung upaya pemenuhan regulasi di bidang lingkungan hidup dan implementasi green initiatives di pelabuhan.
Dalam upaya memenuhi target dimaksud, Sekretariat Bersama (Sekber) Penanganan dan Pengawasan Limbah, akan secara rutin melakukan kegiatan sosial terkait kepedulian lingkungan serta penerapan sanksi kepada kapal atau pengguna jasa yang melakukan pencemaran. 
Pada tahun 2021,kata Mugen, pihaknya mempunyai program pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan menginventarisir fasilitas dalan rangka pencegahan pencemaran di Pelabuhan Tanjung Priok.
Mugen tak menampik bahwa kesadaran hukum masyarakat menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan kawasan pelabuhan Bersih, Bebas Pencemaran, dan Ramah Lingkungan. 
Oleh karena itu, ia akan melakukan edukasi secara terus menerus tentang program ecoport ini. Ia juga akan mengajak stakeholder untuk mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan terutama ke sungai, mengingat pelabuhan Tanjung Priok merupakan muara dari sejumlah kali di wilayah Jabodetabek.

Tren Dunia

Lebih lanjut Mugen S Hartoto mengatakan, perubahan kebiasaan memerlukan adanya upaya atau sinergitas bersama. 
Penerapan konsep ecoport di pelabuhan internasional termasuk di dalamnya adalah upaya perlindungan habitat satwa, penggunaan bahan ramah lingkungan, pengurangan limbah, konservasi energi dan antisipasi perubahan iklim melalui penggunaan energi baru dan terbarukan.
Penerapan konsep ecoport, memerlukan perubahan kebiasaan (habit). Sebagai contoh, kepedulian setiap individu dalam menjaga kebersihan dan mengurangi sampah plastik di lingkungan pelabuhan. 
Dalam dunia kepelabuhanan, kata Agus, ecoport telah menjadi salah satu tren dunia untuk mendukung kecintaan terhadap lingkungan. Ecoport merupakan konsep pelabuhan yang memperhatikan aspek lingkungan.
Oleh karena itu, kata dia, telah menindaklanjuti Forum Ecoport Pelabuhan Tanjung Priok yang telah dibentuk tahun lalu, serta terus berupaya untuk mendukung terciptanya pelabuhan yang ecofriendly.
Forum Eco Port sendiri dibuka Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub R Agus H Purnomo secara virtual menghadirkan Staf Ahli Kemaritiman dan Investasi bidang Manajemen Konektivitas Kemenko Kemaritiman dan Investasi Sahat Manoar Panggabean, Direktur PKPLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sinta Saptarina, Kepala Syahbandar Utama Pelabuhan Tanjung Priok Capt. Wisnu Handoko,  Direktur Teknik Pelindo II Zuhri Iryansyah.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan sekretariat bersama (Sekber) penanganan dan pengawasan limbah di Pelabuhan Tanjung Priok antara Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok Capt. Mugen S Sartoto dan Kepala Syahbandar Utama Pelabuhan Tanjung Priok Capt. Wisnu Handoko.
Mugen mengatakan, dua tahun lalu telah dilakukan komitmen bersama antar stakeholder di Pelabuhan Tanjung Priok yang digagas oleh Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, dalam mendeklarasikan Forum Ecoport Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini untuk mewujudkan pelabuhan tersebut menjadi pelabuhan berwawasan lingkungan dan memberikan nilai tersendiri.
Menurut Mugen, Deklarasi Forum Ecoport merupakan hasil kajian Konsep Ecoport yang telah dilakukan oleh Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok. 
“Dalam Peraturan Menteri Perhubungan nomor PM 51 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut secara spesifik mengatakan bahwa untuk menjamin dan memelihara kelestarian lingkungan di pelabuhan, Otoritas Pelabuhan harus menyediakan fasilitas pencegahan pencemaran dan menjamin pelabuhan yang berwawasan lingkungan (ecoport).
Sebelum ini, Kemenhub melalui KSOP Tanjung Priok menggelar apresiasi Kinerja Stakeholders bertajuk Gelar Penganugerahan OP Awards 2020
Kegiatan tersebut merupakan wujud apresiasi bagi Badan Usaha Pelabuhan (BUP), Terminal Operator, serta para stakeholder lainnya di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok, Kementerian Perhubungan melalui Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok.
Awards diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada para BUP, Terminal Operator, serta para stakeholder di lingkungan pelabuhan Tanjung Priok atas upaya mereka untuk meningkatkan kinerja, digitalisasi layanan kepelabuhanan, serta upaya-upaya lainnya untuk menuju Green Port, dan tentunya ke depan menuju Smart Port.
Pihaknya berharap, penghargaan yang diberikan ini dapat memicu teman-teman stakeholder sekalian untuk dapat tetap memberikan pelayanan terbaik dan menciptakan suasana yang kondusif dan solutif meskipun di tengah pandemi, sehingga aktivitas di Pelabuhan dapat berjalan dengan efisien dan efektif.
Selain itu, Mugen S Sartoto juga mengajak seluruh stakeholders untuk bersama-sama bergotong-royong bahu membahu untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi Pelabuhan Tanjung Priok, yang merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia, sehingga dapat mendukung kegiatan ekspor-impor maupun kegiatan lainnya di Pelabuhan.
“Kita semua mengetahui bahwa saat ini kondisi pelayaran internasional, biaya kargo internasional sedang dalam kondisi tidak normal. Oleh karenanya, ayo kita semua, para stakeholder di Pelabuhan bergerak mendukung agar aktivitas ekspor impor bisa berjalan dengan lebih cepat dan efisien, terutama aktivitas ekspor. Dengan demikian, para produsen dalam negeri, termasuk UMKM bisa melakukan kegiatan ekspor-impor dengan cepat dan efisien,” ujarnya.
Sebagai Pelabuhan terbesar di Indonesia, Dirjen Agus beranggapan, Pelabuhan Tanjung Priok harus menjadi cermin bagi semua Pelabuhan di Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi dan gotong royong dari seluruh stakeholder untuk mendukung Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan Green Port dan ke depan menjadi Smart Port, sehingga menjadi Pelabuhan Percontohan di Indonesia
Pada acara Penganugerahan OP Awards Tahun 2020 ini, pihaknya memberikan penghargaan kepada para stakeholders atas 7 (tujuh) kategori, antara lain adalah Kontributor PNBP 2020, BUP/Terminal Operator dengan Tingkat Pencapaian Zero Accident, BUP/Terminal Operator Terinovatif dalam Mendukung Digitalisasi Layanan Kepelabuhanan, BUP/Terminal Operator Green Port, Perusahaan Bongkar Muat (PBM) Terbaik dalam Administrasi dan Pelaporan, TKBM Terproduktif dan Safe Performance, serta Terminal Operator dengan Kinerja Terbaik.
Selain memberikan awards dengan kategori tersebut, Mugen mengungkapkan, pihaknya juga meluncurkan secara resmi tagar #2021PRIOKGOGREEN. Tagar ini menurutnya, merupakan penegasan atas komitmen OP Tanjung Priok untuk mewujudkan Pelabuhan Tanjung Priok menjadi Green Port pada tahun 2021.
Tagar ini menegaskan komitmen dan tekad kita yang kuat untuk mewujudkan Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 2021 ini dapat mencapai label go green,.
Sebagai informasi, kegiatan Penganugerahan OP Awards 2020 ini diikuti oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Para Kepala Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) di wilayah kerja Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Kepala Instansi Pemerintah, Ketua Asosiasi dan Stakeholders di Lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok yang keseluruhannya sekitar 50 orang secara offline dan online.
Berikut adalah kategori dan pemenang OP Awards Tahun 2020:
1.Kontributor PNBP 2020, terdiri dari:
a.Kontributor PNBP Terbaik: PT. Pelindo II Cabang Tanjung Priok
b.Kontributor PNBP Jasa Labuh Terbesar: PT. Pelayaran Bintang Putih
c.Kontributor PNBP Konsesi Terbesar: PT. Jakarta International Container Terminal (JICT)
2.BUP/Terminal Operator dengan Tingkat Pencapaian Zero Accident: PT. New Priok Container Terminal 1 (NPCT1)
3.BUP/Terminal Operator Terinovatif dalam Mendukung Digitalisasi Layanan Kepelabuhanan: PT. Pelindo II Cabang Tanjung Priok
4.BUP/Terminal Operator Green Port:
a.BUP/Terminal Operator dengan Administrasi dan Pelaporan Lingkungan Terbaik: PT. Pertamina TUKS Tanjung Priok
b.BUP/Terminal Operator dengan Sarana Pengelola Lingkungan Terbaik: PT. Jakarta International Container Terminal (JICT)
c.BUP/Terminal Operator dengan Ide Inovasi Original: PT. Jakarta Tank Terminal
d.BUP/Terminal Operator dalam Mendukung Green Port di Pelabuhan Tanjung Priok: PT. Indofood Sukses Makmur Divisi Bogasari Jakarta
5.Perusahaan Bongkar Muat (PBM) Terbaik dalam Administrasi dan Pelaporan: PT. Jasa Anugerah Samudra
6.Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Terproduktif dan Safe Performance: Amik (KTA 0890/448)
7.Terminal Operator dengan Kinerja Terbaik: PT. Jakarta International Container Terminal (JICT).
Capt. Mugen S. Sartoto kembali menegaskan bahwa, perkembangan Sosial Ekonomi daerah hinterland Pelabuhan Tanjung Priok (Provinsi DKI Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat) meningkatnya arus volume barang (konvensional & petikemas) dari segi kapasitasnya masih memadai, namun aksesibitasnya dari dan menuju pelabuhan yang sangat rendah karena masalah kemacetan lalu lintas serta lamanya bongkar muat termasuk dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok (5,5 hari) membuat tidak efisien, dari segi biaya transport logistik menjadi lebih mahal maupun dari segi waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan bongkar muat barang. 
Terkait digitalisasi Pelabuhan Tanjung Priok untuk Menuju Smart Port.
Berdasarkan kondisi Pelabuhan Tanjung Priok tersebut, kata Mugen, maka muncul rencana-rencana pembangunan terminal yang baru dan peningkatan dari pelabuhan-pelabuhan yang sudah ada sebagai alternatif dalam peningkatan kinerja dalam pelayanan kepelabuhan.
Kedepan, pengelolaan kepelabuhanan dan pelayaran sudah mesti mengarah pada digitalisasi. Karena eranya memang sudah harus menuju kesana. Pelabuhan di Indonesia juga sudah mesti bisa bertransformasi menjadi smart port dan digital port. Dengan transformasi tersebut diharapkan bisa meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan pelabuhan.
Mugen menegaskan, bahwa pelabuhan di Tanjung Priok pun juga harus mengarah smart port dan digital port. Saat ini tantangan terbesar adalah mentransformasi pelabuhan menjadi smart port ataupun digital port.
Menurut dia, Smart port dan digital port merupakan layanan terintegrasi di pelabuhan yang terkoneksi secara digital. Di Tanjung Priok, digital port sebagian sudah dilaksanakan. Namun, penerapan teknologi itu memerlukan kerja sama lintas stakeholder, dan perlu ditingkatkan lagi.
Dia juga mengungkapkan, smart port dan digital port diyakini mampu meningkatkan layanan dalam sisi efektivitas layanan pelabuhan. Selain itu, layanan ini juga mampu mengefisiensikan sumber daya di pelabuhan.
Kedepan selain infrastruktur, digital port dan smart port merupakan hal penting, dan itu memerlukan SDM yang handal dan profesional dibidangnya.
Mugen Sartoto juga mengatakan, pembangunan proyek terminal Kalibaru atau New Tanjung Priok terus dilanjutkan.
Mugen mengatakan, container terminal one (CT1) yang merupakan bagian dari New Tanjung Priok telah selesai dibangun. Selanjutnya, akan dibangun New Priok Container Terminal Two (CT2) dan New Priok Container Terminal Three (CT3) serta area untuk Product Terminal 1 (PT1) dan Product Terminal 2 (PT2).
Yang sudah beroperasi sekarang ada satu terminal, kurang lebih 34 hektare dengan panjang dermaga 800 meter. Untuk sisi sebelah timur, sisi kedua dan sisi ketiga sekarang sedang dalam proses. Pihaknya memproyeksikan 2023 sudah operasional.
Mugen mengatakan, kapasitas dermaga domestik dan internasional pelabuhan tanjung priok sudah mulai jenuh.sebab itu dibutuhkan pengembangan kedepannya yang saat ini tengah diupayakan secara bertahap. Salah satu prioritas pengembangan pelabuhan tajung priok adalah dengan mendorong peningkatan pengelolaan kepelabuhanan lebih ramah lingkungan.
Prioritas ini penyelenggaraan kegiatan kepelabuhanan yang lebih ramah lingkungan.
Terdapat sejumlah tantangan pengembangan pelabuhan tanjung priok ke depannya. Diantaranya terkait konektivitas antar pelabuhan, perkembangan industri 4.0, kompetisi antar pelabuhan dan keterbatasan kapasitas pelabuhan.
Ia mengatakan, pengembangan tanjung priok kedepan memperhatikan sejumlah hal. Seperti meningkatkan kapasitas dan efektifitasnya, peningkatan fasilitas, kerjasama dengan stakeholder terkait dan pengembangan berkelanjutan yang memperhatikan lingkungan.
Untuk itu pihaknya mengharapkan Tanjung Priok menjadi stimulasi bagi pengembangan DKI Jakarta.
– Dia juga menyampaikan bahwa pembangunan Terminal Kalibaru atau New Tanjung Priok terus dilanjutkan seiring kapasitas dermaga internasional dan domestik yang sudah mulai jenuh.
Kapasitas dermaga internasional dan domestik sudah mulai jenuh, membutuhkan pengembangan. Saat ini New Priok Container Terminal One (CT1) sudah selesai dibangun,.
Ia memaparkan pembangunan Terminal Kalibaru terus dilakukan mencakup New Priok Container Terminal Two (CT2) dan New Priok Container Terminal Three (CT3) serta area untuk Product Terminal 1 (PT1) dan Product Terminal 2 (PT2).
Ia menyampaikan bahwa pembangunan terminal di Pelabuhan Tanjung Priok akan terus dilakukan seiring dengan terus meningkatnya arus volume barang (konvensional & peti kemas)
“Dari segi kapasitasnya masih memadai, namun aksesibilitas dari dan menuju pelabuhan cukup rendah karena masalah kemacetan,” katanya.
Selain itu, lanjut dia, lamanya bongkar muat termasuk dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok (5,5 hari) juga membuat biaya transpor logistik dan waktu menjadi tidak efisien.
” Berdasarkan kondisi Pelabuhan Tanjung Priok itu, maka muncul rencana-rencana pembangunan terminal yang baru dan peningkatan dari pelabuhan-pelabuhan yang sudah ada sebagai alternatif dalam peningkatan kinerja dalam pelayanan kepelabuhan,” paparnya.
Kapasitas total terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok ditargetkan akan mencapai 11,5 juta TEUS per tahun setelah pembangunan Terminal Kalibaru selesai seluruhnya.
“Terminal Petikemas Kalibaru atau New Priok Container Terminal atau NPCT I siap melayani kebutuhan jasa kepelabuhan khususnya untuk kargo petikemas.
Terminal Petikemas Kalibaru sebenarnya telah dioperasikan secara komersial sejak 18 Agustus 2016.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan pengoperasian terminal tersebut.
Terminal itu dioperasikan oleh joint venture company antara Pelindo II (IPC) TPK dan Komsosrsium Mitsui-PSA-NYK Line yaitu PT New Priok Container Terminal One (NPCT1). Terminal tersebut berkapasitas 1,5 juta TEUS per tahun.
Terminal Kalibaru dibangun untuk meningkatkan kapasitas secara bertahap guna mengantisipasi pertumbuhan arus petikemas dan kargo Pelabuhan Tanjung Priok.
Kapasitas penanganan petikemas Pelabuhan Tanjung Priok yang semula sekitar 5 juta TEUs per tahun pada 2009-2010, ditanggulangi dengan program jangka pendek dengan penataan konfigurasi terminal, penambahan peralatan dan penataan pola operasi menjadi 7 juta TEUs per tahun.
“Diharapkan kehadiran Terminal Petikemas Kalibaru dapat memperlancar arus kapal dan barang dalam perdagangan domestik dan internasional.
Ia menyebutkan ke depan IPC akan membangun kapasitas, konektivitas dan integrasi logistik maritim.
“Besar harapan kami Terminal Petikemas Kalibaru juga dapat memperkuat rabtau logistik Indonesia dan dunia serta mampu mempekuat daya saing dan perdagangan Indonesia di kancah dunia,” kata Mugen.(budi nugraha/69)

BACA JUGA :  JD.com Induk Perusahaan JD.ID Raih Peringkat ke-59 Dalam Daftar 500 Perusahaan Fortune Global

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *