Lulusan Sastra dalam Dunia Kerja

Oleh Ratih Laily Nurjanah

KELUHAN mengenai keminiman pekerjaan yang mencantumkan kebutuhan akan lulusan sastra memunculkan pertanyaan tentang apa itu sastra sebenarnya. Apa yang diajarkan oleh sastra kepada orang yang menekuninya?

Dan yang paling penting, untuk apa sastra ada? Pada kenyataannya, pembelajaran sastra sudah diberikan sejak sekolah dasar (SD) melalui pemberian dongeng, cerita rakyat, kegiatan menulis pengalaman pribadi, melaporkan hasil observasi, dan pengenalan karya puisi. Anakanak SD sudah diajarkan untuk setidak-tidaknya tidak buta literasi dengan mengenal karya tulis dan mengapresiasi karya orang lain. Keterbatasan pandangan bahwa pendidikan sastra hanya sebatas puisi dan prosa membuat sastra itu dianggap tidak perlu harus dipelajari apalagi sampai jenjang perguruan tinggi.

Begitu pula pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan bahasa dan sastra, terutama bahasa asing, hanya berkutat dalam ihwal tata bahasa dan penggunaannya dalam penampilan bahasa (mendengar, berbicara, membaca, menulis, dan memirsa —satu kemampuan bahasa yang baru) memunculkan anggapan bahwa jika pekerjaan tidak berhubungan dengan bahasa, maka lulusan sastra tidaklah dibutuhkan.

Jika kita mempelajari lebih dalam ke dunia sastra, terutama pengajarannya, banyak sekali peranan sastra yang dapat kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sastra lewat pembangunan kemampuan analisisnya mengajak dan mengajarkan para siswa menyaring nilainilai yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sosial bahkan dunia kerja.

Nilai-nilai inilah, yang biarpun terlihat umum dan mudah, namun mungkin tidak diperoleh setiap siswa dari lingkungan terdekatnya, baik keluarga maupun lingkungan tempat tinggal. Dari karya sastralah mereka mengerti tentang apa yang terjadi di sekitar mereka.

Lalu, kenapa masih saja pendidikan sastra dipandang sebelah mata? Bisa jadi itu karena para penyedia lapangan kerja tidak pula merasa membutuhkan lulusan sastra dalam dunia kerja. Mereka dianggap tidak memiliki spesifikasi kemampuan dan pengetahuan yang dapat diaplikasikan ke dalam dunia kerja. Anggapan bahwa lulusan sastra hanya bisa membaca puisi dan menulis artikel menyebabkan mereka tidak tertarik kepada lulusan sastra. Padahal, lulusan sastra memiliki banyak kompetensi yang dapat diaplikasikan di dalam dunia kerja.

Pengembangan Kemampuan

BACA JUGA :  Empati dalam Relasi Penanganan Covid-19

Kurikulum pendidikan sastra saat ini sudah sangat berkembang. Selain itu, pengajarannya tidak lagi menekankan hanya pada ihwal fiksi dan nonfiksi tapi juga mengajarkan cara menjadi seseorang yang bisa menampilkan value diri di dalam masyarakat. Pengembangan kemampuan seperti public speaking, public relation, bahkan penguasaan teknologi sekarang banyak diterapkan oleh universitas dengan program studi sastra demi menyiapkan para mahasiswanya menjadi bagian dari dunia kerja.

Kemampuan entrepreneurship yang juga diberikan melalui pembelajaran di beberapa universitas, baik negeri maupun swasta, juga menjadi salah satu kemampuan penunjang para lulusan untuk bisa bertahan di tengah perkembangan zaman tanpa nantinya harus bergantung pada penyedia lapangan kerja.

Menjadi hal yang kurang tepat pula jika penguasaan bahasa asing menjadi satu – satunya kelebihan dan kompetensi para lulusan sastra bahasa. Keakraban mereka dengan karya sastra melatih mereka menjadi pribadi yang peka terhadap sekeliling, berpikir kritis, bekerja dengan detail kecil, dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap segala hal. Soft-skillini yang nantinya dapat menjadi penunjang mereka di dunia kerja. Sayang sekali, kemampuan mahasiswa atau juga siswa di sekolah menengah ke bawah untuk menghasilkan karya sastra banyak mendapat halangan dari dunia luar itu sendiri.

Banyak penulis muda yang dipatahkan semangatnya dengan pertanyaan ”Mau dapat uang berapa dari menulis?” Padahal lewat tulisan itulah mereka ikut memperkenalkan identitas bangsa ke dunia luar. Dengan tulisan itulah mereka menunjukkan eksistensi mereka sebagai bagian dari masyarakat. Profesi penulis yang dianggap bukan profesi masih saja menjadi batu sandungan bagi mereka yang mencintai sastra untuk mengembangkan diri mereka.

Profesi jurnalis, yang bagi mereka terdengar menarik karena memberi kesempatan untuk terjun ke lapangan dan menganalisis informasi, pun masih saja dianggap pekerjaan yang tidak menjanjikan oleh keluarga mereka.

BACA JUGA :  Edy Setijono; Isinya Daging Semua.

Di saat sebenarnya masih banyak tempat bagi lulusan sastra di dunia kerja, pandangan kebanyakan orang tua bahwa pendidikan sastra tidak menghasilkan apa-apa itulah yang membuat pembelajaran sastra tidak terlihat penting. Pandangan yang sempit mengenai sastra seperti itulah yang membuat lulusan sastra masih dianggap ada dan tiada.

Universitas sebagai penyedia lulusan sastra sebenarnya sudah beradaptasi dengan tuntutan dari lapangan kerja terkait kompetensi lulusan. Apakah penyedia lapangan kerja sudah mencoba melihat lebih jauh ke dalam label ”sastra” melebihi apa yang terlihat di luarnya saja? Apakah dunia luar sudah bisa melihat bahwa para lulusan sastra pun mempunyai kemampuan yang aplikatif? Memandang sebelah mata akan kemampuan mereka hanya menunjukkan bahwa iliterasi masih menjadi sebuah isu penting di sekitar kita di mana iliterasi tidak lagi hanya sebatas tidak bisa membaca dan atau menulis tapi juga tidak mau membaca apalagi menulis.

Edukasi tentang pembelajaran sastra itu sendiri perlu disuarakan lewat media untuk membentuk sebuah opini baru tentang pendidikan dan lulusan sastra itu sendiri. Jika pertanyaan ”untuk apa sastra” kita ulangi, maka jawabannya adalah untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang peka, apresiatif, kritis, ekspresif dengan cara yang estetik bahkan akademik dengan sisi kemanusiaan yang tinggi yang nantinya memengaruhi sikap mereka sebagai individu yang beradab. (13)

Ratih Laily Nurjanah MPd, dosen Sastra Inggris Universitas Ngudi Waluyo dan mahasiswa Doktoral Pendidikan Bahasa Inggris Unnes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *