Digital Movie Competition 2020. Putus dan On The Radio, Terbaik.

Teuku Rifnu Wikana mengumumkan pemenang pertama kategori umum Digital Movie Competition 2020. (SMJkt/Benny Benke).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Setelah mengkaji, menimbang dan menilai 18 film pendek, yang telah dikurasi oleh Anggota Komisioner KPI Pusat, dari dari 51 film pendek. Setelah sebelumnya, menerima dan menera 95 film pendek dari berbagai wilayah di Indonesia. Dengan peserta terbanyak dari pulau Jawa. Di ajang Digital Movie Competition 2020 yang diinisiasi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat dan Bakti (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) dan Kementrian Kominfo.

Digital Movie Competition 2020, akhirnya menetapkan film pendek berjudul “Putus” produksi Karang Taruna 03 XI, dan “On The Radio“, produksi SMKN I Rancah sebagai pemenang kategori Umum dan Pelajar.

Menurut anggota dewan juri Digital Movie Competition 2020, yang terdiri dari Lola Amaria (Sutradara Film), Fadhillah Mathar (BAKTI Kominfo), Teuku Rifnu Wikana (Aktor), Rommy Fibri Hardiyanto (Ketua LSF), dan Benny Benke (Kritikus Film). Film Putus dan On The Radio mempunyai kekuatan dalam penyampaian pesan kepada penontonnya.

Selain itu, dari sisi teknis dasar pembuatan film, yaitu penulisan skenario, penyutradaraan, keaktoran, sinematografi, editing, music score dan artistik, juga dinilai bagus.

“Meski banyak lubang di dua film itu, juga pada juara dua dan tiga di kategori umum, tapi sebagai pembuat film pratama (pemula), sudah baik,” kata Lola Amaria di acara penganugerahan Digital Movie Competition 2020, di Grand Mercure Harmoni, Jakarta, Senin (7/12/2020) petang.

Lola Amaria. (SMJkt/BB).

Hal senada diungkapkan Teuku Rifnu Wikana. Menurut dia para peserta di ajang ini, sudah berupaya memberikan karya terbaik mereka. “Filmnya bagus-bagus, beberapa film bahkan sangat teatrikal sekali. Sebagai aktor dan orang teater, saya mengapresiasi semua peserta di ajang ini,” katanya.

BACA JUGA :  Asrama Haji Siap Tampung Pasien Isolasi Mandiri Covid-19

Segendang sepenarian, Rommy Fibri mengakui, untuk tiga besar kategori Umum, dan dua nominasi lainnya, juga pemenang kategori Pelajar, mempunyai kekuatan yang sama besarnya. “Tipis. Irisan estetika dan kekuatan menyampaikan pesannya hampir sama bagusnya” katanya.

Rommy Fibri. (SMJkt/BB).

Hal serupa diungkapkan Fadhillah Mathar. Menurut dia, hampir semua peserta menangkap dan mengungkapkan pesan dari ajang ini dengan baik. Tentang bagaimana bersosial media dengan bijak, serta menyikapi perubahan teknologi analog ke teknologi digital. “Juga persoalan penyiaranan di perbatasan yang terus berkembang, dengan segala persoalannya,” katanya.

Dalam Digital Movie Competition 2020, dengan tema (besar) : Menjaga Indonesia, dan sub-tema : Siaran Digital Untuk Kemajuan Daerah Perbatasan, serta Literasi Media: Kritis dan Peduli, selain menetapkan Putus sebagai juara pertama. Juga mendudukkan film “Jejak“, produksi First Hand Technical Creative sebagai juara kedua, dan film “Luka Luna” produksi Balai Budaya Rejosari, sebagai juara ketiga.

Sedangkan film “Setiti” produksi 4 Sehat 5 Obat Production, dan film “Spensa TV Padaherang”, produksi SPENSA TV, sebagai pemenang nomine 1, dan nomine 2.

Dijelaskan Muyo Hadi Purnomo, Wakil Ketua KPI Pusat, teknologi digital telah berkembang sangat pesat. Banyak aspek kehidupan yang berubah sangat drastis berkat kemajuan teknologi digital.

Mulyo Hadi Purnomo. (SMJkt/BB).

Kedrastisan perubahan atau desrupsi, telah mengubah perilaku kehidupan manusia yang pada akhirnya membawa perubahan perilaku dan kebudayaan.

Meski ada dampak negatif, keberadaan teknologi digital (internet) tak bisa dielakkan jika tak ingin terbelakang.

“Justru keberadaan internet membawa peluang kemajuan bagi semua orang dan bangsa, termasuk pada penyiaran,” kata Mulyo Hadi Purnomo yang tekun dan aktif mendampingi proses penjurian.

BACA JUGA :  Kalbis Institute dan Sunway Tes Centre For Accountary Excellence Gelar Pelatihan Akuntansi

Untuk itulah Digital Movie Competition 2020 menjadi penting, dan diikhtiarkan dapat menjadi ajang tahunan. “Karena banyak unsur pembelajaran di sana,” imbuh dia.

Hadiah pertama ajang yang dipastikan akan tetap berlangsung di tahun depan itu, senilai 50 juta rupiah, hadiah kedua 30 juta rupiah dan hadiah ketiga 20 juta rupiah. Serta pemenang khusus pelajar sebesar Rp. 15 juta rupiah dan dua (2) pemenang nominee terbaik sebesar 5 juta rupiah.

Komisioner KPI Pusat dan Anggota Dewan Juri Digital Movie Competition 2020. (SMJkt/BB).

Sebelumnya Agung Supriyo, Ketua KPI Pusat menerangkan sejak UU Cipta kerja ditandatangani presiden Jokowi, dua bulan setelah diundangkan, sudah berlaku dan masyarakat harus bersiap berpindah dari siaran analog ke siaran digital.

“Karenanya KPI mendukung pemerintah dalam hal ini ke Kominfo, untuk berimigrasi ke siaran digital. Karenanya kami akan terus melakukan sosialisasi. Bahkan sampai Papua Barat di Sorong dan Raja Ampat,” katanya.

Dia menambahkan, banyak warga yang tidak atau belum tahu dengan siaran digital. Meski sebenarnya, melihat siaran digital tanpa berbayar, dengan kualitas lebih jernih. “Tahun 2022 siaran analog akan dimatikan, dan kita bermigrasi ke siaran digital,” kata Agung sembari menambahkan Festival film pendek ini diadakan juga dalam rangka memberikan pemahaman tentang konten digital, agar makin dikenal publik.

“Tahun depan akan dibuat dengan lebih matang dan meriah,” pungkasnya. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *