Menilik kiprah BTN Sang Lokomotif Pemulihan Ekonomi Di Sektor Perumahan

PERUMAHAN menjadi salah satu sektor strategis yang diharapkan bisa mengungkit pertumbuhan ekonomi tahun depan 5%.Oleh karena itu, sektor yang satu ini memperoleh perhatian dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) karena menggerakkan kurang lebih 175 industri dan menyerap tenaga kerja 4,23 juta orang.
Pengeluaran rumah tangga dari sektor ini juga dapat menambahkan peningkatan PDB sebesar 0,6%-1,4%. Artinya, setiap pembiayaan yang dilakukan pada sektor perumahan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi.
Hal ini seiring dengan salah satu kesimpulan dalam upaya pemerintah ” Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional melalui Sektor Perumahan” yang berulangkali dicanangkan oleh pemerintah akhir-akhir ini.
Selama ini, sektor perumahan menyumbang kontribusi terhadap PDB Indonesia sekitar 2,7%. Bahkan di tengah tekanan pandemi yang menyebabkan perekonomian domestik di kuartal III mengalami kontraksi minus 3,49%, sektor perumahan masih mampu tumbuh positif.
Berdasarkan data yang diumumkan BPS November 2020, terdapat tujuh sektor yang tumbuh positif secara tahunan. Sektor real estat berada di urutan ketujuh sebesar 1,98%,” . Karena itu, peran bank penyalur KPR sangat signifikan, terutama dalam merespon salah satu harapan pemerintah agar bank penyalur sektor perumahan memberikan kredit bagi pekerja sektor informal yang berjumlah 60% dari populasi. Dengan demikian, pemerintah berharap bank menjadi pelopor bagi penyediaan KPR untuk pekerja sektor informal. Situasi ini, sejalan dengan masih membanjirnya warga masyarakat yang ingin memiliki rumah melalui fasilitas pembiayaan syariah.
Sementara itu, laporan prospek ekonomi terbaru dari Oxford Economics dan the Institute of Chartered Accountants in England and Wales memperkirakan PDB Asia Tenggara berkontraksi sebesar 4,1% pada tahun ini sebelum melonjak tajam menjadi 6,2% di 2021.Untuk Indonesia, laju pemulihan ekonomi dinilai belum pasti terutama akibat tren mobilitas yang lemah, impor yang tergelincir dua digit, dan melemahnya penjualan retail.
Fokus negara-negara di Asia Tenggara ialah mencegah infeksi tambahan dan bertahap mengembalikan kegiatan ekonomi dan masyarakat, mengutip ICAEW Regional Director, Mark Billington saat berbicara dalam FGD
Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional melalui Sektor Perumahan” yang digelar DPD RI Januari 2021 lalu.
Meski dalam kondisi pandeki, sektor pembiayaan perumahan diprediksi bakal menggeliat usai ditandatanginya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat ( Tapera).
Adapun, berdasarkan PP tersebut, Badan Pengelola (BP) Tapera akan segera beroperasi menghimpun dan menyediakan dana murah jangka panjang untuk pembiayaan perumahan serta memenuhi kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau.
Melalui program ini, pemerintah menargetkan masyarakat yang terkendala keterbatasan dana dapat memiliki rumah.
Pusat Studi Properti Indonesia memperkirakan langkah pemerintah membentuk BP Tapera bakal ikut menopang sendi-sendi perekenomian. Sebab, program ini akan mendongkrak pembiayaan perumahan.
Hingga, nantinya para peserta program Tapera juga bisa mengajukan pembiayaan perumahan lewat perbankan yang mengelola dana program ini, sehingga cepat atau lambat (BP Tapera) pasti bisa mendongkrak pembiayaan perumahan.
Masih menurut Pusat Properti Indonesia itu, besaran iuran Tapera dari potongan gaji pekerja pun masih masuk akal. Sebab, para pekerja bakal menerima manfaat yang lebih besar, yakni memiliki rumah.
Karena itu pula, Pusat Properti Indonesia menyarankan semua pihak baik stakeholder maupun yang terkait dengan sektor pembangunan perumahan harus belajar dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia (memberikan hunian bagi masyarakat), karena ini membangun keseimbangan yang sebenarnya, membangun masyarakat yang adil. Inikan untuk mensejajarkan Indonesia dengan berbagai negara.
Adapun untuk mengelola dana yang dikumpulkan dari peserta, BP Tapera akan menggandeng perbankan Tanah Air. Bank-bank tersebut, lanjutnya, memiliki potensi untuk mengelola dana Tapera.
Namun,- tentu saja- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk disebutnya akan mengelola dana tersebut dengan porsi yang paling besar, lantaran BTN yang merupakan memang fokus dalam pembiayaan perumahan.
Pasca diumumkannya penyelenggaraan Tapera sesuai dengan PP Nomor 25 Tahun 2020, harga saham BTN sempat naik hingga 21,05 persen ke level Rp 920 per saham pada perdagangan Selasa (2/6/2020). Bahkan saham BTN juga sempat naik ke level Rp 940 per saham atau 23,68 persen.
Sebagai informasi, BP Tapera nantinya tak hanya mengelola dana perumahan bagi pegawai negeri sipil (PNS), melainkan juga seluruh perusahaan.
Di dalam Pasal 7 PP Nomor 25 Tahun 2020 dijelaskan, dana Tapera berasal dari pekerja yang gajinya dipotong, meliputi PNS dan ASN, Anggota TNI/ Polri termasuk prajurit siswa TNI, pejabat negara, pekerja BUMN, BUMD, BUMDes, juga termasuk pekerja swasta.
Dalam PP tersebut juga disebutkan, bahwa besaran iuran peserta yang telah ditetapkan adalah sebesar 3 persen dari gaji atau upah untuk peserta pekerja dan penghasilan untuk peserta pekerja mandiri. Dari potongan tersebut, sebesar 0,5 persen akan dibayarkan oleh perusahaan.
Sedangkan sisanya yakni sebesar 2,5 persen akan dipotong dari gaji atau penghasilan pekerja.
Merespon hal tersebut, -PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menyatakan siap mengusung konsep new normal di industri properti terkait dampak pandemi virus corona atau Covid-19.
Salah satunya adalah adalah mempererat kerja sama dengan pengembang rumah atau developer.
“Kami membuka diri bersinergi dan berkolaborasi dengan mitra kerja para pengembang khususnya, membuat strategi agar tetap survive dalam menjalankan bisnis terkait bidang properti di tengah pandemi Covid-19,” kata Direktur Utama BTN Pahala N Mansury yang kini menjadi Wakil Menteri BUMN di salah satu acara BTN beberapa waktu lalu.
Menurut Pahala, BTN siap menjadi mitra pemerintah maupun developer dalam mendorong kebangkitan bisnis properti. Kondisi new normal akan menjadi momen kebangkitan industri properti dengan dukungan BTN.
Saat ini pun, BTN telah membuktikan selama ini BTN menjadi pendamping setia para pelaku bisnis properti terutama para pengembang yang membangun rumah khususnya untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah).
Di tengah pandemi berlangsung, perseroan juga menunjukkan komitmen sebagai bank yang terbesar dalam menyalurkan KPR Subsidi maupun Non Subsidi. Dampaknya waktu itu, baru
sampai April 2020 saja, penyaluran KPR Subsisi BTN telah menembus 105 persen dari target atau terealisasi sebanyak 26.836 unit.
Pencapaian tersebut merupakan realisasi 99 persen atau sebesar Rp 3,57 triliun dari dana subsidi pemerintah yang disalurkan melalui BTN.
Mulai Mei 2020 BTN sudah siap menyalurkan SSB dengan target 146.000 unit diharapkan dapat terserap semua di tahun ini..
Bukti ini sejalan dengan prediksi bahwa sektor perumahan diyakini dapat mendongkrak pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Oleh sebab itu, kolaborasi berbagai entitas keuangan dan perumahan dibutuhkan. Sebab, potensi dan daya ungkit dari dua sektor tersebut sangat besar terhadap perekonomian nasional.

BACA JUGA :  Inul Daratista; Nggolek Duwit Bersama-sama.

Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia Suahasil Nazara mengatakan, program pemulihan ekonomi nasional (PEN) merupakan bagian dari kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19.
Ini terutama dampak terhadap ekonomi yang mengalami penurunan tajam akibat virus tersebut. PEN, -umpamanya- tambah Suahasil, juga digelontorkan untuk industri perumahan mengingat dampak lanjutan yang besar dari akselerasi di sektor tersebut.
Untuk itu, sektor perumahan perlu terus melakukan terobosan dan instrumen baru karena sektor ini punya multiplier effect ke 170 industri lainnya. Pemerintah mengharapkan dengan upaya tersebut dapat meningkatkan permintaan dari sektor lain sehingga mendorong pemulihan ekonomi.
Pendapat itu.senada dengan Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Eko D Heripoerwanto yang menyebutkan pihaknya telah menggelontorkan berbagai skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bersubsidi.
Di antaranya yakni Subsidi Selisih Bunga (SSB), Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). Skema tersebut diberikan untuk mendongkrak industri perumahan subsidi di Tanah Air. Semua program itu dilakukan karena Kementerian PUPR meyakini langkah strategis tersebut akan mempercepat pemulihan sektor perumahan yang juga akan berpengaruh pada ekonomi nasional.
Hingga kini, pemerintah memang telah memberikan berbagai stimulus untuk mendongkrak sektor perumahan.
Bahwa,- sekali lagi- ,sektor perumahan dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pemulihan ekonomi akibat dampak negatif Covid-19.
Presiden Direktur Centre for Banking Crisis Achmad Deni Daruri mengatakan, Covid-19 menciptakan krisis ekonomi karena aktivitas ekonomi dipaksa untuk berhenti.
Walau begitu, muncul aktivitas ekonomi yang tidak bisa dihentikan oleh Covid-19, misalnya aktivitas bekerja dari rumah.
Untuk itu perlu dibangun rumah-rumah baru agar masyarakat bukan saja mampu memiliki rumah tetapi juga dapat bekerja dari rumah.
Menurut dia, untuk mengoptimalkan sektor perumahan, sisi penawaran harus diefektifkan dan diefisienkan secara optimal. Caranya adalah dengan meningkatkan skala ekonomis dan ruang lingkup bank-bank yang mampu menyalurkan dana bagi sektor perumahan.
Namun tidak semua bank dapat masuk dalam kategori ini. Satu-satunya bank yang masuk dalam definisi ini adalah BTN.
BTN merupakan satu-satunya bank yang memiliki skala ekonomi dan ruang lingkup dalam memberikan pembiayaan sektor perumahan.


Lantas apa konsekuensinya? BTN harus diberikan porsi kemampuan dalam menyalurkan kredit perumahan yang lebih besar lagi, sehingga skala ekonominya menjadi semakin efisien yang pada gilirannya membuat biaya per unit rumah yang dibangun menjadi semakin murah.
Dia mencontohkan jika dana FLPP difokuskan hanya kepada BTN, maka efisiensi per unit rumah yang dibangun juga akan semakin murah ketimbang fasiltas ini juga diberikan kepada bank-bank lainnya.
Sebab, kata dia, BTN memiliki keahlian dalam menyalurkan dana pembangunan rumah dibandingkan bank-bank lainnya.
Menurut dia, bagi pemerintah, target pembangunan satu juta rumah juga dipastikan akan berjalan dengan baik, lantaran BTN adalah bank yang memiliki spesialisasi dalam pembangunan perumahan.
Terkait hal itu, Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat dan Kementerian Keuangan mengalirkan Subsidi Selisih Bunga ( SSB) untuk mendorong pembiayaan perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk pun menyalurkan SSB.
Direktur Utama BTN Pahala Nugraha Mansury menjelaskan, SSB merupakan bagian dari stimulus pemerintah paket kedua dan BTN bertindak.sebagai penyalur.
SSB tersebut diproyeksi dapat dipakai untuk mendukung 146.000 unit rumah yang akan disalurkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pada saat seperti ini memang dibutuhkan bantuan dari pemerintah untuk tetap memutar roda perekonomian, kami berterimakasih kepada Pemerintah yang tetap berkomitmen mendukung sektor pembiayaan perumahan bagi rakyat dengan mengucurkan SSB dan mempercayakan kepada BTN untuk menyalurkannya.
Menurut Pahala ketika itu, dengan asumsi 146.000 unit maka total kredit yang dapat disalurkan BTN mencapai sekitar Rp 22 triliun. Menurutnya, ini sudah sangat membantu dan likuiditas BTN sangat mendukung apalagi dengan penurunan GWM dan DPK perseroan sampai dengan Maret tahun 2020 tumbuh.
Likuiditas BTN, imbuh Pahala, cukup aman dan terjaga. Sementara rasio Aset Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) terjaga di atas 80 persen. Angka ini jauh di atas regulasi yang dipatok 50 persen.
SSB dapat menggairahkan sektor property yang saat ini terpukul pandemi Covid-19, karena dapat mendorong permintaan dan bisa menggerakkan pengembang properti dan 172 sektor turunan properti lainnya.
Dalam tiga bulan pertama tahun 2020 penyaluran KPR Subsidi BTN (konvensional dan syariah) mencapai Rp 3,68 triliun dengan jumlah rumah sebanyak 27.224 unit.
SSB diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pembiayaan perumahan yang terjangkau sekaligus untuk mendukung Program Sejuta rumah yang diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo sejak 2015.
Upaya itu membuahkan hasil,
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) melaporkan kinerja pada kuartal I 2020 yang tetap baik di tengah virus corona. Bahkan saat itu, Direktur Utama BTN Pahala N Mansury menyatakan, perseroan masih optimistis bisnis di sejumlah industri ada yang masih bertumbuh.
Pada industri yang masih berpeluang untuk bertahan dan tumbuh tersebut, BTN akan ikut andil menyokong pertumbuhannya agar laju ekonomi tetap berjalan.
Kredit perseroan masih tumbuh sekitar 4,59 persen pada kuartal I 2020. Sepanjang periode tersebut, perseroan menyalurkan kredit sebesar Rp 253,25 triliun.
Adapun kinerja keuangan perseroan secara keseluruhan akan diumumkan pada pekan kedua Mei 2020.
Perseroan terus menjaga kualitas kredit dan penguatan cadangan, terutama pada masa pandemi Covid-19.
Rasio cadangan terhadap kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) diakuinua sudah di atas 100 persen.
Sampai dengan Maret 2020, rasio LCR (Liquidity Coverage Ratio) BTN masih dapat dijaga pada tingkat 137,9 persen jauh di atas ambang yang ditetapkan regulator, yaitu 100 persen.
Sesuai ketentuan regulasi, BTN sudah menyiapkan cadangan terutama untuk mengantisipasi dampak pandemi Covid-19 yang tidak tahu akan berakhir sampai kapan dan saat ini coverage ratio terjaga di atas 100 persen.
Baiknya kinerja BTN tersebut semakin ” moncer” saat pemerintah menggelontorkan berbagai stimulus yang antara lain stimulus tersebut diberikan untuk menggarap angka backlog perumahan di Indonesia sekaligus mengakselerasi program PEN.
Menurut Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pahala Nugraha Mansury menjelaskan, adanya keberpihakan pemerintah mulai dari aturan hingga penempatan dana negara menjadi angin yang segar.
Kredit yang dialirkan BTN, juga memiliki dampak ekonomi jangka panjang. Sebab, kredit tersebut akan menjadi tempat tinggal yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Tidak hanya itu, kredit yang disalurkan ke sektor perumahan pun akan memberikan multiplier effect terhadap sekitar 177 subsektor industri lainnya.
Sehingga BTN berkomitmen akan terus ” mengawal” pengembangan sektor perumahan. Apalagi di masa pandemi ini, rumah menjadi tempat berlindung paling aman bagi masyarakat Indonesia.
Meski solusi sudah banyak dilakukan untuk mendorong sektor properti bergerak, masih ada hambatan yang menghambat pertumbuhan sektor perumahan dan industri turunannya di Indonesia.
Ketidakpastian perekonomian global akibat perang dagang hingga dampak dari penyebaran Covid-19 membuat pertumbuhan sektor ini tidak maksimal.
Para pelaku di segmen industri perumahan juga mengungkapkan Covid-19 menghantam sektor properti. Pendapatan bisnis sektor properti di era New Normal bahkan hanya mencapai 50 persen dari masa normal.
Menurut Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Totok Lusida. Menurutnya, hanya sektor rumah subsidi saja yang masih bergerak dan mendapat stimulus pemerintah.
Sebaliknya, sektor non-subsidi, menurut Totok, perlu mendapatkan relaksasi mengingat kewajiban para pengembang tetap dijalankan.
Pihak penhembang berharap pemerintah dapat menerapkan kebijakan yang extraordinary khususnya bagi sektor properti. Beberapa relaksasi yang diperlukan untuk sektor perbankan, tenaga kerja, pajak, retribusi, perizinan, dan energi.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. sendiri menyatakan, telah menerima permohonan restrukturisasi kredit dari debitur terdampak Covid-19. Perseroan mencatat ada lebih dari 17.000 debitur yang sudah direstrukturisasi pinjamannya hingga saat ini.
Sesuai arahan pemerintah dan POJK yang mengatur tentang relaksasi kredit terkait Covid-19, BTN saat ini tengah melakukan proses klasifikasi atas permohonan dari debitur kredit yang mengajukan secara online.
Hingga April 2020 saja, sudah ada 17.000 lebih debitur yang pinjamannya sudah dilakukan restrukturisasi. Yang mengajukan permohonan restrukturisasi angkanya puluhan ribu.
Kata Direktur Finance, Planning, & Treasury BTN Nixon L P Napitupulu yang kini menjabat Plt Direktur Utama BTN.
Hingga April 2020, lanjut Nixon, pihaknya mencatatkan memiliki hampir 2 juta debitur dengan baki debet lebih dari Rp 250 triliun. Adapun, belasan ribu permohonan restrukturisasi ke perseroan tersebut mencatatkan total baki debet sekitar Rp 2,7 triliun.
Jumlah tersebut mencakup debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi dan keseluruhannya di bawah Rp10 miliar sesuai ketentuan OJK.
Permohonan restrukturisasi tersebut diajukan oleh debitur melalui restrukturisasi online yang disiapkan perseroan.
Melalui sistem online tersebut, debitur BTN yang mengajukan permohonan retrukturisasi tidak harus datang ke kantor cabang tempat mereka mengajukan kredit. BTN telah menyiapkan layanan online untuk mengakomodir permohonan tersebut melalui www.rumahmurahbtn.co.id.
Tahun 2021, dengan mengusung semangat tranformasi untuk pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau Bank BTN pada tanggal 9 Februari 2021 berulang tahun ke 71.
Menapaki tahun 2021, Bank BTN makin percaya diri dalam menjalankan visi dan misinya menjadi The Best Mortgage Bank in South East Asia 2025, apalagi Bank yang sebelumnya bernama Postpaarbank ini sepanjang tahun 2020 telah menorehkan kinerja yang positif meski terjadi kontraksi ekonomi.
Sebagai wujud nyata Bank BTN menjadi mitra pemerintah dalam mendukung perekonomian khususnya sebagai agent of development selama 71 tahun berdiri, Bank BTN telah merealisasikan kredit lebih dari Rp 640 triliun dan mengalir lebih dari 5 juta masyarakat di Indonesia dari seluruh segmen.
Sebagai mitra Pemerintah dalam menyukseskan Program Sejuta Rumah, sejak program tersebut diinisiasi pada tahun 2015, Bank BTN telah merealisasikan Kredit Pemilikan Rumah atau KPR maupun dukungan pembiayaan konstruksi. Adapun perinciannya tahun 2015 mencapai 474.099 unit dari target 431.000 unit, tahun 2016 mencapai 595.540 unit dari target 570.000 unit, kemudian pada 2017 realisasinya sebesar 666.806 unit dari target 666.000 unit.
Selanjutnya pada 2018 mencapai 757.093 unit dari target 750.000 unit dan pada tahun 2019 hingga akhir Desember 2019 telah mencapai 753.749 unit dan hingga akhir tahun 2020 di tengah pandemi Bank BTN tetap dapat menyalurkan pembiayaan perumahan untuk 565.294 unit rumah. Dengan pencapaian tersebut, Bank BTN menjadi kontributor penting dalam Program Sejuta Rumah.
Adapun dalam menjalankan komitmen sebagai mitra utama dalam pembiayaan perumahan, Bank BTN juga tidak pernah absen sebagai Bank Pelaksana dalam menyalurkan KPR Subsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah, baik dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, Subsidi Selisih Bunga maupun BP2BT.
Tidak heran, Bank BTN menjadi penguasa pasar KPR subsidi (konvensional maupun syariah) BTN secara kumulatif hingga tahun 2020 mencapai 85,3 persen. Sementara di segmen KPR secara nasional, Bank BTN menguasai pangsa pasar sebesar 40% (data per September 2020).
Sektor properti menjadi salah satu sektor yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi yang saat ini sedang diupayakan Pemerintah, Bank BTN yang berada dalam ekosistem properti berkomitmen mendorong seluruh stakeholder untuk memanfaatkan momentum kebangkitan ekonomi,“ kata Plt Direktur Utama Bank BTN, Nixon LP Napitupulu di Jakarta, Selasa (9/2/2021).
Salah satu upayanya adalah menjalankan visi misi Bank BTN sebagai the Best Mortgage Bank in South East Asia pada tahun 2025. Untuk itu, lanjut Nixon, Bank BTN harus menjadi pemimpin dan innovator di dalam kompetisinya dengan perbankan nasional.
Nixon menjelaskan, pada tahun 2021 dengan fundamental kokoh yang sudah dibangun sepanjang tahun 2020, maka langkah Bank BTN ke depan akan semakin mantap bertranformasi sebagai menjadi The Best Mortgage Bank in South East Asia pada tahun 2025.
Nixon memaparkan 5 aspirasi yang disusun untuk menggapai visi misi tersebut yaitu meningkatkan low-cost funding sebesar 2 kali lipat menjadi Rp 270 triliun, mendorong keterjangkauan akses perumahan bagi lebih dari 6 juta masyarakat Indonesia, membangun one stop shop financial solution untuk bisnis terkait perumahan, menjadi inovator digital dan home of Indonesia’s best talent serta membangun portofolio berkualitas tinggi dan menurunkan rasio kredit macet
Tahun 2021 ini, BTN akan terus meningkatkan layanan perbankan kami, pandemic Covid 19 , disrupsi memberikan kesempatan bagi BTN untuk memacu performa layanan digital kami seperti banking from home dan aplikasi mobile banking serta meracik variasi produk KPR yang kami racik bersama produk cash management maupun produk tabungan kami untuk menarik nasabah agar lebih loyal terhadap Bank BTN.

BACA JUGA :  ACIS 2020 Diharapkan Mendukung para pelaku industri di Asia dalam menemukan strategi konkret untuk melewati pandemi

Sementara itu, dalam rangkaian perayaan HUT, Bank BTN menggelar Anniversary BTN Solusi Properti Expo. Misi khusus dalam ajang pameran properti virtual kali ini adalah menjadikan Bank BTN sebagai One Stop Solution bagi semua konsumen di seluruh Indonesia yang ingin mewujudkan hunian impiannya.
Tak hanya Properti Expo, untuk meningkatkan transaksi baik transaksi lewat EDC, ATM dan Mobile Banking Bank BTN, kami bekerjasama dengan para merchant seperti Alfamart, Indomaret, Mitra10 maupun merchant online seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee dan lain sebagainya dengan berbagai diskon menarik dan tak ketinggalan ada cashback untuk top up di Linkaja dan Gopay.
BTN berharap masyarakat makin akrab dengan Bank BTN tidak hanya sebagai Bank KPR tapi juga bank yang dapat memberikan solusi investasi dan layanan transaksi digital yang makin lengkap.
“71 Tahun BTN akan menjadi moment untuk kita bagaimana banyak masyarakat akan menjadikan BTN sebagai mitra dalam melayani kebutuhan perbankan mereka,” ungkapnya.Maju terus BTN,teruslah merajut prestasi.(Budi Nugraha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *