NU: Khithah dan Komitmen Kebangsaan

Oleh Ahmad Rofiq

NAHDLATUL Ulama (NU) akan memperingati hari kelahirannya yang ke-95 pada 31 Januari 2021. Dalam penanggalan Qamariyah, Ahad, 16 Rajab 1422 Hijriah bertepatan 28 Februari 2021 NU genap berusia 98 tahun. Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bagi NU adalah final dan harga mati.

Sebagai konsekuensi NKRI sebagai negara paling majemuk di dunia, komitmen kebangsaan NU dalam perjuangan kemerdekaan, mempertahankannya, dan menjaga keutuhan NKRI — sebagai dar almitsaq atau negara perjaniian atau kesepakatan, maka upaya apapun yang merongrong Pancasila dan NKRI harus dilawan.

Pilihan tema tersebut, dilatari oleh kesadaran historis bahwa komitmen kebangsaan atas NKRI masih harus terus diteguhkan, terutama melalui penyebaran atau diseminasi ajaran Aswaja.

Menurut Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, Aswaja adalah kepanjangan kata dari ahlussunnah waljamaah. Ahlussunnah berarti orang-orang yang menganut atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw, dan wal jamaah berarti mayoritas umat atau mayoritas sahabat Nabi Muhammad Saw. Jadi definisi ahlussunnah wal jamaah yaitu orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw dan mayoritas sahabat (maa ana alaihi wa ashhabi), baik di dalam syariat (hukum Islam) maupun akidah dan tasawuf.

Jika dieksplisitkan, adalah Aswaja An-Nahdliyah, karena ada kelompok yang mengaku Aswaja, akan tetapi tidak mau menerima Pancasila dan NKRI. Ada juga yang mengaku Aswaja dan paling nyunnah, akan tetapi sibuk mengafirkan dan menyatakan kelompok lain sesat. Apalagi NU jadi sasaran tembak sebagai ahli bid’ah dan bahkan dituduh musyrik, hanya karena ziarah kubur, membaca sejarah Rasulullah Saw yang dikenal dengan berzanjen (dari nama penulis kitab al-Maulidu n-Nabiy). Karena itulah, lambang Nahdlatul Ulama yakni bola bumi dan tali pengikatnya, hasil karya dan petunjuk istikharah KH Ridlwan Abdullah (1884-1962) menjalankan tugas dari KH Wahab Hasbullah (nu.or.id).

BACA JUGA :  Joko Menangkap Joko

Filosofi dari lambing NU adalah: (1) Tambang melambangkan agama (berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan bercerai berai), (2) posisi tambang melingkari bumi melambangkan persaudaraan kaum muslimin seluruh dunia, (3) untaian tambang berjumlah 99 buah melambangkan asma’ul husna, (4) bintang sembilan melambangkan jumlah Wali Songo, (5) bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad Saw, (6) empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan khulafaur rasyidin, dan empat bintang kecil di bagian bawah melambangkan mazhab empat (nu.or.id, 11/4/2011).

Prinsip umum ajaran sosial politik Sunni adalah mengambil sikap tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), ta’addul (adil), dan tasamuh (toleran), serta almuhafadhah ‘ala al-qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (memelihara sesuatu/nilai yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

NU selalu mengambil sikap akomodatif, toleran, moderat, dan menghindari sikap ekstrem dalam menghadapi spektrum budaya apapun, tak terkecuali budaya politik kekuasaan. Inilah hujjah awal yang senantiasa ditarik oleh mazhab Sunni atau ahlussunnah wa al-jamaah, terlebih ketika menghadapi krisis sosial politik kemaslahatan atau politik kebajikan demi kelangsungan umat pada umumnya (M Mahatma, 2017).

Rasulullah Saw tidak memberikan petunjuk detail bagaimana bentuk negara, maka implementasinya ada al-mamlakah (kerajaan), emirate (keamiran), jumhuriyah (republik), ada federal, dan ada negara kesatuan. Bagi NU, NKRI yang berdasar Pancasila, adalah kesepakatan para faunding fathers, adalah harga mati dan final.

Hal penting yang melatari berdirinya NU adalah: (a) adanya ancaman ”Internasional”, terjadi perebutan kekuasaan dari penguasa Mekkah Syarif Husain (yang moderat) direbut oleh Abd Al-‘Aziz ibn Sa’ud (penganut faham Wahabi, sekte yang paling dogmatis, keras, dan mengancam keyakinan ”Islam tradisional” dalam beribadah di Tanah Cuci Mekkah, (b) adanya gerakan Serikat Islam (SI) dan Muhammadiyah yang fahamnya berbeda dari golongan ”Islam tradisional”, dan tidak bisa membawa aspirasi ”Islam tradisional” dalam kancah internasional (Mekkah). Maka dibentuklah komite Hijaz, yang berlanjut dengan berdirinya Nahdlatoel Oelama di Surabaya pada 31 Januari 1926.

BACA JUGA :  Inflasi Bintang Mahaputera di Tangan Jokowi

Cinta Tanah Air

”Dakwah NU menghimpun kekuatan melawan penjajahan Belanda, merupakan perjuangan NU mempertahankan ideologi, agama, dan nasionalisme sebagai bentuk cinta Tanah Air (hubb alwatan)”. Resolusi Jihad (22/10/ 1945) adalah sikap tegas dan dukungan kepada negara, adalah bentuk sikap kiai dan warga NU, untuk mempertahankan kemerdekaan dan menghalau penjajahan kembali para penjajah.

Lagu ”Ya Lal Wathan” gubahan KH Wahab Hasbullah, adalah lagu heroik dan komitmen kebangsaan warga NU sebagai bukti cinta Tanah Air dan NKRI (Farih, 2016). NU menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) yang ”sering disalahpahami”. Ini karena paradigma fiqhi ke-ushuli yang tidak dipahami dengan baik oleh para ”pengamat”.

Misalnya, ketika NU pada 1955 memberi gelar ”waliyyu l-amri al-dlarury bi sy-syaukah” kepada Presiden Soekarno, sebenarnya konteksnya adalah pertimbangan ”keagamaan”. Di antaranya, apabila ada seorang perempuan yang akan menikah, sementara walinya mokong (‘adlal) maka wali berpindah ke wali hakim, dan ini harus mendapat tauliyah dari pemimpin negara.

Muktamar 1984, menyepakati NU kembali pada khithah 1926, yang intinya NU sebagai jam’iyyah ijtima’iyah yang tidak berafiliasi kepada partai politik mana pun. Politik kebangsaan dan kerakyatan adalah pilihan bijak NU, karena NKRI laksana ”rumah besar” Indonesia yang paling majemuk di dunia, harus dijaga dan dirawat bersama.
Karena itu keluarga besar bangsa Indonesia, yang masih tetap ingin bersama-sama dalam keluarga besar bangsa Indonesia, maka konsekuensinya, harus mematuhi rambu-rambu kesepakatan NKRI dan Pancasila.
Selamat ulang tahun Nahdlatul Ulama yang ke-95, semoga terus berkomitmen merawat NKRI dan Pancasila, dari rongrongan dari dalam, kelompok separatis, maupun invasi dari luar. Kiprahmu terus dinanti oleh bangsa Indonesia, bahkan dunia. Perdamaian dunia adalah impian semua umat manusia. Bravo Ahlus Sunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Allah a’lam bi shshawab. (46)

–– Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, guru besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

BACA JUGA :  Keterbukaan Informasi Masa Pandemi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *