Sugeng kundur Mas Prie.

Almarhum Prie GS di Taman Wisata Matahari, Puncak, Bogor. (SM/BB).

Oleh Benny Benke.

Jakarta, Suaramerdekajkt.com
Taman Wisata Matahari, Jl. Raya Puncak Gadog, Cisarua, Bogor , Maret 2012.

Mas Supriyanto GS atau Prie GS sesekali ngrasani cuaca Puncak, yang menurut dia, “Wis rak seatis mbiyen,” katanya.

Padahal mas Prie hanya mengenakan batik lengan pendek, entah melapisinya dengan kaos dalam atau tidak. Puncak di saat Isya, sebenarnya tetap dingin saat itu.

Mas Prie yang hadir dan bergabung dengan kawan-kawan SM Biro Jakarta, yang saat itu mengadakan Family Gathering, memang sengaja dihadirkan ke Puncak dari Semarang, demi sekedar memberikan suntikan semangat, rerasan, lucu-lucuan, atau apapun itu namanya.

Yen rak bocae dewe wegah, aras-arasen. Kudune larang iki,” katanya berkelakar, saat kami bersalaman. “Piye kabarmu cah bagos,” katanya melanjutkan. “Apik, mas,” jawab saya .

Beberapa jenak kemudian, Mas Prie dipersilakan ke depan mimbar, dan memulai “pekerjaan” sambilannya. Menjadi semacam motivator. Yang saat itu, masih jarang pemainnya.

Ya, saat itu mas Prie memang sudah “jajah deso milangkori” ke berbagai institusi berwibawa. Dari Garuda, Patra Jasa, Pertamina dan masih banyak nama mentereng lainnya, demi memberikan ikhtiar penguatan dan pemberdayaan akal budi, “Ben wani lan kendel nglakoni urip,” katanya. Bayarannya..nggegirisi. “Wis angel…larang,” katanya lagi.

Seperti biasanya, materi yang diberikan Mas Prie lucu, tapi penuh kedalaman. Dengan nenyertakan slide gambar berbagai foto perjuangan anak manusia dengan berbagai lakunya, dari berbagai belahan dunia. Yang secara dramatis akan memantik kesadaran kita, bahwa aneka gambar atau foto itu, galib terjadi di belahan dunia sana, tapi cenderung luput dari tangkapan kesadaran kita. Karena, salah satunya, kata mas Prie, kemalasan kita mengasah kepekaan kita.

BACA JUGA :  Pawon Om Will Solusi Nikmat, Sehat, dan Cepat Untuk Nikmati Kuliner Indonesia.

Dengan kemampuan artikulasi yang baik, Mas Prie memang sangat mampu menghantarkan materi dengan cara menyenangkan. Sehingga tak terasa melipat waktu.

Pesannya satu; Kuatlah menjalani hidup. Betapapun beban yang diberikan hidup kepada kita, tak terpermaknai. Karena hidup keras, maka gebuklah, sebelum dia menggebuk kita terlebih dahulu. “Wis, wanio. Yen rak kuat, leren sik. Ngudut sik, ngopi sik, ngeteh sik. Nonton bal-balan sik. Bar kui mlaku meneh. Jalan lagi, sebisanya. Sak titahe, sak madyo,” katanya.

Tapi, bukan pesan-pesan itu, yang membuat kita takzim menekuni kotbahnya. Bagi para pejalan, dan “petarung”, biasa gelut di jalanan, apa yang dikatakan Mas Prie bisa jadi biasa saja, banal. Tidak ada yang baru. Semua orang kuat dan liat telah melakukan itu.

Kotbah di atas (bukit) villa, yang sesak kejenakaanlah yang membuat kami terhibur dibuatnya. Tanpa pretensi menggurui, Mas Prie berhasil membesarkan hati kami. Memberikan semacam mood booster yang luar biasa. Seperti cara antarkawan saja, kebijakan dihantarkan. Tak berbatas tapi mengena. Apalagi jika kita mempunyai latar kebudayaan yang sama dengan Mas Prie, sama-sama orang Jawa (Tengah), cocok wis….

Dan pagi ini, Mas Tejo (Sujiwo Tejo) mengabarkan kepada kita. Akhirnya Mas Prie pulang terlebih dahulu, mendahului kita. Yang dipastikan akan menyusulnya juga. Sugeng kundur mas. Matur nuwun. Utang Roso. Al Fatihah. (BB-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *