Sakramen Untuk Mas Remy Sylado.

 

Panjang Umur mas Remy Sylado. Foto; Susi Ivvati.

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Benar kata tetua, tugas manusia merebut nama. Begitu nama berjaya, pertolongan datang dari pintu mana saja. Demikianlah yang terjadi dengan Remy Sylado. Munsyi, sastrawan cum budayawan yang baru saja melewati masa kritis dalam hidupnya.

Sempat koma selama 11 hari, cuci darah, dan melewati berbagai tahapan medis yang marathon sejak bulan Oktober 2020, lalu. Serta empat (4) kali keluar masuk dan menjalani perawatan kesehatan secara intensif di rumah sakit Premier Jatinegara, Jakarta, mas Rem sekarang sudah bisa bercanda seperti sedia kala.

“Padahal kami sudah pasrah, sudah tidak berpikir Remy akan mampu melewati ini semua. Aneka kidung sudah kita nyanyikan,” kata mbak Emmy, istri mas Rem yang bersetia menemaninya dan menerimanya kembali, setelah sejumlah drama persoalan rumah tangga, khas nama besar sekelas Remy Sylado.

Di kediaman lamanya, di bilangan Cipinang Muara 3, Jakarta Timur, mas Remy juga mbak Emmy, yang menerima kami berdua, bersyukur tiada terukur kepada Tuhan YME yang mengirimkan sejumlah manusia istimewa, yang telah membantu pembiayaan pemulihan kesehatan Remy Sylado.

“Kalau ngga ada mereka semua, ngga tau dari mana kami membiayai pengobatan dan perawatan Remy,” kata mbak Emmy, Jumat (15/1/2021).

Terima kasih pertama dia tujukan kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan. Meski berseberangan pandangan politik dengan Remy, Anies Baswedan, yang mendapat kabar kolapsnya Remy dari penyair dan teaterwan Jose Rizal Manua, seketika menjawab, “Dia (Remy) adalah sahabat saya. Beliau adalah harta karun Indonesia. Saya akan membayar biaya perawatannya,” demikian dikatakan mbak Emmy, menirukan ucapan Anies Baswedan yang diutarakan oleh Jose Rizal Manua.

Singkatnya, biaya sebesar Rp. 30 Juta hingga Rp. 50 juta selama perawatan di RS ditebus Anies Baswedan.

BACA JUGA :  SmartFren 5G Bikin Boy William Jatuh Hati.

“Padahal dia tak gebuki (lewat tulisan) terus,” kata mas Rem. “Iya, saya juga berpikir. Apa mau pak Anies nolong Remy, kan bertentangan terus,” imbuh mbak Emmy.

Tapi kenyataan berkata lain. Pandangan politik boleh berpunggungan, bahkan berseberangan. Tapi Kemanusiaan tetap tak terkalahkan. Kemanusiaan tetap di atas segalanya. Kemanusiaan mengatasi segalanya. Bahkan sekedar perbedaan pandangan politik. Tentu mas Remy dan mbak Emmy, haru atas bantuan itu, dan karenanya, mereka berdua berterima kasih sekali kepada kelapangan hati Gubernur DKi Jakarta, itu.

Ini pelajaran untuk kita semua. Politik boleh membelah, mengadu domba juga mendungukan, memisahkan, dan mendinginkan. Tapi kebesaran hati, dan nilai-nilai kemanusiaan sepatutnya tetap paling utama.

Terima kasih kedua, diahaturkan kepada Ketua MPR Bambang Soesatyo. Yang juga membayari biaya perawatannya, setelah kembali payah kesehatannya. Entah siapa yang menghubungi Bamsoet, bisa jadi mas Wina (Armada Sukardi). Karena Bamsoet teman “sepernakalan” mas Wina, yang juga sangat dekat dengan mas Remy. Atau nama lainnya. Yang pasti, Bamsoet menutup biaya perawatan mas Remy. Angkanya, kurang lebih sama dengan biaya perawatan pertama mas Remy.

Ketiga adalah nama bang Fai, atau Hilmar Farid. Dirjen Kebudayaan RI, yang mendapatkan giliran menyodakohi Remy, saat kali ketiga harus kembali diinapkan di RS yang sama, karena kembali drop kesehatannya. Bukan semata fungsi tubuhnya sudah tidak sefitt sewaktu muda, tapi ada penyakit kaitan, yang membuat mas Remy kembali mendapatkan perawatan super intensif.

Yang terakhir, ucapan taksim terima kasih dihaturkan kepada Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Yang menutup pembiayaan mas Remy setelah kali keempat harus menginap di RS. Angkanya, rata-rata sama dengan biaya kali pertama mas Rem mondok di RS.

BACA JUGA :  Novel di Balik Kasus Novel

Bayangkan jika yang menjalani perawatan kesehatan di RS namanya belum sekondang dan sebesar mas Rem? Apa yang akan terjadi? Wallahu Alam.

Tak berlebihan karangan bunga, juga kiriman uang seperti menderas ke tempat mas Remy dirawat di RS dari sejumlah nama pesohor. Dari nama Renny Djayusman, hingga Nurul Arifin. “Lucunya, karangan bunganya namanya ditujukan kepada Remy Sylado. Tapi dokter dan perawat ngertinya yang dirawat namanya Yapi Tambayong,” kata mbak Emmy terkekeh.

Setelah itu, mas Remy malah mendongengi kami tentang koran terbesar di Indonesia pada sebuah masa. Atau di masa Hindia Belanda. Koran besar, yang bahkan telah ada, sebelum nama Indonesia dikenal, yang berada di jalan Kepodang di Semarang. Namanya koran De Locomotief, yang berdiri pada 1845. De Locomotief, sebagaimana diceritakan mas Remy, awalnya namanya Semarangsch Nieuws en Advertentieblad.

Dadi dunia jurnalistik neng Semarang kie wis suwe ono,” kata mas Remy yang memang sempat tinggal dan sekolah di Semarang, sebelum dilanjutkan di Solo.

Ingatan mas Remy memang masih luar biasa. Meski masih terbaring di ranjang khusus, dan belum bisa duduk sendiri, tapi artikulasi percakapannya sudah jelas sekali.

Setelah itu dia mendongeng tentang PP tahun 1966 yang memaksa setiap koran harus menginduk kepada Partai, yang memaksa sejumlah koran malih nama, atau tutup demi mensiasati kebijakan militer dan pendukung Soekarno dengan Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS) -nya.

Intinya, mas Remy sudah bisa ndongeng tentang apa aja. Itu tanda yang sangat baik. Karenanya, saat ini dia acap mendengarkan kembali musik klasik juga musik oldies, demi mengembalikan memorinya seutuhnya.

“Musik klasik itu baik untuk kesehatan. Asal jangan dengerin musik dangdut,” katanya memancing tawa. Ihwal musik dangdut yang dinilai tidak mencerdaskan, menurut mas Remy pernah diseminarkan di Bandung. Salah satu pembicaranya Benny Soebardja dari Giant Steps. “Itu seminar musik tahun 78-an, simpulannya, ngga sebodoh itu musik dangdut,” katanya tertawa lirih.

BACA JUGA :  Komunitas Mercedez Benz W204 CLUB INA Siap Bergerak.

Ya, mas Rem yang sudah bisa makan pedes, dan tidak ada pantangan makanan apapun, semoga makin bagas waras. Dan kembali dapat bersegera mengetik dengan mesin ketik manual kesayangannya, yang bunyi ketukannya, membuat kangen tiada kepalang.

Lalu masih ada yang lucu. “Dulu lengan hingga tangan kiri Om Remy pernah mati rasa, kan?” kata Susi Ivvati. “Kalau disentuh Susi Ivvaty pasti terasa, kok,” sahut Om Remy. Jawaban itu membuat Susi Ivvati lega. Berarti dia sudah (lumayan) sembuh. “Kalau sembuh total tambah ngedap-ngedapi jawabane,” kata wartawati senior itu terkekeh.

Saya dan Susi juga mengejar pertanyaan lainnya. “11 hari koma, apa yang dirasakan mas. Apakah seperti film-film itu. Mendapatkan pencerahan dan seterusnya. Atau cerita hikmah lainnya?” tanya saya. Secepat kilat mas Remy menjawab,“Ora….ora kroso opo-opo,” katanya. Padahal tambah mbak Emmy, “Kami sudah lakukan sakramen segala macem”.

Kita tahu, sakramen adalah upacara atau ritus yang dipercaya menjadi mediasi, oleh saudara-saudara kita umat Nasrani. Sekaligus menjadi simbol yang terlihat atau manifestasi dari Rahmat Tuhan yang tak tampak. Sekala, niskala.

Apapun itu, panjang umur mas Remy, panjang umur kemanusiaan. Semoga ngga perlu ada sakramen lagi. Wedi aku mas. (BB).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *