Film “Riuh” Karya Lola Amaria; Menasehati Tanpa Menggurui.

Film Riuh. (Lola Amaria Production).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Bagaimana cara yang paling mendekati ideal membaca sebuah film? Sehingga antusiasme dan kecerdasan yang tersirat dan tersurat dari sebuah film dapat kita baca dengan semestinya.

Menimbang film adalah karya kreatif yang dibangun dari banyak unsur keilmuan, dari banyak manusia kreatif di sana. Yang kemudian diorkestrasi dengan caranya sendiri oleh makhluk bernama sutradara.

Menurut Colin McGinn, dalam bukunya berjudul The Power of Movies: How Screen and Mind Interact (2005) banyak faktor yang dapat digunakan dalam mendekati dan membaca sebuah film.

Colin McGinn memulai pertimbangan filosofis yang menarik tentang daya pikat film. Seperti apa yang kita alami saat menontonnya dan apa yang membuatnya menjadi bentuk hiburan yang menarik secara universal. Serta banyak alasan keilmuan lainnya.

McGinn juga sekaligus meneliti bagaimana film bekerja dalam pikiran kita: bagaimana melihat “ke dalam” layar film, untuk kemudian memungkinkan kita membayangkan karakter yang digambarkan dan mengetahui pikiran dan perasaan para pemainnya.

Serta bagaimana hubungan dan persepsi kita terhadap film memungkinkan kita untuk lebih memahami aspek-aspek sifat manusia. Serta berbagai pendekatan filosofis lainnya dalam membaca dan memaknai sebuah film

Sederhananya, buku The Power of Movies didaku akan mengubah cara kita menonton film.

Dalam konteks film berjudul “Riuh” arahan sutradara Lola Amaria, produksi Lola Amaria Production, berdurasi 26.22 menit, film mengalir dengan sangat menyenangkan. Meski konflik yang diusung di sana bukan sembarangan.

Film Riuh. (Lola Amaria Production).

Yaitu ihwal keraguan sebagian kecil masyarakat kita (mungkin juga dunia) atas bahaya pagebluk Covid-19 yang belum terselesaikan hingga saat ini. Persoalan hidup mati itu, dalam film yang dukung KPC PEN Kominfo, dan PFN, dialirkan dengan cara ringan dan komedi.

Sehingga pesan yang disampaikan tidak melulu harus lewat cara menasehati, apalagi menggurui. Sebagai film dalam rangkaian film pendek tentang Pandemi Punya Cerita, “Riuh” adalah pesan penting di masa krisis pandemi.

Karena setelah menonton film yang dilakoni secara teatrikal oleh sejumlah pendukungnya seperti Putri Ayudya, Maryam Supraba, Ruth Marini, Lily Suardi, Ken Zuraida, Gesata Stella, Eduwart Manalu, Irna Juffe, Sapto Soetarjo, Alyssa Abidin Mikael, Yukio NA, Khafi Maheza, Dennis Danendra Iswara, dan Mutiara Aulia Zahra, penonton akan disadarkan secara komikal ihwal bahaya pandemi.

BACA JUGA :  Masih Anosmia Walau Sudah Sembuh Covid-19? Begini Cara Mengembalikannya

Lola Amaria yang bertindak sebagai sutradara dan produser, bekerjasama dengan Titien Wattimena sebagai penulis skenario, menyajikan film “Riuh” dengan cara paling mudah. Tanpa — sekali lagi — harus berpayah-payah mengumbar petuah. Dengan memberikan pemahaman tentang bahaya Covid-19 dengan cara menyegarkan.

Ken Zuraida dalam Film Riuh. (Lola Amaria Production).

Dari kehidupan sekelompok masyarakat menengah ke bawah di kota besar, yang tinggal di rumah petak, yang dekat dalam keseharian dan realitas kita.

Film yang dapat ditonton gratis di kanal YouTube Lola Amaria, per tanggal 29 Desember 2020 mulai pukul 21:00 WIB, itu sebagaimana dikatakan Lola Amaria, “Memang sengaja dibuat dengan cara penyampaian paling sederhana, komedi,” katanya seusai preview “Riuh” di Jakarta, baru-baru ini.

Harapannya, jalan komedi ini, akan sampai dengan cara paling tidak terasa, dan tawa, namun sekaligus “kena” kepada penontonnya. Sehingga harapan akhirnya, pesannya tersampaikan dengan cara paling sederhana, tapi mengena.

Benar kata MC Ginn, film “Riuh” menjadi sebentuk film hiburan yang menarik secara universal, sekaligus penting karena pesannya terkait erat dengan kehidupan kiwari, jika dimaknai dan dibaca dengan benar. (Benny Benke-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *