Tiga Kartu Merah Untuk Iwan Bule.

Oleh Erwiantoro “Cocomeocacamarica”.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Jika Kongres Tahunan PSSI, jadi digelar Sabtu, 27 Februari 2021 di Jakarta, Azmy Alqamar, pemilik Persis Solo, akan mengusulkan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI. Karena, Ketua Umum PSSI, Komjen Pol (Purn) Mochamad Iriawan, alias Iwan Bule dan kawan-kawan, sejak ditunjuk dalam Kongres, 2 November 2019, menurut dia tidak berbuat apa-apa.

“Sejak November 2019, saya sudah keluarkan dana Rp 9.4 miliar, agar bisa berkompetisi, tapi PSSI dan LIB hanya jonja-janji doang,” tutur Azmy Alqamar, yang akrab disapa Mimi. Persis Solo, sampai hari ini, masih bernaung di kastas Liga 2 Indonesia.

“Gue sudah berdarah-darah, tapi tiga kali PSSI hanya bisa berjanji dan berjanji, tapi tak mampu mendapatkan surat ijin dari kepolisian. Kita ngurus bola, bukan hobi. Tapi, mau bisnis. Padahal, dalam bisnis butuh kepastian,” tegasnya.

Sejak hari ini, menurut Mimi Alqamar, “Saatnya semua klub, mau mendukung gagasan dan usulan saya. Karena, semua klub pasti merasakan, seperti yang saya alami. Yaitu, mengeluarkan dana miliyaran rupiah. Tapi sia-sia,” lanjutnya.

Ketika ditanya mBah Coco, siapa yang pantas menggantikan Iwan Bule dan gerbongnya. Mimi Alqamar, dengan lantang menyebut La Nyalla Mattalitti, yang saat ini sebagai Ketua DPD RI. “Jangan samakan La Nyalla dulu, dan sekarang. Kalau dulu, La Nyalla baru terjun di sepak bola, kalau sekarang La Nyalla, posisinya sangat mentereng, dan sudah tahu asam garam mengurus bola,” kata Mimi.

Ada kelebihan La Nyalla saat ini. Posisinya, dengan mudah membangun lobi-lobi, dan sangat mudah berkomunikasi minta bantuan, dari para anggota DPD yang menjadi wakil dari Sabang sampai Merauke. Tujuannya, bisa terjun langsung membantu 34 Asprov yang sampai saat ini, tak bisa membuat program, dan tak bisa menggelar kompetisi pembinaan di daerah-daerah, karena tak mampu menggalang dana.

BACA JUGA :  PS Sleman dan PSM Siap Berebut Posisi Ketiga Piala Menpora

“Kita-kita bisa memberi pasukan yang benar dan positif kepada La Nyalla, tanpa punya kepentingan apa-apa, kecuali meminta La Nyalla mengurus organisasi dengan benar. Jejak La Nyalla ngurus organisasi sudah teruji. Kita tak butuh uangnya La Nyalla, kita punya network lobi-lobinya, yang tak dimiliki Iwan Bule,” kata Mimi.

Sebaliknya, Sarman El Hakim, yang sudah ikut lima (5) kali sebagai kandidat ketua umum PSSI, menyatakan kepada mBah Coco, bahwa Iwan Bule itu Ketua Umum PSSI yang tidak sah. Karena, sejak menjadi calon kandidat, Iwan Bule tidak memenuhi syarat-syarat sebagai ketua umum PSSI. “Iwan Bule sejak awal, tidak ikuti semua tahapan-tahapan sebagai kandidat,” tegasnya.

Tahapan yang harus dilalui para kandidat ketua umum, harus berdebat dan disaksikan para voters, sesuai syarat-syarat Kongres, tak dipenuhi Iwan Bule. “Hasilnya, terbukti, bahwa Iwan Bule, tak mampu memenuhi janji-janji. Dan, para voters, terkesan beli kucing dalam karung,” lanjutnya.

Suara Persis Solo, mengusung La Nyalla sebagai calon kuat Ketua Umum PSSI saat ini, menurut Sarman, akan sangat mudah menerima masukan. Dulu, saat jadi ketum PSSI 2013 – 2015, banyak masukan yang menjerumuskan dirinya. Tapi, saat ini La Nyalla cara berpikirnya, ingin memajukan sepak bola, dan rakyat Indonesia, menuju dunia moderen dan industri.

Sarman memberi saran kepada Mimi Alqamar, bahwa nanti jika La Nyalla Mattalitti terpilih, para pemilik suara, harus berani memberi masukan kepada La Nyalla, bahwa saatnya organisasi PSSI berubah secara moderen. “Jangan mengulang-ulang selama 20 tahun, seperti saat ini.”

“Misalkan, para EXCO PSSI jangan masuk di lembaga Liga Indonesia. Dan, semua pengurus PSSI, jangan terlibat dan cawe-cawe punya kepentingan dengan urusan lembaga Liga Indonesia. Biarkan lembaga Liga Indonesia profesional dan independen,” tutur Sarman El Hakim, pemilik lembaga Masyarakat Sepakbola Indonesia (MBSI).

BACA JUGA :  BI Diduga masih akan pertahankan bunga: Oleh Ryan Kiryanto,Pengamat Ekonomi

Sarman, yang sudah keliling 44 negara, untuk kampanye Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, memberi saran kepada para pemilik suara. Bahwa, gagasan Mimi usulkan KLB, dan usung La Nyalla, harus gayung bersambut. Jika, ingin organisasi PSSI berwibawa, dan kembali bergaul di level internasional.

Bagi Sarman, saat ini La Nyalla akan dengan mudah keliling Indonesia, turun ke daerah-daerah bareng bersama anggota DPD. Agar para Asprov segera buat program, sedangkan La Nyalla yang “nodong” ke pemerintah, agar bisa menggelontorkan dana APBD atau APBN untuk pembinaan anak-anak berjenjang.

Urusan kompetisi profesional, menurut Mimi dan Sarman, serahkan kepada orang-orang yang memang punya “passion” cari uang sebanyak-banyaknya. Tanpa, harus diganggu dan di”palak”in PSSI. Jika target yang diberikan kepada pengelola Liga sesuai targetnya, maka wajib dipertahankan. Namun, kalau gagal, ya digusur diganti orang baru.

mBah Coco, dalam waktu yang bersamaan, mendapat statement Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), tentang posisi Iwan Bule di PSSI. “Buat IPW, Iwan Bule itu sudah kena tiga kartu merah,” tegasnya.

“Kartu merah pertama, Ibul tak mampu menyakinkan institusi yang pernah membesarkan namanya. Kartu merah kedua, seluruh komunitas bola nasional, sudah tidak percaya, terbukti sudah didesak gelar KLB. Kartu merah ketiga, Iwan Bule, terindikasi menggunakan uan suap menyuap jabatan Manajer Tim Indonesia U-20,” tutur Neta.

Jadi, kalau ada suara-suara pemilik suara, segera Kongres Luar Biasa (KLB), untuk mencopot Iwan Bule. Serta, mengusung kandidat kuat La Nyalla Mattalitti, harus bisa diwujudkan dalam Kongres Tahunan, 27 Februari 2021, disulap jadi KLB, untuk memilih La Nyalla Mattalitti.

BACA JUGA :  Masterplan, Sudahkah Jadi Pedoman?

Tidak salah, jika La Nyalla dikasih kesempatan lagi, karena saat La Nyalla dianggap gagal oleh pemerintah, hingga dibekukan 18 April 2015. Karena, menurut IPW, La Nyalla hanya sebatas tokoh lokal di Jawa Timur. “Saat ini, La Nyalla sudah jadi tokoh nasional, pasti semuanya berubah, demi kepentingan nasional,” tambahnya.

Derajat dan kasta La Nyalla Mattalitti, jauh di atas Iwan Bule, dalam struktur pemerintahan. Iwan Bule hanya pensiunan jenderal polisi bintang tiga. La Nyalla, ketua DPD RI. Karena, dalam organisasi, La Nyalla menurut IPW, jago sebagai organisatoris. Biasanya sangat fleksibel dan lentur dalam membangun komunikasi dengan siapa saja.

Kalau, masalah perijinan untuk menggelar Liga 1, 2 dan 3 Indonesia, menurut Neta, kapasitas La Nyalla yang jago membangun lobi-lobi, tidak sulit mendapatkan surat ijin dari Polri. Sedangkan, Iwan Bule, menurut Neta, sudah kena tiga kartu merah. Dan, pantas diturunkan dari lembaga “kursi panas” PSSI. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *