Sawitri, Doktor dari Tengah Hutan.

Sawitri (foto Dok Pribadi).

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com -Keterbatasan selalu melahirkan keniscayaan. Ketidakmungkinan sangat bisa menjadi mungkin dan terjadi di tengah kepungan keterbatasan. Dan sejarah telah banyak mengajarkan, keterbatasan, justru melahirkan orang-orang besar. Orang-orang hebat. Yang menolak kalah dengan segala keterbatasan yang menghimpitnya.

Yang kemudian menyulap keterbatasan, menjadi kekuatan demi mengubah hidupnya, menjadi lebih berdaya.

Demikian halnya dengan kisah gadis dari tengah hutan Gunungkidul, yang ternyata, atas nama keluarbiasaan, mampu meraih gelar Doktor di salah satu Universitas di Jepang.

Gunungkidul adalah salah satu dari 18 kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan pusat pemerintahan berada di Kapanewon Wonosari. Dan Sawitri, gadis dari tengah hutan Itu, adalah anak Penjaga Hutan atau  forester (rimbawan), bahasa kerennya.

Tapi jangan terburu menyimpulkan kehidupan penjaga hutan di Tanah Air dengan di luar sana, atau di AS, misalnya. Yang semua kebutuhan dasarnya disediakan negara, dengan segala fasilitas kehidupan yang berkelimpahan.

Di Indonesia, penjaga hutan, hidup dengan makna pengabdian yang sebenarnya. Berhadapan dengan pembalak liar, yang siap berhadapan dengan siapa saja, juga penjaga hutannya.

Tapi siapa yang menyangka, di tengah kekurangan dan keterbatasan Itu, Sawitri kecil sudah hafal nama-nama latin dari jenis-jenis pohon di hutan. Tukiyat (51), orang tua Sawitri,  penjaga hutan yang jujur itu, itu ternyata berhasil menjadikan putri semata wayangnya menjadi doktor dari sebuah Universitas di Jepang. Yang  ditempuhnya selama tiga tahun.

Tukiyat, sebagaimana dikutip banyak media,  menjadi penjaga hutan Wanagama yang dikelola oleh Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1991. Sebagai penjaga hutan, ia bersama istri dan anaknya tinggal di tengah hutan Wanagama.

Mereka tidak punya tetangga, yang ada hanya pepohonan dan semak belukar. Meski demikian, itu tidak menjadi penghalang bagi Sawitri untuk belajar.

Teman Sawitri adalah kesepian, dan keinginan keras untuk terus belajar.

Lingkungan hutan justru menjadi media pembelajaran untuk mengenal hutan lebih dekat. Sawitri sering main di sekitar hutan atau membaca buku di rumah. Meski tinggal di tengah hutan, Tukiyat tak merasa khawatir meninggalkan Sawitri sendirian di rumah.

Hal itu terpaksa dilakukan bila dia ditugaskan menyemai benih di area hutan yang lokasinya agak jauh. Sementara istrinya biasanya bertugas menjadi koki ketika ada tamu yang menginap di Wisma Wanagama yang terletak di pinggir hutan.

“Untung anaknya penurut, jadi kita nggak khawatir dia ke mana-mana,” kata Tukiyat mengenang masa kecil Sawitri. Menurut Tukiyat, kebiasaan Sawitri yang paling diingat adalah hobinya yang suka baca buku.

Selain buku dari sekolah, koleksi buku tentang kehutanan di perpustakaan Wanagama juga dibacanya. Tukiyat sendiri sempat melarang Sawitri untuk membaca buku-buku di perpustakaan Wanagama karena materinya bukan untuk anak SD seusianya.

Namun siapa sangka, hobi baca buku ini mengantarkan Sawitri meraih jenjang akademik tertinggi yakni pendidikan program doktor. Bahkan, bidang ilmu yang dipelajari juga tidak jauh dari lingkungan dia kenal sejak kecil , yaitu seputar hutan.

“Sejak kecil dia sudah hafal nama-nama latin dari jenis-jenis pohon karena juga sering mendengar saat ada dosen dan mahasiswa lagi praktik lapangan,” kata Tukiyat.

Apa yang menarik dari kisah Sawitri? Banyak. Bukan hanya menarik. Tapi juga sangat menginspirasi. Sebagaimana kisah heroik lainnya, Tukiyat mengenang, saat masih sekolah SD hingga SMP dulu, Sawitri harus jalan kaki sejauh lebih dari 2 kilometer agar bisa sampai ke sekolah.

“ Ia jalan kaki sendiri, saya tidak pernah mengantar. Pas SMA di kota Wonosari, ia jalan kaki menuju jalan besar, lalu naik bus ke kota,” kata Tukiyat.

Sawitri menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 1 Wonosari tahun 2011. Setelah itu, dia melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan UGM dengan mengambil program studi (prodi) Silvikultur.

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan S1, Sawitri melanjutkan ke jenjang S2 di prodi yang sama. Lalu, sejak 2017 lalu dia mengambil program S3 di Jepang.

BACA JUGA :  Musikini Superhits 2, Siap Menyengat.

Sawitri, yang tengah berada di Negeri Sakura, sepenceritaan Tukiyat, kuliah program doktor di prodi Biosphere Resource Science and Technology yang mempelajari genetika hutan di Universitas Tsukuba. 

Sawitri , masih menurut Tukiyat, mengakui menghadapi kendala dalam kuliahnya karena dia menekuni bidang teknologi molekuler yang masih awam baginya. Tapi, sebagaimana keras dan sepinya tinggal di tengah hutan, dan dengan segala kerja cerdas dan keras untuk melewati tantangan tersebut, akhirnya dia berhasil menjadi Doktor.

Berikut hasil marathon interview saya dengan Sawitri. Saat wawancara berlangsung, pada Desember 2020 lalu, Sawitri sedang berada di Jepang. Jadi proses wawancara berlangsung selama beberapa tahap, dan terma waktu tertentu. Karena melaraskan dengan skedul pendidikan Sawitri. Berikut rangkuman wawancara via email kepada Sawitri.

(Segera akan saya susulkan hasil wawancara saya dengan orang tua Sawitri, yang masih berada di hutan lindung, daerah Purwosari, Jogjakarta.)

Pantang Menyerah, Emoh Kalah.

Bagaimana Anda memaknai keberhasilan Anda meraih gelar Doktor di tengah berbagai tantangan, juga keterbatasan di sekitar anda?

Alhamdulillah, segala sesuatu yang saya raih hingga saat ini adalah atas ijin Allah. Tidak pernah terbersit dalam benak saya untuk dapat berkuliah ke luar negeri hingga mencapai gelar Doktor, namun Allah dengan kuasa-Nya membukakan jalan, memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar dalam lingkup lebih luas. Saya memaknai tantangan dan keterbatasan yang ada di sekitar saya (misal: keterbatasan dana, rasa minder karena berasal dari desa, rasa berat hati meninggalkan kedua orang tua untuk merantau ke luar negeri dalam rentang waktu 3 tahun) adalah “anugerah” Nya, yang menguji dan semakin menguatkan tekad saya untuk tetap berjuang mewujudkan cita-cita saya dan kedua orang tua saya.

Bagaimana Anda membesarkan hati Anda, dan menjaga stamina agar terus belajar dan terus mengejar dan mewujudkan cita-cita Anda? Baik saat Anda duduk di bangku SD, SMP, SMA hingga jenjang seterusnya.

Perkara “membesarkan hati” bukanlah hal yang mudah bagi saya yang sejak kecil hidup di lingkungan hutan, menjadi bagian dari warga desa sekitar hutan. Ketiadaan fasilitas belajar seperti yang dimiliki anak-anak kota seusia saya membuat saya minder, mustahil rasanya untuk dapat bersaing bahkan hanya untuk sekedar “berjalan sejajar” dengan anak-anak kota yang telah sangat lekat dengan teknologi komputer, internet dan akses les private yang terbuka lebar. Sebaliknya saya hanya mengandalkan waktu belajar di sekolah dan selebihnya belajar mandiri. Namun, dengan “melihat ke bawah”, saya menyadari bahwa saya lebih beruntung dapat mengenyam pendidikan dasar, yang mungkin bagi banyak orang saat itu masih menjadi sebuah keniscayaan. Berangkat dari kesadaran tersebut saya bertekad untuk memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan belajar yang singgah dalam kehidupan saya, dengan jalan apapun. Sejauh jalan saya tidak merugikan orang lain, maka tetesan peluh dan deraan sakit tidak akan pernah saya ijinkan untuk menghentikan saya belajar dan berlari mengejar dan mewujudkan cita-cita.

Bagaimana peran besar kedua orangtua Anda, sehingga mampu terus menyirami Anda dengan segenap cinta mereka, dari kecil sampai saat di posisi sekarang?

Saat langkah menjadi kian sarat dengan beban di pundak yang tak kalah berat, doa dan dukungan orang tua adalah hal pertama yang mampu meringankan derap langkah saya.  Meski orang tua saya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang cukup memadai (Bapak hanya lulusan SMP, sedangkan Ibu hanya lulusan SD), namun saya bersyukur karena saya dikaruniai orang tua dengan pemikiran yang terbuka (open minded) terutama dalam hal pendidikan. Beliau sangat mendukung saya untuk terus sekolah dari TK, SD, SMP, SMA, S1 hingga jenjang S2 (Master Program). Namun demikian, bukan tidak ada halangan, saat saya hendak melanjutkan kuliah S3 (Doctoral Program), orang tua saya sempat berberat hati. Maklum saja, saat anak seusia saya telah sukses dengan pekerjaan mereka, telah memiliki posisi yang menjanjikan, namun nampaknya anak semata wayangnya belum ingin berkecimpung di dunia pekerjaan, dan justru mengejar pendidikan doktor. Tentu saja, saling berbalas argument menjadi hal yang tidak terhindarkan di antara kami. Namun, dengan berbagai pertimbangan yang matang, baliau dapat seutuhnya menerima argument saya sehingga mengijinkan saya untuk menempuh pendidikan doctor di negeri sakura. Open minded dan restu kedua orang tua menjadi modal utama yang mengiringi setiap pijakan langkah saya dalam suka maupun duka.

BACA JUGA :  Presiden: Semangat Dakwah Merangkul, Bukan Memukul

Bagaimana penerimaan dan tanggapan kawan-kawan kecil, sepermainan, juga mungkin “sepernakalan” saat remaja, atas kesuksesan anda dalam bidang pendidikan saat ini?

Saya tidak tahu pasti bagaimana penerimaan teman-teman terhadap apa yang saya capai saat ini, mungkin gembira, salut, atau malah kecewa, sedih? Entahlah, itu menjadi jawaban atas masing-masing teman saya. Namun, yang saya tahu pasti, banyak pesan dukungan yang dikirimkan kepada saya, baik dari teman-teman kuliah atau bahkan kawan kecil yang sempat terputus komunikasinya karena kehilangan kontak satu sama lain. Bagi saya ini menjadi sebuah rasa syukur yang teramat, bahwa saya dikelilingi oleh teman-teman yang baik dan peduli terhadap saya. Semoga kesuksesan menyertai kawan-kawan saya dimanapun berada.

Hal-hal manusiawi atau sisi human apakah yang membuat Anda sangat mencintai Hutan, dengan segala kemisteriusan dan kekayaannya?

Terkadang saya berfikir kecintaan saya terhadap hutan tumbuh atas dasar ketidaksengajaan. Dipelihara oleh hutan sejak saya kecil hingga kini, tanpa disadari saya tidak dapat melepaskan diri dari hutan. Hutan telah memberikan saya udara yang bersih, angin yang sejuk, air jernih yang mengalir tanpa henti, yang apabila harus membayar, maka tidak akan pernah sanggup saya melunasinya. Bahkan capaian saya hingga mendapat gelar Doktor di bidang kehutanan inipun tidak terlepas dari campur tangan hutan dalam hidup saya. Air susu yang telah hutan berikan tidak akan saya balas dengan air tuba. Sudah saatnya saya berkontribusi terhadap kelestariannya. Saya telah belajar ilmu kehutanan secara formal hampir 9 tahun, telah banyak ilmu yang saya dapatkan, dan wajib hukumnya bagi saya untuk mengimplementasikan ilmu saya untuk memelihara hutan. Memelihara hutan bukan saja melulu tertuju pada kelestariannya semata, namun lebih jauh memelihara hutan juga berarti memeliharan diri kita sendiri dan orang-orang yang tinggal dekat maupun jauh dengan hutan di masa yang akan datang.

Apakah langkah selanjutnya setelah berada di posisi ini?

Saat ini saya dipercaya untuk turut serta mengembangbiakkan beberapa species tanaman hutan. Persemaian dan lapangan (hutan) adalah tempat saya bekerja sehari-hari, mencari benih untuk kemudian dikembangkan melalui perbanyakan vegetative merupakan tanggung jawab yang saya emban. Posisi ini bukanlah posisi terakhir yang saya raih. Lebih jauh, masih ada impian lain yang saya gantungkan dan harus segera digapai. Menjadi tenaga pengajar adalah cita-cita saya sejak kecil, semoga nasib baik berpihak kepada saya untuk meraih mimpi saya.

Apakah yang harus dilakukan saat berhadapan dengan kesulitan dalam hidup ini. Sebagaimana, dulu, Anda berhadapan dengan banyak kesulitan dan keterbatasan.

Kesulitan selalu ada dalam setiap langkah kehidupan, termasuk dalam hal ini belajar menuntut ilmu. Sebagai contoh kecil, ketika saya duduk di bangku SMA, sekolah saya terletak jauh di kota. Untuk sampai sekolah saya harus naik angkutan umum. Padahal, orang tua saya hanya sanggup memberikan uang transport untuk separuh perjalanan. Bagaimana usaha saya untuk tetap bersekolah? Saya berdamai dengan keterbatasan itu, menuntaskan perjalanan saya ke rumah dengan berjalan kaki di siang bolong yang terik. Bukan hanya keringat, namun terkadang pandangan sebelah mata dan cibiran di sepanjang jalan saya terima. Namun hal itu tidak pernah memperlambat jalan saya. Saya kembali pada niat awal yang telah saya tanamkan. Segala sesuatu harus saya perjuangkan apapun kesulitan dan rintangan yang ada. Sebab bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa “Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan manusia itu sendiri”. Kesulitan adalah ujian, dimana kita ditempatkan di luar zona nyaman. Mencoba belajar berdamai dengan kesulitan dan keterbatasan adalah usaha saya dalam memperjuangkan cita. Dan hal itu secara tidak kita sadari justru semakin menguatkan kita untuk tidak putus harapan dan menyerah begitu saja di tengah jalan dalam mencapai suatu impian.

BACA JUGA :  UT telah Berikan Peran Penting dalam Pemerataan Pendidikan Melalui Sistem PJJ

Berkenaan dengan pentingnya dunia pendidikan, bagi anak-anak. Bagaimana melaraskannya dengan posisi dunia bermain. Karena dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tapi pada saat bersamaan dunia pendidikan tak kalah pentingnya.

Menyelaraskan dunia bermain dan pendidikan bukanlah hal yang mudah, terlebih saat ini begitu banyak permainan yang bisa saja menina bobokkan anak-anak. Namun bukan berarti bermain dan pendidikan tak dapat berjalan beriringan. Saat ini begitu banyak permainan edukasi untuk anak yang dapat diadopsi. Tentu saja, dalam hal ini saya berpikir bahwa peran orang tua tak dapat dikesampingkan, dan bahkan menjadi utama dalam mengarahkan anak.

Bagaimana harusnya posisi orangtua yang ideal, dalam mengawal cita-cita anak anak mereka, dengan semua keterbatasan yang ada di sekitar kita? Berkaca pada support system di keluarga Anda, dengan orang tua yang luar biasa. Meski orangtua Anda hanya lulusan SD dan SMP, tapi sangat open minded.

Setiap orang tua berhak dalam mengarahkan anak pada cita-cita tertentu, dengan melihat pada minat dan bakat yang dimiliki anak. Toh, semua orang tua mengarahkan anak pada suatu kehidupan yang lebih baik. Namun, mungkin saja bagi sebagian kecil orang tua yang tidak memiliki basic knowledge yang luas (seperti halnya orang tua saya), atas dasar ketidak tahuan mereka justru akan akan berimbas pada perselisihan paham, tarik-menarik antara orang tua dan anak atau lebih parahnya adalah pemaksaan kehendak orang tua kepada anak. Oleh sebab itu, dalam hal ini, komunikasi menjadi penting untuk dibangun antara anak dengan orang tua. Orang tua seyogyanya terbuka terhadap pendapat anak. Dan pada saat yang bersamaan, anak yang hidup pada era yang lebih kekinian harus mampu bernegosiasi secara santun dan logis, sehingga celah-celah dalam diri orang tua dapat disempurnakan oleh pengetahuan anak. Saya meyakini bahwa lambat laun pengetahuan orang tua akan tuntutan kehidupan dunia luar semakin terbentuk, meniggalkan pikiran yang mungkin kolot atau melulu pada itu-itu saja.

Sebagai manusia Anda pasti pernah merasa lelah, capek, mungkin marah dengan keadaan. Bagaimana mensiasati saat hal manusiawi seperti itu datang. Agar kita terus “berjalan” menegakkan harapan, memperbaiki kehidupan.

Rasa lelah, capek, dan marah dengan keadaan terkadang singgah.

“Hidup prihatin” adalah apa yang selalu orang tua saya ajarkan. Beliau selalu menegaskan bahwa tidak ada capaian yang gemilang yang dapat diraih tanpa adanya usaha yang optimal, tanpa adanya rasa lelah dan sakit sebagai konsekuensinya. Untuk menghalau rasa-rasa itu, saya selalu mengingat kembali pada apa yang menjadi tujuan saya di awal perjalanan. Bagi saya tujuan adalah hutang. Jika saya telah menetapkan tujuan maka pada saat itu saya telah berani berhutang pada diri saya sendiri, sehingga saya harus bisa melunasinya yaitu dengan menuntaskan perjalanan saya sampai pada tujuan.

Apakah berkenan mbak Sawitri berbagi kontak bapak, agar kami dapat second opinion dari bapak sebagai persona yang melahirkan dan membesarkan Anda, bersama ibu tercinta tentu saja. Sehingga lengkap terceritakan sosok inspiratif seperti Anda.

Tentu saja. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *