PDSS Akomodasi Perbedaan Kurikulum Semester Ganjil dan Genap

Ketua Pelaksana Eksekutif Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Budi Prasetyo dalam telekonferensi Peluncuran SNMPTN dan UTBK SBMPTN tahun 2021 (SMJkt/Prajtna Lydiasari)

 

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) mengakomodasi kurikulum nasional 2006 KTSP dan Kurikulum 2013 sistem paket dan SKS. Oleh karena itu, sekolah yang tidak menggunakan kurikulum nasional tidak diperbolehkan mendaftar di PDSS.

“Sekolah yang tidak menggunakan kurikulum nasional, tidak diperbolehkan mendaftar PDSS,” ujar Ketua Pelaksana Eksekutif Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Budi Prasetyo dalam telekonferensi Peluncuran SNMPTN dan UTBK SBMPTN tahun 2021 di Jakarta, Senin (4/1).

Namun, Budi menjelaskan bahwa PDSS mengakomodasi perbedaan kurikulum semester ganjil dan genap untuk tahun ajaran dan tingkat yang sama. Untuk sekolah yang menggunakan kurikulum nasional bisa memasukkan data ke PDSS dan kepala sekolah bertanggung jawab atas kebenaran data yang dimasukkan ke PDSS.

PDSS merupakan basis data yang berisi rekam jejak kinerja sekolah dan nilai rapor siswa. Pengisian PDSS merupakan tahapan dari pelaksanaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Pada tahun 2021, perguruan tinggi negeri menerima mahasiswa baru melalui tiga jalur yakni SNMPTN dengan kuota minimum 20 persen, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dengan kuota minimum 40 persen, dan seleksi mandiri dengan kuota maksimum 30 persen.

Penerimaan mahasiswa dari jalur SNMPTN dilaksanakan berdasarkan nilai akademik saja atau nilai akademik dan prestasi lainnya yang ditetapkan oleh perguruan tinggi negeri. Sementara, SBMPTN penerimaan mahasiswa dilaksanakan berdasarkan hasil ujian tulis berbasis komputer (UTBK) saja atau hasil UTBK dan kriteria lain yang ditetapkan bersama oleh perguruan tinggi negeri.

Hasil UTBK juga bisa digunakan sebagai dasar penerimaan mahasiswa lewat jalur seleksi mandiri. Dalam penerimaan mahasiswa melalui jalur SNMPTN tahun 2021, ada beberapa persyaratan yang diberlakukan bagi sekolah dan siswa.

“Dalam hal ini sekolah harus mengisi PDSS dan mendapat kuota pendaftar berdasarkan akreditasi,” tuturnya.

BACA JUGA :  Pembelajaran Tatap Muka Tunggu Vaksinasi Guru Rampung

Sekolah dengan akreditasi A sebanyak 40 persen siswa terbaiknya dapat mendaftar, sekolah dengan akreditasi B sebanyak 25 persen siswa terbaiknya bisa mendaftar, dan sekolah dengan akreditasi C dan lainnya lima persen siswa terbaiknya bisa mendaftar.

Sekolah membuat peringkat siswa dengan memperhitungkan nilai mata pelajaran yang sesuai dengan peminatan siswa serta kriteria lain seperti prestasi akademik.

“Siswa sekolah menengah atas dan sekolah sederajat bisa mendaftar kalau memenuhi persyaratan yang ditetapkan perguruan tinggi serta memiliki nomor induk siswa nasional (NISN), terdaftar di PDSS, data nilai rapor semester satu hingga limanya telah masuk ke PDSS, dan mengunggah portofolio bagi yang memilih program studi bidang seni dan olahraga,” pungkasnya.

Setiap siswa dapat memilih dua program studi dari satu atau dua perguruan tinggi negeri. Jika siswa memilih dua program studi, maka salah satunya harus berada di provinsi tempat sekolah menengah asal berada. Siswa yang memilih satu program studi bisa memilih perguruan tinggi negeri di provinsi mana saja.

Registrasi akun LTMPT dibuka 4 Januari 2021 hingga 1 Februari 2021. Pendaftaran SNMPTN akan dilaksanakan 15 hingga 24 Februari 2021 dan pengumuman hasil SNMPTN akan disampaikan pada 22 Maret 2021.

Sedangkan SBMPTN tahun 2021 diawali dengan registrasi akun LTMPT untuk UTBK dan SBMPTN pada 7 Februari sampai 12 Maret dan dilanjutkan dengan Pendaftaran UTBK dan SBMPTN pada 15 Maret sampai 1 April.

UTBK akan dilaksanakan dua gelombang, yakni pada 12 sampai 18 April serta 26 April sampai 2 Mei 2021.  Pengumuman hasil SBMPTN akan disampaikan pada 14 Juni 2021. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *