Dirjen Dikti : Kita Bawa Mahasiswa Jadi Sarjana Unggul dengan Kreativitas dan Inovasi

Dirjen Dikti Kemendikbud, Nizam (SMJkt/Ist)

 

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Batas antara dunia maya dan nyata menjadi semakin tidak nyata. Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Dikti Kemendikbud) semua terutama di dunia pendidikan untuk menyiapkan generasi unggul yang kita gadang-gadang sebagai penerus generasi, sebagai pembawa estafet perjalanan bangsa ke depan.

“Kita bawa para mahasiswa menjadi para sarjana unggul, para sarjana yang penuh semangat membangun negeri, sekaligus penuh dengan kreativitas dan inovasi tapi juga santun dengan budaya ketimurannya,” ujar Direktur Jenderal Dikti Kemendikbud, Nizam.

Nizam beranggapan dalam dunia yang semakin menyatu antara dunia maya dan dunia nyata, menjadi sangat penting bagi kita untuk mempunyai daya kritis yang tinggi. Pasalnya, saat ini terjadi banjir informasi yang ada di media sosial atau media informasi yang sumbernya tidak jelas tetapi sangat mendistorsi realita kita.

Sebagai upaya peningkatan literasi media bagi dosen dan mahasiswa, Ditjen Dikti Kemendikbud telah menjalin kerja sama dengan Maarif Institute pada Oktober 2020 lalu. Kerja sama tersebut kemudian diwujudkan dalam program “Tular Nalar” dengan memberikan pelatihan terkait pemikiran kritis dan literasi media di perguruan tinggi.

“Acara ini sangat baik untuk membawa kita semua pada pendidikan yang betul-betul mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Dengan Tular Nalar seperti menularkan akal sehat yang menjadi komandan di dalam mengambil keputusan, mempersepsi informasi dalam media yang membanjiri kita dan dibutuhkan penalaran yang kuat dalam hal ini,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abdul Rohim Ghazali mengatakan bahwa pelatihan daring Tular Nalar ini memasuki tahapan kedua, yang mana tahapan pertama sudah dijalankan untuk perguruan tinggi swasta dan pada tahap kedua ini memasuki tahapan kerja sama dengan perguruan tinggi negeri di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

BACA JUGA :  KJRI Hongkong Apresiasi kepada UT yang Miliki Peran Esensial dalam PJJ

“Apa yang kami lakukan ini sebagai upaya untuk menghadapi sebagian persoalan besar yang meliputi bangsa ini. Dan program ini sangat penting yang bagi kami dalam melawan hoaks,” kata Abdul Rohim Ghazali.

Abdul Rohim menambahkan program ini dicanangkan dimulai dari diri kita sendiri untuk menggunakan nalar kritis dalam setiap membaca fenomena terutama yang simpang siur di dunia daring seperti media sosial. Ia berharap program ini yang ditujukan untuk para dosen ini nantinya akan menularkan kepada para mahasiswa.

Selanjutnya mahasiswa nantinya akan menularkan pada lingkungannya dan program ini bisa di akses oleh semakin banyak kalangan di Indonesia.

“Dengan penggunaan nalar kritis dalam memanfaatkan dunia daring diharapkan dapat menjadi tradisi yang tidak hanya berada di lingkungan akademisi, dosen dan mahasiswa, tetapi bisa menjadi tradisi di kalangan masyarakat pada umumnya,” tambahnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *