GADAMER: Menggapai Kesepahaman Interkultural dalam Konteks Pendidikan Oleh: Cicilia Emita Mahasiswi Magister Teknologi Pendidikan  Universitas Pelita Harapan

Manifesto Pendidikan:
Sebuah catatan filosofis
Di penghujung Tahun 2020
________________________ 

GADAMER:
Menggapai Kesepahaman Interkultural dalam Konteks Pendidikan

Oleh: Cicilia Emita
Mahasiswi Magister Teknologi Pendidikan 
Universitas Pelita Harapan

Aktualita Pendidikan Indonesia

    Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan Information and Communication Technology (ICT) demikian luar biasa pesat dengan eskalasi dan akselerasi yang sedemikian luas dan cepat. Perkembangan ICT (Information & Communication Technology) yang luar biasa ini, semakin intensif situasi dan kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) bergerak. Tentu hal ini sangat mempengaruhi pendidikan di Indonesia pada umumnya dan aktivitas belajar mengajar di sekolah pada khususnya. Hal ini tentu menuntut kebijakan dan alternatif praksis pendidikan yang lebih uptodate agar pendidikan tetap relevan untuk anak bangsa.

    Pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, tentu tidak hanya membawa dampak dibidang ekonomi, sosial dan politik melainkan juga bahkan secara khsusus membawa dampak dibidang pendidikan. Karena mesti social dan physical distancing maka serta merta pembelajaran mesti berubah menjadi daring. Sangatlah tidak mudah dalam waktu singkat pembelajaran mesti dilakukan dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sementara secara teknis penyediaan teknologi yang memfasilitasi proses pembelajaran tersebut butuh proses dan tidak murah serta rumit. Belum lagi masalah mentalitas, kultural dan interaksi sosial berpengaruh pada model pola asuh orang tua pada anak di masa pandemi ini. Setiap anak, keluarga dan sekolah serta stakeholder lainnya dalam dunia pendidikan. Pendek kata menyelenggarakan PJJ atau pembelajaran daring tanpa garing di tengah pandemi tidaklah sederhana – rumit bahkan. Sementara itu pandemi Covid-19 ini menambah lagi akselerasi dan eskalasi pesatnya perkembangan ICT karena semua tergagap dan terhenyak namun harus segera bangun dan bergumul dengan realitas yang ada. Pandemi mestinya menyediakan pula ruang untuk merenung – berefleksi sejenak dan tidak hanya sibuk mensiasati Pembelajaran Jarak Jauh – belajar daring tanpa garing, melainkan perlu menengok sisi lain diluar persoalan teknis administratif dan teknologi.

Dalam konteks pendidikan, meski semua negara mengalami hal yang serupa namun segera menemukan arah dan pilihan aktivitas yang jelas, alih-alih mengambil alternatif solusi yang konstruktif dan berkesinambungan serta kontekstual, Indonesia justru terjebak pada aktivitas tambal sulam tertatih-tatih dalam era digital dan online learning. Mestinya pembelajaran daring berlangsung tanpa membuat garing, Namun karena gelagapan dengan situasi dan kondisi VUCA serta pandemi yang berkepanjangan justru memperlihatkan ternyata arsitektur pendidikan baik dari fondasi filosofisnya maupun visi misi pendidikan serta grand design pendidikan yang utuh menyeluruh komprehensif tidak ditemukan. Kebijakan politis soal pendidikan bahkan setelah reformasi lebih banyak diwarnai euforia “demokrasi” yang didengungkan padahal sarat dengan muatan kepentingan politis tertentu. Kebijakan Pendidikan yang mestinya menjadi pilar kemajuan peradaban bangsa Indonesia tersandera oleh silang sengkarut struktur sosial yang juga tersandera oleh kepentingan politis sektarian.

Kalau sistem dan struktur pendidikan terkooptasi dalam struktur sosial yang menyandera seluruh peri kehidupan berbangsa dan bernegara maka kiranya perlu merevitaslisasi dan menimba kembali inspirasi dari Paulo Freire: bagaimana pendidikan mestinya menjadi praksis pembebasan. Praksis pendidikan akan mengandaikan kesadaran kritis yang terbangun dan dialog lintas horizon kesepahaman sebagaimana dianjurkan oleh Gadamer (Hardiman, 2015).

Ilustrasi yang segera viral namun juga segera tenggelam oleh hal-hal viral lainnya di era digital ini, orang menjadi kehilangan waktu dan kesempatan untuk mencerna, hanya bisa terlongo, kaget dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain secara cepat beragam dan carut marut. Sebagai contoh: ilustrasi guru di Madura yang keliling ke rumah-rumah murid karena murid tidak punya HP, orang tua di ladang dan bekerja; banyak anak mengalami putus sekolah karena tidak ada HP; orang tua ‘berebut’ untuk bekerja sementara anak butuh untuk sekolah; kekerasan dalam rumah tangga meningkat dan berbagai macam hal yang mengenaskan, kejam dan menyedihkan terjadi. Bagaimana nasib dengan pendidikan alternatif yang diselenggarakan oleh banyak institusi secara mandiri oleh berbagai kelompok sukarelawan dan aktivis?

BACA JUGA :  Peringati Hari Musik Nasional, Pemerintah Susun Regulasi Hak Cipta Musisi Tradisional

Rm. Mangun (Pradipto, 2007) pernah berujar: mending pemerintah berpihak pada yang lemah, miskin dan terpinggirkan yang tidak memiliki modal budaya dan sosial yang memadai (Bourdieau, 1977). Pemerintah tidak perlu mengurusi sekolah atau institusi pendidikan yang elit dan dapat secara mandiri menyelenggarakan proses belajar mengajar. Apalagi justru membebani dengan berbagai aturan yang menjadi tali kekang tidak penting baik secara teknis maupun administratif. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pendidikan, guru dan institusi sekolah masih relevan untuk anak jaman di era digital ini dan tidak membiarkan diri  dikungkung oleh sistem yang merusak interaksi utuh dan alami – manusiawi.

Hermeneutik Filosofis ala Gadamer

Hans-Georg Gadamer lahir di Marburg, Jerman pada tanggal 11 Februari 1900. Karya monumental Gadamer adalah bukunya yang berjudul “Wahrheit und Methode”. Gadamer mencoba melepaskan Hermaneutika dari ilmu-ilmu pengetahuan dan menghubungkannya dengan dimensi sosial. Bagi Gadamer memahami berarti “saling memahami” (Sichverstehen) yang juga memiliki arti kesepahaman (Einvertandnis).

Menurut Gadamer, saat membaca sebuah teks kita tidak harus selalu mengikuti sudut pandang dari penulis, melainkan justru kita harus dapat melihat dan memahami teks tersebut dari sudut pandang kita sendiri sebagai pembaca. Memahami tidak selalu berarti mengatasi keterasingan, melainkan menginterpretasi isi pikiran pengarang (Hardiman, 2015). Untuk dapat memahami kita tidak harus selalu melihat sejarah, melainkan justru perlu menyatukan hal-hal yang telah terjadi sebelumnya dengan situasi di masa kini, sehingga kita memiliki satu sudut pandang yang baru. “Kesadaran kita tidak berada “di luar” sejarah, melainkan bergerak “di dalam” sejarah. Dengan ungkapan lain, pemahaman kita berada di dalam sebuah horizon tertentu.” (Hardiman, 2015). Wirkungsgeschichte adalah situasi yang didalamnya kita sebagai pelaku sejarah tidak dapat melampaui sejarah, sehingga sebuah penelitian sejarah yang mengklaim diri obyektif sekalipun tersituasi oleh sejarah, yakni oleh suatu zaman yang mengejar obyektivitas. Hasil-hasil penelitian sejarah juga tidak berdiri di luar sejarah, melainkan merupakan bagian kesinambungan sejarah. (Hardiman, 2015). Prasangka adalah penarikan kesimpulan atau penilaian yang tergesa-gesa. Prasangka adalah salah satu komponen untuk bisa memahami. Prasangka adalah hal yang wajar, yang biasanya muncul pertama kali. Namun kita harus bisa menentukan apakah prasangka yang ada itu adalah prasangka yang baik yang menunjukkan kebenaran, atau yang tidak. “Prasangka dan otoritas justru merupakan komponen-komponen yang memungkinkan pemahaman teks, maka tugas pembaca adalah membedakan antara prasangka yang legitim dan illegitim.” (Hardiman, 2015). Gadamer berpendapat bahwa untuk memahami dan memperoleh kebenaran itu merupakan proses peleburan  horizon-horizon. Memahami (verstehen) adalah sebuah proses yang melibatkan tegangan berbagai horizon atau dalam istilah Gadamer  “selalu merupakan peleburan horizon-horizon yang dianggap ada dari diri mereka sendiri”. (Hardiman, 2015). Gadamer berpendapat bahwa memahami itu berasal dari aplikasi. Saat kita mencoba untuk mengaplikasikan itulah saat kita bisa memahami. Pemahaman, interpretasi dan aplikasi merupakan “satu proses yang terpadu” (Hardiman, 2015).

Gadamer dan Konteks Kesepahaman

Ada beberapa langkah reflektif dari pemikiran Gadamer. Dari langkah antropologi, Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan universal untuk memahami orang lain. Memahami bukan sekedar persoalan kognitif dan informasi melainkan secara menyeluruh, merengkuh pribadi orang lain. Memahami tidak sekedar mengetahui misalnya tentang nama, asal usul,  jenis kelamin, pekerjaan dan lain sebagainya, melainkan  merengkuh sampai ke pribadi orang tersebut dengan memahami emosi, perilaku serta latar belakangnya. Itulah sebabnya Gadamer berpendapat bahwa manusia adalah pemahaman itu sendiri. Tentu saja memahami di sini adalah proses pemahaman dalam konteks filosofis. Kekhasan pemikiran antropologis Gadamer yang berbeda dengan para filsuf yang lain adalah definisi Gadamer atas sosok manusia sebagai pemahaman, proses memahami dan kesepahaman.

Langkah reflektif etika yang dapat dipetik dari pemikiran Gadamer adalah manusia sebaiknya memiliki horizon yang luas agar tidak menjadi picik. Dengan memiliki horizon yang luas, manusia menjadi terbuka untuk mendengarkan orang lain dengan bijaksana dan tidak keras kepala dengan apa yang diyakininya. Horizon dapat diibaratkan  kita naik ke puncak bukit, semakin tinggi bukit yang kita daki maka horizon kita menjadi lebih luas dan menyeluruh. Ketika seseorang hanya bersikeras dengan apa yang menjadi pendapatnya sendiri dengan misalnya mengatakan kata “pokoknya” maka manusia tersebut memperlihatkan sempitnya horizon yang dimiliki. Orang tersebut memiliki “ketidak-sepahaman” yang berlebihan sehingga mengabaikan “kesepahaman” yang menjadi prasyarat dalam interaksi sosial apalagi relasi timbal balik interkultural. Orang yang picik karena horizon yang sempit akan menutup kemungkinan terjadinya fusi atau peleburan horizon yang sebetulnya dapat memperluas cakrawala horizon yang membangun kesepahaman yang dimiliki. Orang semacam ini akan mendegradasi atau menurunkan  martabat kemanusiaannya sendiri. Sebaliknya orang yang memiliki wawasan yang luas dan open minded (terbuka pemikirannya) akan dengan senang hati berusaha memahami horizon orang lain. Dengan memiliki horizon yang luas, orang menjadi terbuka untuk mendengarkan orang lain dengan arif dan tidak keras kepala dengan apa yang diyakininya. Dengan inilah seseorang akan semakin terbangun kesepahamannya dan jati dirinya sebagai manusia. 

BACA JUGA :  PIP Semarang Siap Lahirkan SDM Profesional

Langkah reflektif epistemologis berdasarkan pemikiran Gadamer dapat dicapai dengan melihat peran prasangka dalam pembentukan pemahaman. Kita perlu mengidentifikasi prasangka yang legitim dan  yang tidak untuk bisa memperoleh pemahaman yang tepat.  Prasangka adalah sesuatu yang wajar. Prasangka ini merupakan kondisi yang memungkinkan pemahaman. Namun perlu ditelaah mana prasangka yang legitim dan mana yang tidak. Contohnya ketika kita membaca suatu berita hoaks. Pasti ada prasangka dalam diri kita. Namun dengan prasangka itu kita perlu chek legitimasinya  atau kebenarannya serta mencari data-data. lalu  kita didorong untuk menelaah berita tersebut lebih lanjut yang akhirnya membawa kita pada suatu pemahaman. Fusi antar berbagai horizon-horizon paling kentara ketika terjadi diskursus atau perbincangan tentang agama dan fenomena interkultural. 

Ilustrasi fusi horizon:
Program Live in di sebuah desa di Lereng Merapi

Di ranah aplikasi, pemikiran Gadamer dapat menjadi inspirasi bagi proses fusi horizon-horizon dan dialog untuk mencapai kesepahaman. Misalnya, saat siswa-siswi dari satu SMA di Jakarta melakukan live in di sebuah desa di lereng Gunung Meski mereka berdomisili di Jakarta bahkan mungkin kebanyakan lahir di Jakarta namun tidak semua orang tua mereka berasal dari Jakarta. Orang tua mereka dari berbagai macam suku dan asal daerah dengan latar belakang kultural yang mereka bawa masing-masing. Selama tinggal di Jakarta pun para siswa-siswi ini, bersama keluarganya, juga berjumpa dengan beragam anggota komunitas dan masyarakat baik di lingkungan rumah mereka, lingkungan sekolah, lingkungan kerja orang tua mereka maupun komunitas-komunitas informal tempat mereka biasa melakukan interaksi sosial. Ketika kemudian mereka live in di sebuah desa di lereng Gunung Merapi yang memiliki latar belakang kultural yang sangat mungkin berbeda dengan keseharian mereka beserta pola relasi, perilaku, norma dan nilai-nilai yang dianut tentu menjadi sangat mungkin terjadi perjumpaan berbagai horizon yang dimiliki masing-masing. Apalagi pada kesempatan live in tersebut setiap siswa/i mesti tinggal serumah dengan keluarga tertentu di desa tersebut selamat beberapa hari. Tata kelola keluarga tersebut tentu berbeda, dalam perspektif horizon, dengan aturan dan norma yang dijunjung di keluarganya sendiri di Jakarta. Oleh karena itu, ketika para siswa-siswi tersebut dihantar untuk membangun kesepahaman dengan penduduk tempat mereka live in maka semakin siswa-siswi ini membangun horison dengan membuka kesadaran, wacana dan dengan rendah hati belajar kearifan lokal tanpa kehilangan jati diri dan terhindar dari kooptasi kultural setempat maka dalam kesempatan tersebut terjadi fusi horizon-horizon dari fenomena interkultural.

Manifesto Pendidikan: sebuah Titik Pijak
   
Menanggapi konteks tersebut di atas, ada beberapa manifesto pendidikan yang hendak dinyatakan ditulisan ini. Pertama, “Guru, beranilah mengambil resiko saat menghantar mitra didik pada kebenaran sejati dan membantu mitra didik berjuang melawan keyakinan-keyakinan palsu (seperti hoax dan hate speech) yang bersliweran menguasai media sosial yang sering menjadi acuan mitra didik” (Plato).
   
Kedua, “Pendidikan mesti berpijak pada keyakinan bahwa mitra didik memiliki kesadaran dan pengetahuan dalam dirinya karena memiliki rasio – kemampuan akal sebagai sumber pengetahuan” (Rene Descartes). Mitra didik memiliki mahaguru dalam dirinya sendiri yakni keingin-tahuannya (Rm. Mangunwijaya). 

BACA JUGA :  Mendikbudristek Berharap Kampus Merdeka Dorong Transformasi Perguruan Tinggi

Ketiga, “Pendidikan mesti menjadi pilar penyangga Bhinneka Tunggal Ika yang mengakomodasi peleburan horizon-horizon interkultural” (Gadamer). Salah satu persoalan bangsa ini adalah kerentanan dibidang SARA. Mengingat bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama ras dan kelompok, maka ruang-ruang dialog yang menghantar terjadinya peleburan horizon-horizon sebagai dasar hidup berbangsa yang inklusif, menjadi sangat penting.

Keempat, “Pendidikan mestinya menjadi praxis yang membebaskan mitra didik dan bukan menjadi alat penindasan karena model penyebaran pengetahuan yang monologis tanpa dialog – narasi pendidikan diformulasikan hanya menjadi satu arah. Guru mestinya bukan subyek yang seolah-olah sumber segala hal untuk mitra didik yang diperlakukan sebagai obyek melainkan subyek yang memiliki kesadaran kritis” (Paulo Freire). 

Kelima, “Dalam proses belajar mengajar adalah penting mengalokasikan waktu di akhir pembelajaran, selain evaluasi, memberi mitra didik waktu sejenak untuk berefleksi – berwawan-hati dengan guru batinnya” (Agustinus). 

Setiap mitra didik di Sekolah ini, agar memiliki kesepahaman interkultural yang memadai maka akan diberikan paparan teoritis tentang betapa berharga dan bernilainya kesepahaman interkultural ini untuk konteks Indonesia yang beragam suku, ras dan etnis beserta budayanya masing-masing. Untuk itu di setiap mata pelajaran akan disisipi ilustrasi dan contoh penerapan kesepahaman interkultural. Setiap minggu ada kegiatan mengenal berbagai budaya di Indonesia dengan perspektif bagaimana upaya dan peluang untuk membangun kesepahaman dari budaya yang berbeda. Setiap semester diadakan pentas budaya ditingkat sekolah. Setiap tahun diadakan pertukaran mitra didik untuk tinggal di keluarga teman mereka untuk mengalami perjumpaan interkultural yang menghantar pada praksis kesepahaman interkultural. Semua kegiatan bernuansa kultural tersebut mesti dikemas dalam konteks interkultural dan merambah pada proses fusi horizon kesepahaman yang mendalam membuka ruang-ruang inklusif.

Kesimpulan

    Hermeneutik Filosofis Gadamer yang mengusung tentang kesepahaman menemukan relevansinya terutama ketika bersinggungan dengan agama dan relasi interkultural. Indonesia yang memiliki keragaman agama dan kepercayaan serta kebhinnekaan kultural menjadi konteks lahan terciptanya fusi horizon-horizon yang paling kaya. Dalam hal ini dunia pendidikan di Indonesia menjadi salah satu pilar penyangga kesepahaman akan kebhinnekaan baik dalam praksis beragama maupun relasi dialogis interkultural. Oleh karena itu sudah selayaknya pendidikan di Indonesia mengacu pada hermeneutik filosofis Gadamer tentang kesepahaman agar lewat pendidikan kebhinekaan, harkat dan martabat serta peradaban manusia Indonesia dapat terus terjaga dengan tumbuh kembang kesepahaman.

   

REFERENSI

Bourdieu, P. (1977). Outline of Theory of Practise. London: Cambridge University Press.

Freire, P. (2005). Pedagogy of the Oppressed. New York: The Continuum International Publishing Group Inc.

Garber, D. (1998). “Descartes, or the Cultivation of the Intellect”. In: Rorty, A.O. (ed.). Philosophers on Education. London: Routledge.

Hardiman, F.B. (2015). Seni Memahami – Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius.

LoShan, Z. (1998). “Plato’s Counsel on Education”. In: Rorty, A.O. (ed.). Philosophers on Education. London: Routledge.

Pradipto, Y.D. (2007). Belajar Sejati VS Kurikulum Nasional – Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar. Yogyakarta: Kanisius.

Quinn, P.L. (1998). “Agustinian Learning”. In: Rorty, A.O. (ed.). Philosophers on Education. London: Routledge.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *