Bakal Ada Potensi Tidak Efektif terhadap Program Sekolah Penggerak

SMJkt/Ist

 

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) memandang bahwa Program Sekolah Penggerak (PSP) berpotensi tidak efektif mengingat sekarang masih kondisi pandemi, yang untuk belajar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saja banyak kendala. Pelatihan online bagi guru tentu hanya akan mampu mengakomodir guru yang punya akses digital, ada laptop atau gawai, dan akses internet.

“Kita paham ada 46.000 sekolah menurut Kemenko PMK yang tak bisa PJJ Online selama ini,” ujar Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim melalui keterangan tertulis, Jumat (4/2).

Selanjutnya, PSP sangat mirip dengan Program Guru Penggerak (PGP) dan Progran Organisasi Penggerak (POP). Sebab, sasarannya sama yaitu peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran, yang guru-guru ini akan diprioritaskan menjadi pimpinan sekolah.

“POP itu fokusnya pelatihan untuk peningkatan kompetensi guru oleh Ormas yang kemarin sempat menjadi polemik. Lalu PGP juga melatih dan menyiapkan guru-guru menjadi pemimpin. Sedangkan PSP untuk memperbaiki ekosistem sekolah yang juga ada entitas guru di dalamnya. Jadi saling tumpang-tindih, tak fokus,” bebernya.

Terkait, persoalan target jumlah sekolah dari PSP yakni sekitar 2.000 sekolah pada tahun 2021, lalu 10.000 ribu sampai 40.000 tahun keempat. “Kami mempertanyakan apakah jumlah ini representatif mengingat sekolah di Indonesia hampir 400 ribu sekolah mulai PAUD-SMA/SMK. Menjadi pertanyaan para guru dan kepala sekolah juga, apa landasan penentuan sekolah penggerak? Inisiatif sendiri atau dipilih,” ungkapnya.

Satriwan mengatakan jika inisiatif sendiri, bagaimana jika angka 2.500 itu nantinya mayoritas diisi oleh sekolah-sekolah yang selama ini sudah sangat baik dan baik, akreditasi A, akses digitalnya bagus, dan penuh prestasi.

“Bagaimana peluang sekolah-sekolah pinggiran, prestasi minim, apalagi statusnya swasta, akreditasi C bahkan belum terakreditasi? Bagaimana PSP dapat memberikan intervensi kepada dua potret kualitas sekolah yang sangat kontras di atas?,” imbuhnya.

BACA JUGA :  KPAI : SMPN 4 Kota Solo Sudah Sangat Siap Melakukan Pembelajaran Tatap Muka

Oleh karena itu, P2G memandang hendaknya tiga program di atas tidak dipecah-pecah, sebab ketiganya saling berkaitan erat, jadi terlihat tidak fokus, terkesan hanya target menghabiskan anggaran,” pungkas Dewan Pakar P2G, Suparno Sastro.

Dari target sekolahnya pun, P2G merekomendasikan agar untuk dua sampai tiga tahun ini, fokus saja dulu membenahi sekolah-sekolah yang selama ini performanya buruk, misalnya, akreditasi C dan belum terakreditasi, belum banyak tersentuh kebijakan pemerintah selama, hasil UKG guru rendah, dan indikator lainnya.

“Artinya PSP ini harus fokus terlebih dulu bagi sekolah yang butuh pendampingan khusus selama ini,” tukasnya.

Jika mekanisme perekrutan PSP sifatnya inisiatif mandiri sekolah, seperti Kepala Sekolah dan Guru, maka yang akan memenuhi target sasaran 2.500 sekolah PSP adalah sekolah dan guru yang sudah baik, akses digitalnya bagus, dan menguasai pembelajaran digital. Alhasil sekolah-sekolah pinggiran, kualitas rendah akan semakin terpinggirkan oleh PSP dan PGP.

“Dari aspek sosialisasinya pun, program-program terdebut masih membingungkan para guru dan dinas pendidikan. Sebab merujuk nomenklaturnya saja mirip, yaitu sama-sama pakai kata “Penggerak”. P2G melihat ramainya hanya di pemberitaan media, belum menyentuh ril guru-guru dan sekolah di pelosok,” tambahnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *