Mengenal Kanzul Ilmi Center, Pusat Kajian dan Pengajian Islam Nusantara

Betul, tidak ada yang memungkiri mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, bahkan negara muslim terbesar di dunia. Tapi, tak dipungkiri juga masih banyak yang hanya “Islam KTP” atau beragama Islam hanya karena untuk memenuhi syarat adminstrisi kependudukan atau Kartu Tanda Penduduk (KTP). Secuplik realita itulah yang menggugah Dr KH Ahmad Najib Afandi MA mendirikan Kanzul Ilmi Center. Lalu, bagaimana sejarah dan kegiatan KIC sebagai pusat dakwah di Brebes Selatan? Berikut liputan Nurokhman Takwad.

Dr KH Ahmad Najib Afandi MA yang popular dengan nama Gus Najib bisa jadi salah satu Kyai khos milenial karena dengan keistimewaan keilmuannya, kesepuhannya serta padatnya rutinitas dan jadwal dakwah masih serius dengan jurnalistik, media sosial dan dunia digital, dengan meluangkan waktunya untuk rilis berita ataupun conten media sosial, facebook ataupun YouTube. Tentu ia melakukannya karena menguasainya dan lebih dari itu, karena sadar di era revolusi industry 4.0, jurnalistik, media sosial dan dunia digital merupakan media yang sangat efektif sebagai media dakwah. Selain, Gus Najib ada kyai khos Nahdlatul Ulama yang juga demikian, seperti KH Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Gus Najib, benar-benar kyai khos milenial karena dalam waktu hitungan detik, tidak lebih dari satu menit bisa menjelaskan detail kajian ilmu yang dilakukannya berjam-jam bahkan bisa berhari-hari, benar-benar detail, kata-perkata sampai ke suasana acara. Cara yang ia lakukan sangat sederhana, mudah dan familiar bagi anak-anak milenial yaitu dengan cara mengirimkan link media sosial facebook, YouTube dan arsip melalui WhatsApp dan surat elektronik, email.

Tidak lebih dari satu menit, Gus Najib mengisahkan, sejarah berdirinya KIC sampai ke kegiatan rutin di KIC. KIC didirikan tidak lepas dari keprihatinannya atas minimnya gerakan dakwah di masyarakat Brebes Selatan dan peran masjid sebagai pusat dakwah sebelum tahun 2011. Tepatnya, sepulang dari belajarnya di Maroko dan mulai menetap di Pesantren Alhikmah 2 Benda. Sejak itulah ia melihat kekosongan masjid-masjid di wilayah Brebes Selatan dari pengajian-pengajian rutin sebagai pendidikan dan tuntunan masyarakat, terutama Masjid Agung Bumiayu yang menjadi ikon ummat Islam di wilayah Bumiayu.

BACA JUGA :  Ruzhanul Resmikan Program SMK Membangun Desa di Kabupaten Bogor

Atas dasar itulah pada tahun 2011 Gus Najib meminta izin kepada pengurus Masjid Agung Bumiayu untuk membuka pengajian terbuka dan umum untuk semua masyarakat Brebes Selatan tanpa memebedakan golongan dan organisai atau partai. Gayung bersambut, maka dibuatlah pengajian rutin Ahad Pagi mulai jam 07.00- 09.00.

Lambat laun, dari tahun ke tahun jamaah terus bertambah banyak dan menjadi pengajian terbesar di Brebes Selatan dengan jamaah pengajian dari empat kecamatan: Bumiayu, Sirampog, Tonjong dan Paguyangan dan lainnya. Sayangnya, karena sesuatu hal yang seharusnya tidak terjadi, pada tahun 2017 pengajian rutin dipindahkan ke Masjid Al Munawaroh, Kalierang, Bumiayu. Dan jamaah semuanya ikut pindah, bak tawon kemana sang raja pergi mereka akan mengekor.

Setelah pindah di Masjid Almunawaroh, di mulailah pembangunan Majelis Taklim Kanzul Ilmi Center (KIC) di atas tanah wakaf keluarga Haji Abdul Mukti Bumiayu di Blok Talok, Karangturi, Bumiayu.

Dan pada tahun 2018 gedung KIC sudah mulai dipakai untuk pengajian rutinan. Tepat tanggal 2 Desember 2018 gedung KIC diresmikan bersama-sama ribuan masyarakat bebarebngan dengan acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan dihadiri oleh Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaedillah Sodaqoh.

KIC Pusat kajian dan pengajian Islam Nusantara.

Seiring menguatnya gerakan dan paham-paham tranasional dan gerakan Islam Radikal yang sudah memasuki wilayah Brebes Selatan dan kurang masifnya gerakan Islam Aswaja, maka Gus Najib melalui KIC bertekad maju menjadi benteng dan pusat pengajian aswaja di masyarakat Brebes Selatan dengan pengajian rutinannya yang terjadwal.

Sebagai komitmen menjadi pusat kajian dan pengajian aswaja, maka KIC memiliki beberapa kegiatan rutin, antara lain; pengajian rutin Ahad Pagi yaitu kajian Tafsir Wahbah Zuhaeli dan Fikih Nihayah al Zaen;  Malam Selasa yakni majelis solawat dan kitab Minhajul Abidin; Selasa sore yakni Siroh Nabawiyah dan Kamis Pagi  yakni Mafahim.

Selain itu, juga ada Cafe Aswaja, yaitu kajian keaswajaan bagi siswa dan siswi SLTA se-Brebes selatan, terutama dengan SMAN 1 Bumiayu. Pengajian Al Qur’an pada Sabtu, Senen dan Kamis yang terbuka untuk umum. KIC juga melakukan kegiatan peliatihan yaitu Pelatihan Imam dan Khotib dan sudah berjalan dengan 700 peserta se Brebes Selatan. Pengajian Aswaja yaitu program khusus bagi banom-banom NU seperti Ansor, Banser, Fatayat, IPPNU dan IPNU. Tahlil, Marhabanan setiap tengah bulan, Haul masal setiap ahad ahir bulan serta kegiatan sosial dan santunan.

BACA JUGA :  Pemda Ajukan 568 Ribu Formasi Guru ASN PPPK

Kehadiran KIC bak hujan ditengah kemarau bagi masyarakat Brebes Selatan yang sudah lama mendambakan adanya majelis ilmu yang bisa menyatukan dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Karena selama ini banyak pengajian tapi terbatas pada kelompok masing-masing. Karena itu KIC kini selalu ramai dengan jamaah dalam setiap kegiatan rutinanannya dari lintas ormas, tidak hanya NU.

Kebersamaan dan kekompakan itu bisa dibuktikan dengan kompak dan kegotongroyongan masyarakat dalam membangun gedung KIC 2 lantai dan basment.  Karena itu KIC murni dibangun dengan swadaya masyarakat dan donatur dalam dan luar negeri dan belum menerima bantuan dari p[emerintah setempat atau ormas tertentu.  Bahkan setiap kali ada acara besar, KIC tidak perlu membuat proposal dan meminta-minta kepada selain jamaah, tapi cukup didanai oleh urunan pengurus dan jamaah tanpa paksaan, tapi kemauan dan kesukarelaan. Semua itu sebagai wujud rasa bangga dan terimakasih masyarakat dengan lahirnya KIC.

Bahkan kini banyak jamaah yang benar-benar baru mengikutui pengajian dalam hidupnya setelah adanya KIC dan mereka menyatakan rasa suka dan syukurnya karena bisa mengaji dengan istiqomah ditengah kesibukannya mencari nafkah atau menjalankan tugas sebagai pegawai. Hal ini membuktikan bahwa KIC dibangun untuk menjadi pusat dan kajian dan pengajian Islam nusantara untuk semua golongan. Semua itu berhasil dibangun karena kemampuan dan keahlian Gus Najib dari pengasuh  pesantren Alhikmah 2 dan juga wakil ketua LDNU Jawa Tengah dalam memberikan materi sehingga mudah dimengerti dan dipahami jamaah.

Disamping itu semua, Gus Najib juga mampu membaur dengan masyarakjat tanpa sekat, sehingga mereka suka bergaul dan berkumpul tanpa sungkan. Dan yang paling menarik setiap kali mengajar, Gus Najib selalu memiliki “senjata” menarik yang membuat jamaah tidak bosan mengikutinya sampai usai, yaitu sifat humoris.  Model inilah yang tidak masyarakat temukan  pada setiap majelis-majelis pengajian yang ada.

BACA JUGA :  Kampus Harus Bangun Sinergi dengan DUDI

Pola Pengajaran KIC

Kegiatan rutinan di KIC benar-benar mengaji dari  kitab satu ke kitab yang lain begitu seterusnya. Sekalipun hanya beberapa jamaah saja yang ikut membawa kitab, tapi pengajian di KIC tetap membaca kitab baris per baris dan kata perkata terus dijelaskan secara gamblang dan tuntas.

Dan setelah selesai penyampaian materi dilanjutkan dengan tanya jawab langsung dengan jamaah. Bentuk ini pula yang membedakan KIC dengan majelis lainnya yang tanpa tanya jawab terbuka.

Dan semua pengajain dan kegiatan di KIC diampu langsung oleh Gus Najib dan sesekali mengundang ustad dan kiyai di Brebes selatan, saat berhalangan atau udzur. Dan, sejak 2011 sudah banyak kitab yang berhasil dikhatamkan, antara lian: Sulam altaufiuq, Bustanul Arifin, Mafahim, Barzanji dan lainnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *