Mattagati; Ya Musisi, Ya Arsitek.

Mattagati saat taping single “Dirimu”. (SMJkt/BB).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Seberapa penting dunia musik bagi seorang arsitek seperti Frans Kristian Mattagati. Sangat penting. Bagi lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mengaku mencintai, menghayati dan mensyukuri kariernya sebagai seorang arsitek. Dengan segala daya tekan atau pressurenya, dunia musik adalah jalan sutera untuk mencapai keseimbangan hidup.

Musik adalah katarsis dari dunia presisi, matematis dan teknis, seperti dunia arsitek yang telah digelutinya selama 15 tahun lebih.

Oleh karena itu, menggali kedamaian hati via musik adalah pilihan sadarnya. Sesadar-sadarnya. Apalagi, sepengakuannya, menjadi musisi adalah impian lamanya, yang sangat lama dipendam rapi di dadanya.

Bukan tanpa alasan, Juara II Kompetisi Nasional gitar classic tahun 1992, akhirnya mengeluarkan jiwa seni dari dalam dirinya. Setelah bidang arsitektural yang tekanannya sangat tinggi, itu ternyata, menurut subyektifitasnya, kebahagiaan yang didatangkannya tidak berbanding lurus. Meski penghasilannya besar.

“Orgasmenya lain,” kata merujuk proses membuat lagu dan merampungkan sebuah disain arsitektural di Jakarta, Jumat (22/1/2021).

Karenanya, singgel pertama demi melunaskan jiwa seninya dirilis Mattagati berjudul, “Dirimu”. Tidak main-main, single dengan mengandalkan vokal bertimbre elok dari Erwin Farid itu, saat dirilis via digital streaming, hingga sekarang sudah memanen 5000 an pendengar.

Mattagati yang melibatkan Erwin Farid sebagai featuring vokal itu berharap, single pembuka ini, tidak akan menjadi karya pertama sekaligus terakhirnya. Karena, sepengakuannya, hampir 70 lagu telah ditulisnya. Dengan berbagai genre yang membungkus puluhan lagu tersebut.

“Semua lagu itu tersimpan rapi di music’s storage,” imbuh Mattagati.

Mattagati yang sangat menguasai gitar klasik, meski tidak lancar membaca partitur, dalam single ini mengisi sesi gitar dengan kesahajaan. Tak perlu pamer skill dan sok bermain teknis alias “kriting”.

BACA JUGA :  Menristek : Penggunaan Produk Dalam Negeri Harus Disikapi Dua Pendekatan

Merangkap sebagai komposer dan arranger, Mattagati juga sekaligus
mendirikan record label Black Glamour untuk dan demi mengawal karya terkininya. Juga sejumlah karya lanjutannya.

“Buat saya, semua hal wajib direncanakan dengan baik, proper dan matang. Saya konsisten mendirikan  PT. Untuk memayungi karya saya,” katanya yang sudah menekuni bidang arsitektural secara profesional sejak tahun 2003 hingga sekarang.

Bersama sahabat lamanya, Hari Budianto, dia mendirikan PT. Aurama Mitra Teratas­_LMP Design & Build

LMP inilah yang menaungi arsitect consultant & interior design  sekaligus project coordinator-nya. Mattagati menyebut beberapa nama yang pernah menjadi client nya. Seperti PT. Magna, Telesindo Shop, Puri Avia hingga PT. Garuda Food.

Kembali ke persoalan musik. Mattagati yang bercerita saking besar hasratnya menjadi musisi, alih-alih bertahan di dunia arsitek, pernah setiap malam Minggu menjelajahi kafe, dan jamming dengan gitar sendiri, dengan sebuah grup band. Berharap single terkininya, yang secara musikal turut dimatangkan oleh Andika, (keyboard), membuka pintunya lebar-lebar berkiprah lebih serius di dunia skema musik Indonesia.

Sebenernya nothing to lose, kalaupun gagal menjadi musisi, saya toh tetep seorang arsitek,” kata pria bertato kelahiran Mojokerto, Jatim itu.

Mattagati. (SMJkt/BB).

Meski demikian, dia berharap
masa depan dunia musiknya, akan terus memberinya kebahagiaan. “Tahu lagu saya didenger orang saja udah seneng banget,” kata Mattagati yang berencana membuat band bernama Mattagati Feat, dengan featuring sejumlah vokalis terdepan di Tanah Air. Seperti featuring Ari Lasso, Agnes Mo dan beberapa nama lainnya.

Meski untuk menuju ke arah kesuksesan di dunia musik, katanya penuh kesadaran, dibutuhkan effort yang tidak mudah, dan murah. “Yang pasti, ada satu titik, setelah 15 tahun berkiprah di dunia arsitektur, akhirnya saya tahu dengan apa yang saya cari? Selama ini, ternyata waktu saya habis untuk kerja, nyaris hilang keluarga. (Sementara) Bikin lagu ngga ada yang revisi, bikin gambar banyak yang revisi. Ide arsitek dengan pemesan selalu bergesekan. Bikin lagu, free,” terangnya sembari berharap, suatu saat punya band, bergenre Rock n Roll, seperti Black Rose dan Gugun n Blues Shelter.

“Yang pasti saya hanya akan berkesenian,” imbuh Mattagati.

Menurut produser musik dan penggiat musik Seno M Hardjo, secara teknis dan gramatikal musikal, kemampuan bermusik Mattagati, luar biasa. Hanya saja, imbuh dia, semua itu tidak seketika atau belum menjamin kesuksesan di dunia musik.

BACA JUGA :  Perpustakaan Perguruan Tinggi Didorong Laras Dengan SNP.

“Banyak faktor X di dunia musik. Di luar persoalan belanja iklan dan lain sebagainya,” kata Seno M Hardjo. Sedangkan ihwal Mattagati, menimbang nama besar seperti Santana di AS, yang sukses berkolaborasi dengan sejumlah penyanyi. Sehingga karyanya meledak, dia berharap, Mattagati akan menjadi Santana Indonesia.

“Saya ke depannya, pengen Mattagati menjadi seperti Santana. Berkolaborasi dengan banyak musisi Indonesia. Sehingga memperluas jaringannya, sekaligus kemungkinan berkolaborasi dengan musisi lainnya,” kata Seno M Hardjo sembari mengumumkan, per Jumat (22/1/2021) kemarin, sekaligus pemutaran serentak di 100 radio di Indonesia single “Dirimu” milik Mattagati.

“Saya hanya membantu dia saja, supaya ‘bergaul’ dengan orang-orang bener,” imbuh Seno ihwal keterlibatannya dalam proyek Mattagati.

Apa yang dikatakan Seno M Hardjo diamini Glenn G Purimahua. Sebagai seorang Disc Jockey senior, Glenn menilai Mattagati adalah sosok musisi yang terbungkus dalam diri seorang arsitek.

“Yang rada gila dari Mattagati adalah bisa main all genre dan itu tidak biasa. Tidak semua orang bisa mengemas lagu, yang bisa diterima publik. Dan Mattagati mempunyai kemampuan itu,” kata Glenn.

Dengan kemampuan lengkap yang dimiliki Mattagati, sejauh dan sedalam apa kesuksesan yang akan didapatkannya di dunia musik? Kita tunggu saja. Karena hidup, kata bijak bestari, hakekatnya adalah menunggu. (Benny Benke-69).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *