Melongok Jurus Jitu Bank BTN di era digital Wuss wuss wus

DI ERA percepatan digital berbagai sektor harus beradaptasi dengan cepat agar tidak tertinggal termasuk sektor keuangan dan perbankan. Bahkan proyeksi McKinsey dan soal ‘gelombang kedua’ penggunaan otomasi semakin mendesak ketika virus Covid-19 merebak di seluruh dunia termasuk.
Pandemi ini membuat masyarakat harus banyak berada di rumah dan banyak melakukan kegiatan secara digital, termasuk layanan perbankan. Kebutuhan layanan digital dan otomasi pun meningkat drastis, dan harus dijawab cepat oleh industri.
Mesin dapat mengambil peran hingga 10-25% dari fungsi pekerjaan di bank, menaikkan kapasitasnya, dan memungkinkan pegawai bank fokus pada proyek dan pekerjaan yang bernilai lebih tinggi,” tulis McKinsey.
Harus diakui pandemi ini mempercepat ke arah peradaban menuju revolusi industri 4.0, di mana layanan konsumen, termasuk layanan perbankan, dilakukan secara digital. Hal ini bakal mengubah wajah perbankan secara drastis.
Hal ini terkonfirmasi dalam laporan firma konsultan Bancography di Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa bank-bank di Negeri Adidaya itu telah mengurangi kantor baru sejak 2013, di tengah kian berkembangnya layanan perbankan digital (digital banking).
Hal ini menunjukkan bahwa tren digital banking memang tidak terelakkan, dan hanya tinggal menunggu waktu sampai kemudian masyarakat benar-benar bermigrasi penuh menggunakan layanan perbankan berbasis digital.Pada 2019, di Amerika Serikat sebanyak 2.400 kantor cabang bank ditutup, sementara pembukaan kantor cabang baru hanya 1.100. Artinya, ada selisih 1.300 kantor cabang yang hilang dalam setahun. Padahal lima tahun sebelumnya (2013-2018) jumlah selisih kantor cabang berkisar 800-1.000 per tahun.
Di Indonesia, kalangan bankir telah mafhum dengan arah perubahan tersebut dan mulai fokus melakukan transformsi. Salah satunya, dengan membangun infrastuktur pendukung dan mencari talent terbaik untuk mempercepat proses digitalisasi dan otomasi di lingkungannya.
‘ Kebijakan strategis dan inisiatif utama yang kami terapkan sepanjang 2019- 2020 adalah fokus pada transformasi teknologi informasi dalam hal otomasi dan digitalisasi untuk mendukung perkembangan bisnis retail dan perbankan digital, meningkatkan kenyamanan nasabah, mitigasi risiko operasional serta efisiensi biaya operasional,” tutur Direktur Utama Bank BTN Pahala N Mansuri, ketika masih menjabat,- sebelum diangkat menjadi Wakil Menteri BUMN.
Apa yang disampaikan Pahala ketika itu seiring dengan pandangan sejumlah stakeholder perbankan Misalnya, untuk tetap bertahan hidup di era teknologi digital, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan bertransformasi menyeluruh agar tidak ditinggal nasabahnya. Selain itu, bank-bank harus bisa melakukan kolaborasi dengan sesama bank, dengan nonbank seperti perusahaan asuransi dan perusahaan financial technology (fintech), serta nasabah.
” Agar tetap eksis, bank-bank di Indonesia harus melakukan transformasi secara menyeluruh, baik transformasi teknologi atau digital, transformasi bisnis, maupun transformasi visi-misi dengan segala aspeknya secara berkelanjutan. Itu yang paling diharapkan regulator. Jadi, kuncinya hanya dua, yaitu pertama bertransformasi atau mati. Kedua, kolaborasi atau co-creation sesame bank dan nonbank, fintech dan big tech, juga nasabah, karena nasabah yang paling tahu kebutuhannya,” kata Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital Sukarela Batunanggar dalam diskusi Zooming bertajuk Go Digital Banking baru- baru ini. Agar tidak ditinggalkan nasabah, bank-bank di Tanah Air harus bangkit dan bergegas. Bank yang ditinggalkan nasabahnya sudah terjadi di luar negeri. Sebab survei yang dilakukan sebuah lembaga global menunjukkan, hampir 60% responden menyatakan bahwa bank akan ditinggalkan para nasabahnya jika tidak melakukan transformasi Bank harus memahami nasabah secara lebih baik, sehingga produk dan jasa yang ditawarkannya akan diterima nasabah. Ke depan, nasabah membutuhkan produk dan jasa yang lebih terintegrasi. Maka, transformasi perbankan harus mengarah ke sana.

Selain melakukan transformasi, kolaborasi merupakan aspek yang sangat penting bagi bank untuk tetap survive. Kolaborasi tidak hanya dilakukan dengan sesama bank, tapi juga dengan nonbank, sepertiperusahaan asuransi dan perusahaan fintech, serta dengan para nasabah. Intinya, perbankan harus terus berbenah dan berinovasi. Selain itu, meningkatkan pelayanan dan memutakhirkan teknologi agar tidak ditinggalkan nasabah. OJK juga mengingatkan fenomena ‘perbankan tanpa bank’ (banking without the banks) yang sedang menjadi tren di dunia. Fenomena banking without the banks adalah kegiatan transaksi lazimnya di industri perbankan, namun tidak melibatkan bank. Fenomena ini antara lain terjadi karena peran bank sudah digantikan institusi keuangan lain, di antaranya perusahaan-perusahaan fintech, khususnya fintech dari pengguna ke pengguna. Sejumlah produk digital banking Fenomena banking without the banks muncul sejak beberapa tahun terakhir di sejumlah negara, terutama di Tiongkok dan kawasan Eropa. Fenomena banking without the banks di luar sana sudah terjadi. Fenomena serupa bisa terjadi di Indonesia jika bank-bank di Tanah Air tidak melakukan langkahlangkah antisipasi.
Langkah- langkah ini menjadi kunci penting di tengah beban berat yang diakibatkan oleh Pandemi Covid-19. Hal ini disebutkan oleh laporan berjudul “Outlook 2020: Industry Trends and The Challenges Ahead” yang dirilis pada April 2020, lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) Bancography menilai ada dua pelajaran penting dari pandemi corona terhadap pelaku industri jasa keuangan dan perbankan.
Pertama, pendapatan yang menurun akibat turunnya permintaan kredit dan perlambatan ekonomi, memaksa bank dan lembaga pembiayaan menjaga profitabilitas dengan mengurangi beban operasional. Kedua, Covid-19 mengajari masyarakat mempercepat migrasi ke digital.
Direktur Utama Bank BTN Pahala N Pansury, mengatakan strategi dalam meningkatkan laba adalah dengan meningkatkan pendapatan, baik pendapatan bunga maupun fee based income. Selain itu, perusahaan juga harus menurunkan biaya, yakni biaya bunga atau cost of fund dan biaya operasional.
Langkah terbukti berhasil dan mendongkrak efisiensi, di samping menumbuhkan pendapatan.
Keunggulan Bank BTN juga tidak terlepas dari program otomasi dan digitalisasi yang telah dirintis perseroan. Kedua program tersebut, mengutip penelitian McKinsey berjudul “The Transformative Power of Automation in Banking” (2017) bisa berujung pada efisiensi hingga sebesar 35%.
Perbankan konvensional tak boleh tertinggal, harus transformasi digital.
Menurut Pahala saat itu, digitalisasi dan otomasi adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan untuk untuk mengikuti perubahan gaya hidup.
Keunggulan melakukan efisiensi di tengah pandemi, yang dikombinasikan dengan kelihaian menyelia sektor yang jadi target penyaluran kredit, berujung pada positifnya pendapatan bunga perseroan bahkan ketika perekonomian sedang tertekan.
Jika dalam kondisi resesi saja kinerja positif tersebut terjaga, maka ada peluang besar bahwa kinerja Bank BTN bakal terdongkrak lebih tinggi lagi ketika ekonomi benar-benar menunjukkan pemulihan.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mengalokasikan belanja modal Rp 600 miliar untuk memperkuat transformasi digital pada 2021. Angka tersebut lebih besar dari anggaran tahun ini yang sebesar Rp 500 miliar.
Direktur Utama BTN Pahala Mansury mengatakan belanja modal tersebut akan digunakan perseroan dalam mengembangkan sistem informasi teknologi yang telah ada saat ini.
“Kalau tahun ini lebih banyak ke infrastruktur (digital), tahun depan lebih banyak ke aplikasi (digital),” kata Pahala.
Menurut Pahala, transformasi digital saat ini merupakan suatu keharusan. Apalagi dengan adanya pandemi covid-19 menciptakan akselerasi terhadap perubahan perilaku masyarakat dari fisik ke nonfisik atau digital. Maka dari itu dibutuhkan perubahan model bisnis untuk bisa mengikuti perubahan perilaku tersebut.
Salah satu alasannya, digitalisasi perbankan sebenarnya sudah sejak lama diterapkan. Hal ini bisa tercermin dari transaksi digital yang dalam satu tahun terakhir meningkat sekitar 37 persen secara nasional. Meski terbilang baru, transaksi digital tumbuh lebih dari 40 persen di BTN.
Adapun inisiatif digital banking BTN dilakukan dengan mengembangkan aplikasi yang memenuhi user experience atau memberikan kemudahan pelayanan. Hal ini penting lantaran BTN tidak hanya bersaing dengan perbankan lainnya tetapi juga fintech dan e-commerce.
” Pesaing-pesaing kita bukan cuma bank saja, tapi dalam hal memberikan layanan digital fintech maupun e-commerce,” jelas Pahala.
Untuk itu, sangat wajar, bila PT Bank Tabungan Negara (BTN) menyiapkan berbagai produk dan program perbankan untuk membantu masyarakat, khususnya generasi muda untuk mempersiapkan masa depan
Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan pandemi Covid-19 mengajarkan banyak hal.
Salah satunya seseorang harus secara matang mempersiapkan masa depan, termasuk memiliki tabungan dan rumah.
“Bank BTN menyadari betul bahwa ‘Hidup Gak Cuma Tentang Hari Ini’, sehingga kami merancang berbagai produk transaksi digital, tabungan, hingga KPR untuk membantu masyarakat Indonesia, terutama kaum milenial mempersiapkan masa depan,” kata Pahala.
Pahala merinci Bank BTN berupaya memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat Indonesia di masa depan seperti persiapan menikah, melanjutkan sekolah, dan berbagai keperluan lainnya melalui layanan tabungan Batara BTN.
Ketika harus memiliki rumah sendiri, tambah Pahala, Bank BTN juga memiliki program KPR Gaeesss dan portal BTN Properti.
Perseroan juga memiliki beragam inovasi transaksi untuk memenuhi kebutuhan layanan perbankan yang cepat dan mudah.
Jika ekonomi berkembang dan memiliki perusahaan sendiri, Bank BTN juga memiliki produk BTN Solusi yang menawarkan kemudahan payroll dengan benefit skema bunga dan cicilan kredit yang menarik bagi para karyawan perusahaan.
Nah, dalam rangka mendukung masyarakat Indonesia memiliki rumah, Bank BTN menyelenggarakan acara Indonesia Property Expo 2020 pada 22 Agustus hingga 30 September 2020.
Acara yang dikemas dalam platform digital berkonsep virtual 4D ini digelar dalam menyediakan berbagai pilihan hunian bagi masyarakat Indonesia baik untuk ditempati maupun investasi.
“Pandemi juga mengajarkan perlunya memiliki rumah, karena fungsi rumah sekarang tidak hanya untuk tempat tinggal tapi juga untuk tempat bekerja. Karena itu, kami menghadirkan kembali IPEX Virtual 4D ini untuk memudahkan para generasi muda memilih dan memiliki rumah,” kata Pahala.
Nantinya, IPEX Virtual 4D memudahkan masyarakat Indonesia untuk mencari properti melalui situs ipex.btnproperti.co.id.
Calon pembeli hunian dapat masuk ke situs ipex.btnproperti.co.id lalu memilih wilayah serta rumah yang diajukan. Kemudian, calon pembeli hunian dapat langsung membayar booking fee serta mengajukan KPR secara online melalui btnproperti.co.id.
Implementasi sebuah transformasi digital perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk memastikan perubahan berjalan dengan baik dan benar. Dukungan dari pemerintah secara menyeluruh baik dari sisi regulasi akan membantu membentuk ekosistem yang nyaman bagi pelaku usaha melakukan sebuah transformasi digital.
Digitalisasi-pun menghadirkan era ekonomi digital yang serba instan, cepat, dan transparan menggantikan era ekonomi konvensional. Layanan transportasi umum dan kurir pengiriman berbasis online bisa dikatakan, hanya sebagian kecil dari arak-arakan ekosistem ekonomi digital.
Kini semua pihak telah menjadi saksi bahwa era transformasi digital menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa terelakan lagi. Transformasi oleh Rosabeth Moss Kanter, Professor Manajemen Harvard Business School diartikan sebagai sebuah perubahan dari yang sebelumnya menjadi baru sama sekali. Sedangkan, Digital berasal dari kata Digitius yang dalam bahasaYunani berarti jemari, menggambarkan bilangan yang menjadi basis data system computer.
Saat ini adalah era digital, tidak ada pekerjaan atau aktivitas yang tidak bersentuhan dengan peralatan digital, mulai dari kehidupan rumah tangga hingga aktivitas perkantoran dan pemerintahan. Bahkan ada prediksi Lembaga Riset International Data Corporation Indonesia (IDC) bahwa 33% perusahaan global akan gulung tikar jika tak segera mengadopsi teknologi cloud dan melakukan transformasi digital. Akses rumah tangga di Indonesia pun tidak sedikit yang sudah menggunakan jaringan internet, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Demikian juga lembaga keuangan, seperti perbankan yang tujuan utamanya untuk pelayanan terbaik bagi nasabah.
Dalam dunia bisnis, transformasi digital sangat dibutuhkan oleh seluruh perusahaan agar tidak tertinggal dengan perusahaan yang telah mengadopsi digitalisasi teknologi. Apalagi, pada era digitalisasi seperti ini hampir seluruh perusahaan start up sudah mulai menerapkan digitalisasi teknologi dan menyiapkan diri untuk bertarung dengan perusahaan mapan yang belum melakukan transformasi digital.
Sejumlah perusahaan kini juga telah mulai menerapkan transformasi digital di Indonesia. Sebagai ilustrasi perusahaan transportasi seperti taksi yaitu Blue Bird dan Express kini mulai menerapkan teknologi berbasis aplikasi untuk melakukan pemesanan transportasi secara online. Serupa dengan layanan transportasi berbasis aplikasi seperti Uber, Grabcar dan Go Car.
Selain cloud dan data center, Internet of Things (IoT) masih menjadi topik hangat yang dibicarakan para perusahaan untuk mendukung bisnis secara digital. Bisnis digital kini juga dikenal sebagai satu istilah eksplisit yang digunakan untuk menggambarkan satu ekosistem bisnis yang mendominasi cara berbisnis.

BACA JUGA :  Gandeng Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT), Garuda Indonesia Perkuat Komitmen Pemberantasan Narkoba*


Kebutuhan Nasabah
Ledakan penggunaan smartphone, tablet, Internet, aplikasi yang saling terhubung memungkinkan relasi business-to-business (B2B) dan bisnis ke konsumen (B2C) berjalan dengan baik. Ini membuat perusahaan mampu berinteraksi secara personal, langsung dan real time dengan konsumen dan partner bisnis tanpa batasan.
Sektor keuangan pun tak luput dari pemanfaatan digitalisasi dengan orientasi pelayanan sepenuhnya kepada nasabah. Seperti diungkapkan Jasmi, Direktur Grup Pengawasan Spesialis III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa di lingkup perbankan juga dikenal dengan digital banking yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan nasabah dengan memanfaatkan teknologi digital, baik aplikasi, perangkat sebagai delivery channel yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja.
Menurutnya, dengan pertimbangan berbagai faktor internal dan eksternal pada tahap awalnya, digital banking di Indonesia dimulai dengan fase digital branch yaitu adanya sarana yang secara khusus memproses registrasi nasabah dan pembukaan rekening secara mandiri.
Digital banking, menurut Jasmi, masih dalam tahap pengenalan di industri perbankan Indonesia, karena itu penting bagi semua untuk meyakini keandalan keamanan transaksi digital banking-nya dengan memastikan keabsahan data nasabah melalui pemanfaatan KTP elektronik sehingga ada kepercayaan dari semua pihak.
“Semua ini menuju dua fase yaitu kantor yang menyediakan sarana elektronik atau office digital branch dan fase banking anywhere atau bank yang menyediakan layanan digital banking sehingga nasabah dapat menggunakan media digitalnya kapan pun dan di mana pun mereka berada,” jelas Jasmi.
“Transformasi Digital Banking Untuk Bisnis yang Berkelanjutan”
Digital banking secara prinsip tidak berbeda dengan e-banking, tapi karakteristik digital banking lebih luas, karena nasabahnya dapat mengakses seluruh layanan perbankan melalui kumpulan e-banking di satu tempat (digital branch) dan atau melalui satu jenis e-banking pada perangkat milik bank/nasabah (omni channel).
Sementara e-banking lebih terbatas pada layanan perbankan yang memungkinkan nasabah memperoleh informasi, berkomunikasi dan transaksi melalui media elektronik seperti ATM, phone banking, sms banking, electronic fund transfer, internet banking, dan mobile banking, secara multi channel.
Ada pokok aturan lainnya yang dipatuhi seperti tentang penerapan digital banking: (1) Fase Digital Branch dan (2) Fase Banking Anywhere. Selain itu ada aturan mengenai jenis digital branch: (1) Gerai, (2) Setara Kantor Kas, dan (3) Setara Kantor Cabang Pembantu.
Ada juga aturan tentang standardisasi infrastruktur digital branch, persyaratan penyelenggaraan digital branch, tata cara dan prosedur penyelenggaraan digital branch, proses registrasi dan pembukaan rekening nasabah pada digital branch dan proses verifikasi transaksi nasabah, serta kewajiban untuk menggunakan KTP-elektronik.
Dalam penggunaan IT di sektor perbankan juga harus menerapkan manajemen risiko dengan fungsi, tugas dan tanggung jawab manajemen di antaranya berupa ketersediaan Komite Pengarah Teknologi Informasi (Information Technology Steering Committe). Ketersediaan SDM,( Sumber Daya Manusia) dengan kemampuan teknis yang memadai dalam penyelenggaraan IT sangat diperlukan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
Penerapan manajemen risiko dalam penggunaan IT juga menyangkut pengembangan dan pengadaan IT, aktivitas operasional IT, jaringan komunikasi, penggunaan pihak penyedia jasa IT, Disaster Recovery Plan (DRP), pengamanan informasi, audit intern IT, dan electronic banking. Ketentuan lain yang terkait dengan penempatan data center dan DRC adalah Peraturan Pemerintah (PP) No. 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik
Perkembangan teknologi digital ikut membuat industri perbankan berbenah. Wajar bila bank beralih mengembangkan layanan digital makin merebak.
Sebab perkembangan digital juga ikut memengaruhi perilaku nasabah dalam bertransaksi. Bank BTN termasuk salah satu bank yang terdampak perubahan perilaku nasabah ini.
Pada 2021 BTNmempersiapkan infrastruktur open banking untuk bisa memberi kemudahan kepada nasabah dalam berbagi data.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi menuntut perbankan untuk bisa saling berbagi data terhadap unit perusahaan lain, seperti financial technology (fintech). Sebelum hal itu dilakukan, menurutnya, BTN menyiapkan infrastruktur untuk menjamin keamanan data nasabahm
Pengamat perbankan dari Universitas Bina Nusantara (Binus) Doddy Ariefianto mengatakan, tren digitalisasi takbisa dihindari oleh siapa pun, termasuk industri perbankan. Menurutnya, industri perbankan harus segera beralih ke digital agar tidak ditinggalkan nasabahnya.
Bank itu harus mengubah model bisnisnya, sekarang orang tidak mau lagi datang ke cabang, kalau perlu buka rekening lewat digitalm
Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda menuturkan, keberadaan kantor cabang masih tetap dibutuhkan. Alasannya, pengawasan umumnya dilakukan di kantor cabang.
Doddy pun mengatakan, kantor cabang akan tetap eksis. Kalau pun hilang, kata dia, tak akan secepat di negara maju. Budaya Asia, terutama di Indonesia, human touch-nya masih cukup tinggi.
Pengamat ekonomi dari Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menuturkan, dibutuhkan atau tidaknya kantor cabang lebih didasarkan pada profil nasabah bank yang bersangkutan.
Menurut dia, jika profil nasabah sebuah bank didominasi generasi milenial dengan karakter yang ingin mudah, cepat, dan praktis, maka bank akan semakin cepat menutup kantor cabangnya, dan total beralih ke digital.
Nantinya paling yang datang ke bank hanya yang masih merasa uang itu harus melihat fisiknya, tapi anak milenial saat ini kan tidak.
Ada pengaruh positif dan negatif jika perbankan beralih ke digital. Nailul Huda mengatakan, peralihan perbankan ke digital mendukung tumbuhnya industri berbasis digital yang lain. Menurutnya, hal itu positif bagi perekonomian. Terutama dalam hal efisiensi dan kemudahan bertransaksi.
Perusahaan juga bisa lebih efisien secara biaya, sehingga bisa menurunkan BOPO (belanja operasional terhadap pendapatan operasional).
Menurutnya, dengan efisiensi tersebut, perbankan dapat menekan harga suku bunga pinjaman. Hal itu akan menjadi daya tarik nasabah karena bunga yang diberikan tidak lagi besar.(budi Nugraha/69).

BACA JUGA :  Mimpi Amy Atmanto; “Unicorn Modest Moslem Fashion Indonesia yang Dilirik Dunia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *