Alwy.

DAF. (Doc Pribadi).

Oleh Doddy Achmad Fawzi.

_Obituari lima tahunan._

Bandung, Suaramerdekajkt.com, — Salah satu manfaat media jejaring sosial macam FB ini, adalah untuk tukar-menukar informasi yang cukup penting, semisal wafatnya kawan atau sanak. Sekira pukul 01.50 WIB, hari Senin (3 November 2015), saya membuka FB, dan terhenyaklah membaca status Ulfatin Ch, yang mengabarkan penyair Ahmad Syubbanuddin Alwy telah mengkat. Status Ulfatin ditulis 3 jam sebelum FB saya buka. Lalu status Ahda Imran, Chairil Gibran Ramdhan, Ahmad Faisal Imron, dll, juga mengabarkan kepergian penyair asal Caruban Nagari itu.

Di dinding Alm, sederet ucapan sungkawa, doa, dan testimoni tampak membanjir. Dan, juga aku, ingin mengabadikan ingatan tentangnya melalui ratapan ini. Ia orang yang pernah berjasa bagiku, dan tidak pernah meminta balas. Moga jasanya itu, menjadi ambulance yang mengantarkannya ke tempat mulia.

Penyair cum aktivis itu sedang menempuh studi Doktoral di Unpad, dan supaya efektif dalam soal transportasi, Alwy –demikian sapaan untuk Alm., tinggal di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, di mana salah satu kampus Unpad berada.

“Wah kau kacau ada di sini,” katanya, di awal Januari 2015, di Sekber ASAS UPI Bandung, saat ia hadir ujug-ujug di malam itu.

Kala itu, sekira tanggal 4 Januari 2015, saya sedang berlatih membaca puisi bersama Willy Fahmi Agiska dan Audry Juliane. Kami akan tampil di Rumah Dunia, Serang, untuk mengisi acara Apresiasi Puisi bersama mahasiswa Untirta Serang, pada 7 Januari 2015, atas undangan kawan Herwan FR yang menjadi dosen matakuliah apresiasi puisi di Untirta.

Kami berpelukan dan saling menepuk punggung. Maklum, lama nian kami tidak bersua. Pertemuan terakhir berlangsung di acara Jakarta International Literary Festival (Jilfest) ke-2, yang dihelat oleh Pemerintah Provinsi Jakarta pada 2011. Sayang sungguh, acara ini tidak (atau belum) digelar lagi. Kala itu, Alwy membacakan puisi yang didedikasikan bagi Aung San Suu Kyi. Saya tidak hapal puisinya, tidak punya dokumentasinya, dan tidak terlacak oleh mesin pencari informasi. Tapi ada yang teringat sepenggal liriknya dari puisi tersebut, “ …seperti pagoda-pagoda yang bergetar di Myanmar….”

Alwy, katahuilah, empat jam dari keberangkatanmu, aku juga bergetar mendengar kabar kepulangan-mu itu, mungkin seperti pagoda-pagoda di Myanmar yang bergetar itu. Aku tak sempat menjengukmu ketika kau terbaring sakit akibat pendarahan di otak.

Juga tak ikut mengantarkanmu peristirahatan terakhir. Dari jauh aku berziarah dan berdoa, moga Sang Hyang Widhi Wassa melipatkandakan pahala, untuk jerih yang pernah kau tunaikan, dan mengampunkan segala salahmu karena manusia memang tempatnya hilaf.

Setelah Jilfest 2011, kami tak pernah bersua kembali, dan baru bertemu lagi pada 4 Januari 2015 itu. Sungguh “kacau”, lama nian tidak bersua. Diksi kacau menyebar di kalangan aktivis sastra Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, bahkan di Jawa Barat, kukira diperkenalkan oleh Alwy. Kacau dalamkonteks sosiologi sastra, tentu saja beragam makna dan lebih sering bersifat konotatif. “Wah kau kacau ada di sini,” apa kira-kira makna kacau dalam konteks kalimat itu?

BACA JUGA :  Baznas dan UPZ Bank Permata Bantu Kelompok Rentan Melalui Program Cash for Work

“Mainlah kau ke Jatiangor. Aku tinggal di sana sekarang,” katanya, di malam yang ujug-ujug itu.

“Tentu kawan, nanti aku ke sana. Ada kudengar kau sekolah lagi?” tanyaku.

“Kacau, aku ternyata perlu sekolah lagi,” jawabnya.

Latihan kami jeda, karena Alwy tiba-tiba berceramah. Sekolah dibutuhkan, kata Alwy, untuk merangsang saraf-saraf agar tidak lamban dalam merespons berbagai persoalan. “Coba perhatikan, orang-orang yang menjelang meninggal, umumnya telah kehilangan daya spontanitas dalam merespons pelbagai persoalan. Rendra sebelum meninggal aku ketemu, ia sudah mulai lamban dalam merespons,” katanya.

“Latihan seperti ini juga bagus, untuk melatih saraf terus-menerus merespons persoalan dengan cepat. Aku suka kau selalu ceria, dan selalu semangat. Eh, kau merokok dulu lah,” pintanya.

Aku pun menghentikan latihan. Aku harus menghormati kawan yang lebih merupakan sebagai guru di awal-awal anak-anak ASAS belajar menulis puisi. Sekira awal 1991, ASAS belum didirikan kala itu, untuk kali pertama kami bertemu dengan penyair yang digadang-gadang santri eksentrik itu. Alm. Alwy diperkenalkan kepada kami oleh Alm. Beni R. Budiman. Ia menjadi pembicara dalam diskusi melingkar di lantai 1 Gdg. Pentagon UPI Bandung, yang memorabilial bagi kami, karena gedung itu telah diruntuhkan. Ia bicara tentang kopi dan puisi yang kental. Sejak itu, kami (Deden Abdul Azis, Alw. Wan Anwar, Nenden Lilis, kemudian Herwan FR), mejadi lebih dekat dengan Alwy, apalagi ketika ia mengasuh rubrik sastra di PR Edisi Cirebon. Karya-karya anak UPI Banyak dimuatkan di PR Cirebon oleh Alwy.

Kami pernah berkunjung ke kantor Redaksi PR Cirebon, dan langsung menginap di rumah Alwy. Lalu kami ke Pantai Losari untuk membeli rajungan –mahluk laut berkaki enam yang berjalan miring itu. Rajungan menjadi babon untuk meledek kawan-kawan yang ide-idenya mengawang. Kalau rajungan berjalannya yang miring, tapi kau berpikirnya yang miring.

Alwy yang kami kenal sejak itu, adalah humoris sejati, dan pengeritik yang tidak mengenal tendeng aling-aling. Ia sangat piawai menjadi MC, dan selalu saja ada sentilan-sentilannya saat memanggil calon pengisi acara. Saya kira, sohib dan karib Alwy tahu benar soal itu. Dan, kiranya banyak orang yang pernah dekat dengan Alwy, memiliki kisah unik yang dilakoni bersamanya. Acep Zamzam Noor dan Adi Wicaksono, saya kira, dua sahabatnya yang banyak menyimpan kisah tentang Alwy. Bila dalam sepakbola Brazil ada trio maut, yaitu Bebeto, Dunga, dan Romario, maka dalam kepenyairan Indonesia terdapat Three Masketers atau Trio A: Acep, Alwy, Adi.

BACA JUGA :  FFI dan FOI Gelar “Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia”.

Aku juga punya kisah-kisah unik yang dilakoni bersama Alwy. Tetapi yang lebih bermakna untuk dikisahkan adalah bahwa almarhum merupakan pengasuhku di awal-awal keterlibatanku dalam dunia sastra, khususnya perpuisian. Alwy lah yang memperkenalkanku ke redaktur budaya Media Indonesia (MI), yang kala itu dipegang oleh Djadjat Sudradjat. Alwy pula yang memperkenalkanku kepada Ahmadun Yosi Herfanda, yang memegang redaktur budaya Koran Republika. Berkat Alwy, aku menjadi kenal Hamdy Salad, Ulfatin Ch, Dorothea Rosa Herliany, dan lain-lain.

Setelah WS Rendra, adalah Alwy yang berjasa bagiku dalam konteks pekerjaan. Aku melamar kerja ke Koran MI, dan dengan sedikit harapan dapat diterima. Namun aku berhasil diterima sebagai reporter untuk rubrik seni-budaya dibawah binaan Djadajat Sudradjat sebagai redakturnya. Setelah aku bekerja di MI, Djadjat mengatakan, sebenarnya ada lima kandidat yang akan mengisi lowongan pekerjaan itu. Seleksi terakhir adalah dengan meminta rekomendasi dari orang-orang yang dianggap layak, yaitu WS Rendra dan Alwy.

Kedua orang ini, menyebut namaku sebagai kandidat pertama untuk mengisi posisi wartawan seni budaya di Media Indonesia. Alwy tidak pernah menuturkan jasa ini, karena ia lakukan atas dasar aparigraha (tanpa pamrih). Dari orang lain aku mengetahui kebaikan ini. Kebaikan yang diceritakan oleh orangnya langsung, bisa terjebak pada pamer atau berharap balas jasa. Alwy bukan dari kategori tukang pamer kebaikan, kecuali dalam hal koleksi buku. Dan, inilah joke dari Alwy tentang buku.

Ada seorang senior, melihat junior sedang duduk-duduk sambil membaca buku. Senior itu menegur, “Hey, kau sedang baca buku apa?”

Junior yang masih lugu itu memperlihatkan bukunya, dan tidak menyebutkan judul atau pengarangnya (ini adalah cara rendah hati seorang pemaba sungguhan, tambahan dari aku).

“Wah kau baca Gelombang Ketiga dari Alvin Topler toh. Bagus itu. Tapi kau jangan lugu, jangan hanya baca Gelobang Ketiga-nya saja. Mainlah ke kostku, di aku ada Gelobang Kesatu hingga Gelombang Keenam.”

Alwy lalu tertawa sendiri, sementara kami hanya diam tidak mengerti maksudnya.

“Itu senior konyol dan lugu. Kalian kelak jangan jadi senior seperti itu. Mentang-mentang senior, ingin pamer kehebatan dalam mengoleksi buku, dia bilang punya Gelombang Kesatu hingga Keenam, padahal buku itu kan hanya satu, ya Gelombang Ketiga, tak ada Gelombang Satu, dua, empat, lima, enam.”

BACA JUGA :  Sandiaga Uno dan Menlu Singapura Bahas Travel Bubble.

Baru kami tertawa setelah mengerti maksudnya. Keterlambatan kami tertawa ini memperlihatkan, betapa wawasan perbukuan kami masih rendah.

Sebagai penyair, Alwy tidak produktif. Sepanjang yang kutahu, buku antologi puisi tunggal Alwy hanya terbit satu, yaitu “Bentangan Sunyi” yang memuatkan 20-an puisi, yang diterbitkan oleh Forum Sastra Bandung. Suatu kritik dilayangkan oleh Alwy kepada kami, tapi maksudnya juga kepada banyak penyair, “Produktivitas itu jangan diukur dari kuantitas, tapi juga harus mempertimbangkan kualitas. Kalau hanya kuantitas, itu namanya pabrik. Masa penyair disamain dengan buruh? Mendingan kau jadi tukang sobek karcis bioskop saja. Jadi penyair, kau jangan lugu.”

Selain menjadi penjaga gawang puisi, Alwy pernah menggawangi rubrik budaya di PR Edisi Cirebon itu, dan selain itu, ia juga pernah menjadi reporter, yaitu koresponden Media Indonesia untuk kawasan Cirebon dan sekitarnya. Tapi Alwy tidak cocok menjadi wartawan. Pernah suatu ketika, Wan Anwar mengundang Alwy sebagai pembicara dalam diskusi sastra di Untirta, dan aku ikut hadir dengan tujuan untuk meliput acara diskusi tersebut.

Selesai diskusi, Alwy meminta untuk menuliskan beritanya. Aku mempersilakan. Tapi sejam sudah ia duduk di depan mesin ketik, berita belum rampung ia tulis. Bagaimana mau rampung, kuperhatikan, saat judul ia tulis, ia langsung merenung. Lalu mengeluarkan kertas dari mesin ketik, dan merobeknya, dan memasukkan kertas baru. Merenung lagi. “Lah, kok nulis berita kaya mencipta puisi pake merenung segala,” kataku.

“Ya sudah, kau saja yang nulis beritanya,” katanya.

Kala itu era akhir aku menlis dengan mesin ketik. Kutulis berita cukup dalam 30 menit. Lalu kukirim ke kantor MI dengan menggunakan mesin faximile.

Ya, Alwy memang tidak cocok jadi wartawan. Pernah ia diminta oleh Djadjat untuk mewawancarai salah satu tokoh di Cirebon. Yang terjadi bukanlah wawancara, tapi debat kusir, karena jawaban dari narsumber malah didebat oleh Alwy.

“Gimana Wy hasil wawancaranya,” tanya Djadajat.

“Wah kacau, narasumbernya bodoh!”

Tradisi pesantren, dan kemudian perkuliahannya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, telah mencetaknya menjadi seorang iltelektual yang dialketis, yang mencari kebenaran alternatif untuk sampai pada tataran hakikiyah. Jadi, perdebatan yang bukanlah tujuan, tapi misi untuk membuka ruang dialektika.

Selamat jalan guruku, Alwy, moga selubung cahaya menerangi ruang istirahatmu, dan kau menerima semua kebaikan yang dijanjikan Tuhan. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *