Erwiantoro: Desakan Voter Mendongkel Iwan Bule Dkk Mengkristal.

Usulkan KLB PSSI Virtual.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Setelah Persis Solo, lewat CEO-nya Azmy Alqamar melontarkan gagasan, agar Kongres Tahunan PSSI, yang akan digelar 27 Februari 2021, disulap menjadi Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, menurut pemerhati sepak bola Erwiantoro, mempunyai nilai positif.

Bahkan, menurut pria yang biasa disapa mBah Coco itu, akan menghasilkan banyak terobosan.

Di zaman pandemik Covid-19, menurut dia, jika KLB bisa digelar, maka, akan sangat efisien, dan ada kemungkinan menghilangkan cara-cara kotor, yang selama ini, menjadi budaya akut, dalam setiap ada Kongres PSSI. Yaitu, budaya “money politic”.

Yang pertama, semua pemilik suara, tidak mengeluarkan dana untuk berangkat ke Jakarta. Kedua, jika selama ini, “money politic” berlangsung dengan pemberian fresh money. Kali ini, sulit dilakukan jual-beli suara, dengan cara-cara transfer. Karena, PPATK, BPK dan KPK sudah menunggu. Ketiga, para pemilik suara, tidak lagi membeli “kucing kurap dalam karung”.

Saran mBah Coco, semua syarat-syarat “gombal” yang dijadikan kuncian para “kartel”, untuk mencegat para kandidat, yaitu menempatkan Komite Pemilihan (KP) dari gank kartel. “Kalau pemilik suara, sudah bisa sejak awal mengawal, dan memilih siapa saja yang pantas mengawal KP, agar tak lagi butuh syarat-syarat yang aneh-aneh,” katanya di Jakarta, Kamis (21/1/2021).

Masih menurut mBah Coco, setiap calon ketua umum, wakil ketua umum dan anggota EXCO PSSI, cukup membuat proposal sekaligus surat siap diberhentikan, jika gagal menjalankan program-program yang sudah ditawarkan kepada para pemilik suara. Dalam bentuk power point atau PDF. “Caranya, buat saja, grup WhatsApp (WA) para voters, sehingga semuanya super efekstif dan efisien,” katanya lagi.

Artinya, semua kandidat, tak lagi melihat latar belakang, apakah harus berkecimpung di sepakbola selama lima tahun, seperti selama ini. Dan, akhirnya, semua dengan mudah dimanipulasi.

“Siapa saja, silahkan buat konsep dan program. Mau, presiden, menteri, jenderal, pengusaha, mantan pemain, wartawan, atau suporter yang memang punya konsep program, yang mampu melahirkan prestasi sepakbola moderen. Maka, nggak usah kuatir untuk tidak dipilih. Karena, semua yang terpilih, punya surat pernyataan, siapa mempertanggungjawabkan konsep dan programnya,” terangnya lebih lanjut.

BACA JUGA :  Fintech Dorong Perubahan di Indonesia.

Bahkan, seminggu atau dua minggu sebelum KLB, di dalam grup WA pemilik suara, bisa saling berdebat dan bertanya secara terbuka di dalam grup WA, dan juga bisa dibuatkan zoom atau virtual meeting, antara pemilik suara, dan para calon kandidat ketua umum, wakil ketua umum dan anggota EXCO.

Bahkan, para voters, bisa menggugat atau pun ikut terlibat menyeleksi para kandidat yang sudah menyiapkan proposal konsep dan program membangun organisasi PSSI. Dengan kriteria-kriteria yang tidak dibuat ruwet. Sehingga, para voters juga tidak punya kesempatan tawar menawar dalam jual-beli suaranya.

mBah Coco, hanya mengingatkan, bahwa sepakbola itu filosofinya fair play dan respect. Jadi, apa pun keputusan para voters, wajib dijalankan para calon kandidat yang siap bekerja dan berkarya melakoni program-programnya dalam lima (5) tahun ke depan. Tentunya, dengan fair play dan respect.

Mengapa, harus ada aturan main yang baru? “Karena, jejak Iwan Bule dan kawan-kawan, saat menjelang Kongres PSSI, 2 November 2019 di Hotel Shangrila, Jakarta, tidak bernyali dan tidak punya konsep. Tapi, mau menangnya sendiri, dengan cara “money politic”,” tegas mBah Coco.

Iwan Bule, imbuh mantan wartawan Suara Merdeka itu, diajak berdebat nggak datang, diundang televisi nggak datang, diundang wartawan nggak datang. Padahal, acara tersebut, adalah tahapan-tahapan yang wajib dilakoni para kandidat. Makanya, saat duduk di “kursi panas”, terbukti hanya plonga-plongo. Bahkan, binggung mau berbuat dan melakukan apa?

“Yang ada di dalam benak Iwan Bule, hanya cari uang, tapi nggak tau caranya membangun kerjasama dengan para klien-nya. Giliran, ada yang siap bekerjasama, justru dikemplang oleh anak buahnya Iwan Bule, yaitu Rudy Kandra dan Joko Purwoko,” kata mBah Coco.

BACA JUGA :  15 Juta Dosis Bahan Baku Vaksin Covid-19 Tiba di Tanah Air

Oleh sebab itu, saran mBah Coco, selain semua syarat-syarat dibebaskan, silahkan buat konsep dan proposal yang nalar masuk akal realistis. Serta, silahkan semuanya dikelola oleh para pemilik suara. Caranya, lewat zoom dan virual.

Saatnya KLB Virtual, murah dan transparan. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *