Aras Mathema.

Oleh Doddi Ahmad Fauji
(Ketua Sanggar Literasi SituSeni Mediatif).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
SUATU hari saya membaca sekelumit kalimat, ditulis oleh Bapak Filsuf Modern, Aristoteles, yang berujar, bahwa karya sastra yang agung, ialah yang menuliskan perkara tragedi, sebab kata Aristoteles, hidup ini sendiri merupakan tragedi. Jalan hidup manusia, acap kali berpusar pada kemurungan dan kepedihan.

Pendapat Aristoles itu, jelas mengkonfirmasi awal mula terjadinya tragedi yang menimpa umat manusia, yang tersurat dalam mitologi Yunani. Tragedi itu, bermula dari pelanggaran yang dilakukan Pandora, yang berani membuka kotak indah pemberian para dewa di hari pernikahnnya dengan Epimetheus, anak Dewa Zeus, yang merupakan ayah bagi seluruh Dewa Yunani. Para Dewa memberikan larangan kepada Pandora, untuk sesekali tidak membuka kotak indah itu. Tapi Pandora malah penasaran, dan ia pun nekat melanggar pantangan. Sejak kotak itu dibuka, bencana dan musibah senantiasa menimpa manusia.

Tragedi dalam mitologi Yunani itu, nyaris segambaran dengan tragedi yang menimpa Adam dan Hawa, yang dilarang mendekati pohon huldi. Namun setan menggoda, dan Hawa tergoda. Ibu para manusia menurut hikayat agama-agama samawi itu, mendekati pohon huldi, malah memetik buahnya. Akibatnya, Adam dan Hawa dihukum dengan diturunkan ke bumi. Yang namanya menjalani hukuman, senantiasa diliputi kemurungan, kemalangan, musibah, dan kecemasan.

“Tuhanku, kami telah memperkalam diri. Seandainya tiada ampunan dan berkahmu, niscaya kami akan merugi.”

Ratapan Adam kepada Tuhan itu, menjadi nadom (nyanyian mazmur) yang teretulis dalam Quran, dan sering didawamkan di masjid-masjid ahlussunna waljamaah.

Tragedi, selain didongengkan dalam mitologi macam kisah Thesseus, Odisseus, Achilles, Akhilles, Perang Troya, maka sungguh pendapat Aristoteles itu telah pula mengkofirmasi karya-karya sastra klasik Yunani yang bermuatan tragedi, macam Trilogi Oedipus (1. Oediphus Sang Raja, 2. Odiphus di Kolonus, 3. Antigone) gubahan Shopocles, naskah Illiad karya Homeros, Lysistrata karya Aristhopanes, dll. Dari berbagai bangsa, naskah tragedi pun bermunculan, baik yang bersumber dari mitos, atau gubahan para penulis yang namanya terlacak dan terabadikan. Kisah Laila Majnun karya Nizami Ganjavi dari Ajarbeijan, atau Sampek Engtay karya dari Tiongkok (anonim), yang sering dimiripkan dengan Romeo dan Juliet karya William Shakespeare dari Inggris, adalah naskah-nakah besar yang berkisah tentang tragedi manusia.

BACA JUGA :  Stop Kekerasan Terhadap Perempuan Pelaut di Atas Kapal

Pendapat Aristoteles itu, menemui pembanarannya dalam mitologi atau legenda tentang tragedi yang berserakan di Nusantara, yang jumlahnya mungkin puluhan ribuan judul. Namun saya sebut yang paling fenomenal, yaitu lakon ‘I La Galigo’ dari Bugis (anonim), diakui oleh Unesco sebagai naskah terkompleks di dunia, merupakan naskah tragedi yang menimpa manusia. Lakon macam Bawang Putih Bawang Merah, Lutung Kasarung, Sangkuriang, Bandung Bondowoso, dll., adalah kisah-kisah tentang tragedi versi Nusantara.

Aristoteles berpendapat kisah tragedi merupakan karya sastra yang agung, sebab katanya, melalui kisah tragedy itu, manusia bisa becermin pada duka orang lain, untuk mengatakan, yang menjalani kemurungan bukan hanya kita. Lalu kita sadar bahwa tragedi merupakan takdir manusia, akan membawa kita pada naluri untuk ‘pasrah’, dan bersedia menjalani proses penyucian diri (taubat), atau orang Inggris memberi istilah dengan ‘kataris’ untuk etimologi taubat itu.

Merenungkan pendapat Aristoles itu, berkaca pada hikayat dalam sejarah, pun dengan semangat mengamalkan ajaran agama, maka menulis kisah tragedi, yang bisa membawa kita pada altar pertaubatan, adalah langkah yang tepat, atau katakanlah ‘ibadah kata-kata’, ketika anak semua bangsa didera pandemi korona sejak akhir tahun 2019. Hingga karya dalam buku ini digubah oleh para penulis, pandemi itu belum juga surut, malah di Indonesia, makin menjadi-jadi hingga kuartal pertama tahun 2021 ini.

Ada 40 cerita karya 40 penulis dalam buku ini, yang semuanya dinukil dari fakta nyata tentang dampak covid-19. Semuanya tentang tragedi, namun tidak seluruhnya berakhir duka. Ada beberapa penulis yang memberikan kejutan dengan menyodorkan ‘happy ending’ (akhir yang bahagia). Namun, happy ending itu, berhasil dikail oleh para tokoh korban korona, setelah mereka memasuki alam kesadaran, bahwa tragedi yang menimpa itu, sudah menjadi takdir dari Sang Prima Kausa. Solusi terbaik adalah menjalani semuanya dengan bersabar, tabah, tawakal, bekerja kreatif dan berdoa, atau orang Latin membahasakannya dngan frase ‘ora et lanbora’ (bekerja sambil berdoa).

BACA JUGA :  Akmal Nasery Basral, Ngga Ada Matinya.

Kita mesti membenarkan, bahwa setelah kesulitan, akan tiba kemudahan, dan setelah masa yang mengimpit, akan sampai pada keleluasaan, dan bila aneka urusan telah kita selesaikan, maka waktunya kembali mengingat Ia Yang Maha.

Tiga fase manusia yang dikonsepsikan oleh orang Yunani, area kala kita sampai pada kesadaran itu, disebut dengan masa ‘mathema’, yang kita temukan setelah melakukan perjalanan mencari jati diri ‘poeima’, dan dalam pengembaran mencari jati diri itu, sangat mungkin kita jerjebak di aras pathema, atau masa yang remang malah luluh-lantak. Namun setelah pathema, akan datang masa mathema, seperti yang diwahyukan Sang Uga dalam Quran surat Al-Insyiah.

***

Tulisan dalam buku ini, merupakan hasil seleksi dari sekian naskah yang masuk ke panitia penyelenggara, yaitu Jendela Puspita. Sebelum naskah ditulis, panitia menggelar pembekalan mengenai kepenulisan lewat daring di media sosial. Saya termasuk salah satu pemateri, yang memberikan amanat, bahwa ‘Ruh’ dalam prosa terdapat pada konflik. Karena itu, bila kita menuliskan prosa, maka dari awal sudah harus terbayangkan jelujur konflik dan klimaks-nya.

Setelah tulisan diseleksi, kemudian dilakukan bedah naskah oleh Siska Puspita Dewi, selanjutnya para penulis harus merevisi karyanya, lalu mengirimkan ulang ke panitia. Naskah hasil revisian, lalu disunting (edit) melalui dua tahapan. Tahap pertama, penyuntingan dilakukan oleh Siska Puspita Dewi, dan saya ikut menyunting di bagian akhir, terutama memeriksa logika cerita, kenyamanan kata dan kalimat untuk dibaca, dengan mengindahkan bahasa jurnalistik, linguistik, serta sastra, agar tulisan menjadi ‘enak dibaca dan perlu’ (meminjam jargon dari Majalah Tempo).

Maka ingin saya katakana, ke-40 cerita dalam buku berjuluk ‘40 Wajah di Balik Korona’ ini, memiliki kualitas yang empuk, lezat, dan memberikan rasa sejuk untuk memasuki alam katarsis atau pencerahan. Orang Jerman menyebut pencerahan ini dengan istilah ‘aufklarung’.

BACA JUGA :  Presiden Jokowi Pastikan Tak Ada Impor Beras Sampai Pertengahan Tahun

Adalah tidak berlebihan, atau sudah tepat adanya, jika cerita-cerita dalam buku ini, yang di-kemot atau dinukil dari fakta nyata wabah korona, adalah teks yang layak menjadi bahan bacaan, untuk menambah referensi, untuk becermin, dan untuk membangun harapan.

Harapan adalah kekayaan ketiga manusia, setelah nyawa dan kesehatan. Mereka yang kaya bahkan raya, cendekia dan punya kuasa, bila mereka telah ‘lindap harap’, maka ketika korona menerpa, sekalipun ditangani oleh dokter tebaik di rumah sakit terbaik, maka jalan yang terdekat ialah menuju alam kubur. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *