Mengantisipasi Malapraktik dalam Mendidik Anak

Oleh Sulistiyani

SEMUA anak memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Akan tetapi, kelebihan anak ini acap kali tidak diperhatikan secara saksama oleh para guru dan orang tuanya sekalipun. Para guru dan orang tua sering memosisikan anak secara inferior. Alhasil, perkembangan dan pertumbuhan anak tidak bisa maksimal, termasuk kreativitas, kemandirian, dan potensi-potensi lainnya.

Oleh karena itu, para guru dan orang tua perlu bersinergi dalam mendidik anak. Guru perlu senantiasa berkomunikasi dan berkoordinasi dengan orang tua dalam memberikan pembelajaran, sehingga anak bisa dengan nyaman, bahagia, dan semangat saat belajar di sekolah. Orang tua juga perlu proaktif kepada guru, dengan bertanya tentang perkembangan anak serta bagaimana mengembangkan potensi anak saat di rumah.

Sebab, tidak jarang ditemui, guru merasa cukup memberikan materi kepada anak saat di sekolah, namun tidak menindaklanjutinya dengan bersinergi bersama orang tua anak. Guru “tidak mau tahu” kondisi anak saat di rumah, karena merasa itu adalah tugas orang tua. Selain itu, tidak jarang pula orang tua yang “berlepas diri” dalam mendidik anak saat di rumah karena merasa mendidik anak adalah tugas guru di sekolah. Sikap-sikap seperti itu merupakan bentuk malapraktik dalam mendidik anak.

Merita Neitola dalam Journal of Early Childhood Education Research (2018) menyatakan bahwa orang tua merupakan guru, motivator, inspirator, dan pendamping anak saat di dalam keluarga. Karena itu, pendidikan dan pendampingan yang diberikan kepada anak akan bisa memberikan hasil optimum jika dikombinasikan secara baik dan simultan dengan guru. Muaranya, perkembangan anak bisa terpantau, teperhatikan, dan termaksimalkan dengan baik.

Sekolah dan keluarga juga tidak dibenarkan saling menyalahkan. Pasalnya, pendidikan dan pengembangan potensi anak merupakan peran guru dan orang tua. Selain itu, pola sikap dan pola kata yang ditujukkan oleh guru dan orang tua juga memberikan pengaruh bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Karena itu, guru dan orang tua harus senantiasa memberikan yang terbaik bagi anak, karena seperti kata Albert Bandura dalam bukunya, Social Learning Teory (1977), anak-anak secara diamdiam meniru dan meneladani, sehingga anak membutuhkan model terbaik untuk ditiru dan diteladani.

BACA JUGA :  Gairah Penerbitan Buku;  Antara Berkah dan Musibah.

Kombinasi yang anggun dan indah antara orang tua dan guru akan membuat proses pembelajaran dan pendidikan bagi anak lebih mudah sekaligus bertenaga. Sikap saling terbuka antara guru dan orang tua membuat semua potensi anak terbaca secara maksimal, yang pada akhirnya bisa dikembangkan secara eksponensial. Muaranya, tentu saja tidak akan terjadi malapraktik dalam mendidik anak.

Ruang Eksplorasi

Selain kombinasi anggun-indah antara guru dan orang tua, anak juga perlu diberikan ruang eksplorasi untuk mengembangkan semua potensi dan kelebihannya. Setelah guru dan orang tua saling terbuka, perlu juga memberikan kesempatan kepada anak untuk menunjukkan bakat, potensi, gaya belajar, dan kecerdasannya.

Larry Prochner dan Kristen Nawrotzki dalam The Wiley Handbook of Early Childhood Care and Education (2019) menyatakan bahwa anak senantiasa belajar memahami cara berinteraksi dan berperan serta di lingkungan tempatnya berada, sekaligus mengeksplorasi bakat, potensi, dan kelebihannya. Karena itu, pemberian ruang eksplorasi menjadi kemutlakan bagi guru dan orang tua.

Apabila ruang ekspolasi ini dibuka lebar untuk anak maka anak akan lebih semangat dan bahagia belajar dan mengeksplorasi dirinya. Ditambah lagi, anak memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, sehingga dengan dibukanya ruang eksplorasi ini akan membuat anak begitu “tergila-gila” dalam belajar, memperkuat pengalaman, dan mengembangkan segenap potensi, bakat, gaya belajar, dan kecerdasannya. (40)

–– Sulistiyaniguru TK Islam Wahyu Langensari, Ungaran Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *