Kemendikbud Tak Hendaki Lahirnya Lulusan yang Tidak Sesuai dengan Kebutuhan DUDI

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto (SMJkt/Prajtna Lydiasari)

 

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Pada tahun 2020 telah dikembangkan 476 sekolah menengah kejuruan (SMK) Pusat Keunggulan (Center of Excellence) di 34 provinsi dengan total Rp1,2 triliun dan ratusan program link and match lain. Berdasarkan data terakhir di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) terdapat 7.845 bentuk kerja sama antara 2.482 SMK dengan 3.602 perusahaan.

“Investasi sumber daya manusia (SDM) yang unggul adalah persiapan terbaik menuju Indonesia masa depan,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto.

Oleh karena itu, sistem pendidikan kita harus mampu mewujudkan SDM unggul. Kemendikbud terus melakukan upaya memastikan agar link and match antara pendidikan dan pekerjaan dapat terjalin sebaik-baiknya.

Lulusan pendidikan vokasi harus kompeten dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Wikan menegaskan, Kemendikbud tidak menghendaki lahirnya lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dunia industri (DUDI). Kurikulum harus agile dan adaptif terhadap perubahan dan diperkuat melalui internship.

“Ada dua makna link and match. Pertama, kita start at the end, yaitu memulai dengan apa yang dibutuhkan DUDI. Kedua, ayo kita lakukan bersama-sama. Ke depannya, industri harus turut mendidik anak-anak kita,” tegasnya.

Kebutuhan DUDI yang terus diwujudkan Kemendikbud melalui Ditjen Vokasi berupa lulusan dengan karakter baik, inisiatif, terampil, menguasai bahasa asing, serta memiliki soft skills. Menurut Wikan, pihak DUDI mengaku meski hard skills dibutuhkan, namun melatih hard skills jauh lebih mudah dibandingkan mengasah karakter dan soft skills lulusan.

Wikan berharap filosofi pendidikan bukan sekadar muatan yang mengisi pikiran siswa dengan teori, tetapi juga turut menuntun anak-anak bangsa dengan gairah belajar yang menyenangkan, sehingga anak mampu mengembangkan diri secara mandiri dalam dunia dengan teknologi tanpa batas ini.

BACA JUGA :  Dirjen Dikti : Jangan Ada Mata Rantai yang Terputus antara Perguruan Tinggi dan Industri

“Soft skills dan karakternya bagus tercermin dari lulusan yang punya sikap pembelajar mandiri sepanjang hayat,” harapannya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *