Novel Disorder; Akmal Membaik Dengan Sendirinya.

Akmal Nasery Basral. (Doc Pribadi Akmal Nasery Basral).

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.comAkmal Nasery Basral adalah pencerita dan penulis yang kuat. Karenanya, dia akan dan segera menjadi hebat. Karena proses ke arah itu, terus diaperbuat.

Buktinya, di novel terkininya; Disorder (XXI + 484 hlm ; 20,5 cm, Cetakan Pertama, Desember 2020), hadir dengan cara bertutur yang kuat dan nikmat.

Kekuatan itu jelma dari gaya menulis yang ajeg menjaga rima, yang dihasilkan dari kekayaan diksi yang terjaga. Lebih utama lagi, dengan kekuatan membaca demi mendapatkan data, dan merabuk pengetahuan yang ensikopledik. Plus dibarengi dengan keluwesan menulis yang makin mahir dengan sendirinya, maka membuatnya makin layak menjadi sebagai penulis yang tidak biasa.

Sebagaimana kita maklumi, penulis hebat lahir dari kemampuan membaca (apa saja) dan menulis (apa saja) dengan sama luwes dan baiknya. Dan Akmal mempunyai itu semua. Meski secara sastrawi, penggunaan analoginya, paling tidak menurut hemat saya, tidak atau belum ada yang baru.

Tapi saya yakin, akan menyempurna pada karya selanjutnya.

Bahwa gaya bertutur Akmal bisa jadi tidak cocok dengan cara bertutur penulis yang kita kiblati, kita panuti, kita senangi, karenanya sedikit banyak memengaruhi hasrat menekuni cerita, itu dua hal yang berbeda.

Menerima cerita dengan penuh dan utuh, adalah bagian dari penerimaan kita atas hidup yang diberkatkan dalam keseharian kita. Karena sebagaiamana dinubuatkan Orwel, penerimaan adalah bagian dari kebahagiaan.

Atau sebagaimana ditulis Akmal dengan bagus sekali di halaman 88; //Malam yang membahagiakan meski tidak sempurna/ Toh untuk bahagia tak harus mencapai kesempurnaan lebih dahulu/ Karena dalam ketidaksempurnaan pun bisa ditemukan kebahagiaan yang menentramkan//.

Jadi berbahagialah menerima dan menekuni Disorder, meski pada awalnya, novel ini hadir sebagai bagian dari “order” yang ditantangkan penerbit Bentang kepada si empunya penulis.

Tapi tantangan (order) yang akhirnya menjelma novel Disorder, ini hadir sebagai sebuah tualang yang mengasyikkan. Pengembembaraan dan pakansi ke masa depan. Yang sesak tegangan, tikungan, dan kejutan.

Meski tentu saja tetap ada lubang di sana. Presisi cerita yang sangat bisa kita perdebatkan, atas nama ilmu pengetahuan dan kebaikan. Bukan atas nama yang lain.

BACA JUGA :  FFP 2021 Sepenuhnya Daring.

Seperti persoalan perjalanan darat DR Ata dari Kupang ke Atambua, lalu ke Matoain, yang berjarak sebenang dengan Timor Leste.

Saya pernah menyaksikan Konser Perbatasan Slank di Lapangan Simpang Lima, Atambua, Belu, NTT pada 2017. Kemudian sedikit berpakansi ke Matoain, menyeberangi kali kecil, yang pada sebuah masa menjadi kurusetra antarwarga Timor pendukung Integrasi ke RI dan penolaknya.

Dari Kupang – Atambua dengan pesawat Wings berbaling-baling jarak 270-an KM kami tempuh dengan waktu 45 menitan, sampai Bandara A.A Bere Tallo. Dengan perjalanan darat, pada kisaran waktu enam (6) jam-an. Karena memang ada kru, terutama sound system dan lighting yang harus menggunakan perjalanan darat dari Kupang ke Atambua. Demi menghemat biaya.

Lalu Dr Atta, pada tahun 2026 Sebagaimana yang ceritakan Akmal dalam Disorder masih menggunakan logika, sebagaimana yang terjadi pada tahun 2017, ihwal waktu tempuh dari Kupang ke Atambua.

Dengan tenggat waktu sembilan (9) tahun, saya haqul yakin waktu tempuh perjalanan darat menjadi lebih singkat, dari Kupang-Atambua PP. Atau paling tidak, jauh lebih cepat waktu tempuhnya. Dengan keadaan jalan yang secara sunatullah, sangat bisa jadi lebih baik, dan didukung moda transportasi lebih maju pula. Plus skedul penerbangan yang bertambah dari El Tari Kupang-Atambua PP.

Alih-alih sampai hotel di Kupang pukul 3.00 dini hari (hal 42), Doktor Ata — yang dicitrakan selain ayune rak karuan, juga pinter sundul langit — seharusnya bisa memanfaatkan moda udara, yang sangat bisa jadi pada 2026, skedulnya bertambah dari bandara A.A Bere Tallo ke Kupang, dan sebaliknya. Jadi Ata bisa memanfaatkan waktunya untuk perkara lainnya, demi melunaskan rasa ingin tahu dan menyelamatkan umat manusia.

Bahkan tokoh rekaan Akmal sendiri bernama Xiu Ying a.k.a Putri Giok Merah mengatakan, “Kita hidup di tahun 2026. Tak ada lagi tempat terpencil di manapun di muka bumi.” (Hal 221).

Tapi jangan lupa, pengarang adalah tuhan dengan t kecil atas karyanya. Otoritas logikanya berkuasa sepenuhnya atas jalan cerita. Jadi merdeka dan berkuasa total atas segala kemerdekaan subyektifnya.

Namun yang pasti, dari Disorder saya makin percaya, Akmal telah berupaya menggali data dan fakta dengan ketat. Bahkan sangat detil dalam banyak hal lain. Kemudian mengkurasinya dengan sepresisi mungkin, setelah sebelumnya melunaskan sejumlah wawancara kepada beberapa ahli di bidangnya.

BACA JUGA :  Pemerhati Anak Beri Peringatan Keras  Bahaya BPA.

Sehingga kita seperti dibawa berpakansi ke tempat dan perkara sebenarnya. Membentang dari Atambua sampai Depok, Jakarta, Lyon, Saint-Cyr-sur-Menthon, Herbin, dan Beijing. Meski sepengakuannya, Akmal hanya menyiapkan novel keren ini selama 177 hari pengerjaan (hal 480). Untuk itu saya menjura kepadanya.

Oh ya, bersama Akmal, saya juga pernah terlibat (tepatnya dilibatkan Akmal) dalam penulisan buku Simfoni Untuk Negeri, yang bernarasi tentang kiprah Twilite Orchestra dan Magenta Orchestra pada 2011, lalu.

Saya turut membantu melakukan wawancara dengan banyak narasumber di buku tersebut. Kemudian Akmal yang meraciknya, laksana koki juara, menjadi tulisan yang menarik, berisi dan apik.

“Yang penting datanya lengkap. Seperti koki. Kalau bahannya lengkap. Mau masak apa aja, enak dan bisa kita. Demikian juga tulisan. Kalau bahan lengkap, nulis apa saja, mampu kita,” demikian dikatakan Akmal kala itu. Yang membuat Indra Usmansyah Bakrie, Addie MS dan Andi Rianto puas dibuatnya.

Saya juga haqul yakin, di buku ini, Akmal melakukan pengumpulan data yang sangat terukur. Sehingga hasilnya tidak ngawur. Menjadikan ilmu pengetahuan di buku ini menjadi makmur. Dengan latar kerja jurnalistik, yang menggembleng Akmal selama ini. Pada akhirnya membuat karyanya lahir menjadi liat dan istimewa.

Selebihnya, sila baca sendiri Disorder. Tentang dunia virus yang njlimet marakke mumet, ihwal pagebluk yang gebukannya bikin mabok peradaban, juga para Grand Master — yang belum tentu mahir main catur — dan sang Guru yang nyaris tak tersentuh apapun, tapi menentukan nasib dan peradaban dunia.

Juga fembot dan male bot, Vati-Leaks, serta aneka tualang perkara genting lainnya. Juga dunia inteljen yang mengaburkan siapa benar siapa salah, dengan logika bawah tanahnya. Serta tentang pentingnya mempunyai kemampuan menahan rasa ingin tahu. Yang dalam banyak perkara, justru dapat menyelamatkan nyawa kita.

BACA JUGA :  Kalau Bukan R Soeprapto, Basrief Arief Adalah Bapak Kejaksaan RI

Serta ini yang utama, berurusan dengan banyak persona yang mempunyai disiplin tinggi dalam urusan menahan diri. Orang-orang seperti ini, biasanya emosinya terjaga, emotion capital sebagai harta karun tertinggi manusia, mengalahkan intellectual capital, benar-benar dilaraskan oleh Akmal dengan apik sekali.

Saya sangat menikmati cerita tentang manusia-manusia adi seperti didongengkan dalam novel ini. Seperti orang Jawa pada sebuah masa saja. Pandai menahan diri. Karena ilmu dan emosinya nggegirisi. Madep, mantep, menep. Entah sekarang. Yang sedikit-sedikit pasang status recehan di medsos. Kemayu. Genit.

Meski saya sedikit menyayangkan, dalam buku elok ini, Akmal tidak berani berspekulasi siapa presiden Indonesia di tahun 2026. Apakah masih nama yang sama, karena ada pergantian, amandemen UU atau apapun namanya, yang menyatakan, Presiden boleh menjabat selama tiga periode, atau seumur hidup karena saking berprestasi dan dicintainya oleh masyarakat, misalnya.

Atau nama baru yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, atau Menhankam, contohnya. Atau nama lain yang tak diduga sebelumnya. Seperti mantan Gubernur Jateng atau Jabar, misalnya. Atau teori-teori lainnya yang tak terduga, dan siapa tahu, menjadi kenyataan pada warsa itu.

Juga nama Ketua MUI disembunyikan juga. Apakah orang NU atau Muhammadyah, misalnya. Kalau Akmal mampu dengan detil berkisah tentang Syekh al-Qibrisi, yang mempunyai kemampuan berbahasa layaknya Remy Sylado, mosok sekedar menyediakan sebuah bab untuk historiografi minor presiden Indonesia, dan Ketua MUI di tahun 2026 tak berani. Apakah MUI di tahun itu, masih jadi bahan olok-olok Gus Mus, misalnya.

Apapun itu, Disorder adalah bacaan yang berkasiat. Karenanya, berdebatlah kita atas nama ilmu pengetahuan dan kebaikan, setelah menekuni buku ini. Karena terlalu banyak yang luar biasa di novel ini, yang akan membuat pintar pembacanya, sekaligus sport jantung pada saat bersamaan. Karena, sekali lagi, ketegangan yang disajikan.

Selamat bertualang ke masa depan dengan deg degan. Signum crucis. Sabbe satta bhavantu sukhitatta. (Bb-69).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *