Pertumbuhan Industri Asuransi Bakal Pulih di 2021


Jakarta, Suara Merdeka.Com.- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pertumbuhan industri asuransi bakal pulih di 2021 sejalan langkah perbaikan ekonomi yang dilakukan pemerintah. Akan tetapi, OJK menekankan tiga hal guna memaksimalkan pertumbuhan yang berkualitas di Industri Keuangan Non Bank (IKNB) terutama di industri asuransi.
Hal itu dikatakan Kepala Departemen IKNB 2A OJK Ahmad Nasrullah kata Nasrullah, dalam Webinar Insurance Outlook 2021, Kamis, (17/12).
Dia mengaku , OJK tidak memungkiri pandemi covid-19 memberikan tekanan dan membuat industri asuransi terkontraksi. Namun, lanjutnya, OJK optimistis pada 2021 pertumbuhan industri jasa keuangan terutama industri asuransi akan membaik usai terhantam pada tahun ini.
“Kalau bicara ke depan kami cukup optimistis menyongsong di 2021. OJK sudah bicara dengan asosiasi bahwa ekspektasi kami itu kita (industri asuransi) mulai rebound terutama kalau kita menggunakan data pertumbuhan di 2020. Karenanya ada tiga hal yang kami tekankan,” jelas dia.
Pertama, kata dia, OJK intens berkoordinasi dengan asosiasi dalam konteks bagaimana bersama-sama membantu IKNB terutama industri asuransi bisa bertahan dalam masa pandemi seperti sekarang ini. OJK, tambahnya, juga sudah membuat beberapa program relaksasi di industri asuransi termasuk kemudahan penyampaian laporan kepada regulator.
“Dan juga kemudahan pelaksanaan fit and proper test melalui sarana virtual. Lalu kita juga memberikan relaksasi dalam penghitungan tingkat kesehatan keuangan dalam kaitan piutang premi. Kita juga memberikan relaksasi dalam konteks penjualan dengan menggunakan sarana teknologi,” tuturnya.
Kedua, OJK meminta agar pelaku industri asuransi menjaga kepercayaan masyarakat terutama menghindari dari hal-hal yang menyimpang. Hal ini, masih kata Nasrullah, ditekankan OJK karena sebelumnya ada beberapa kasus yang menerpa industri asuransi dan skalanya terbilang besar. Persoalan ini pada akhirnya memengaruhi kepercayaan masyarakat.
“Bukan saya mau mengungkit-ungkit tapi tapi ini memengaruhi kepercayaan masyarakat kepada industri asuransi. Ini juga kami tekankan bagaimana kita bisa tetap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi,” tuturnya.
Ketiga, OJK meminta pelaku industri asuransi menyiapkan berbagai macam risiko termasuk risiko terburuk jika kondisi di 2021 tidak sebaik yang diperkirakan. Semua kondisi perlu diskenariokan meski vaksin sudah ada dan sejumlah upaya pemulihan ekonomi terus dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait lainnya.
“Saya bukan skeptis atau pesimisme. Cuman memang kita harus antisipasi sedemikian rupa dan kita mitigasi risikonya walau vaksin sudah ada. Kita harus tetap berjaga-jaga kalau skenario ini (kondisi di 2020) akan berlanjut di 2021, bagaimana tingkat risikonya,” jelasnya.
Karena itu, Nasrullah menegaskan, OJK tidak henti-hentinya mengimbau kepada sejumlah asosiasi di industri asuransi baik asuransi umum, asuransi jiwa, maupun asuransi syariah untuk terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan OJK. Upaya itu penting guna memperkuat industri asuransi di Tanah Air dalam menghadapi sejumlah risiko yang menghadang.
“Tidak bosan-bosan kami mengimbau secara khusus asosiasi untuk membuka komunikasi dengan regulator, bagaimana kita memitigasi risiko di industri. Kalau ada yang harus diperbuat oleh OJK baik dalam bentuk regulasi, relaksasi, maupun aksi lain supaya kita bisa tetap bertahan menjaga pertumbuhan industri sekaligus menjaga kepentingan konsumen,” pungkasnya.(bn/69)

BACA JUGA :  Sekjen ARFI: Stabilitas Keamanan dan Ketertiban di Ibukota Berpotensi Ancam Pemulihan Ekonomi Bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *