Festival Film Indonesia 2020; Perempuan Tanah Jahanam Berpesta.

Hilmar Farid dan Lukman Sardi dalam temu wartawan di malam puncak FFI 2020. (SMJkt/Ist)

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com –– Di tengah kepungan pagebluk, film Perempuan Tanah Jahanam (PTJ) malah berpesta. Betapa tidak. Setelah sebelumnya ditunjuk Komite Seleksi Oscar Indonesia (The Indonesian Oscar Selection Committe) PPFI mewakili Indonesia di ajang Piala Oscar ke-93 tahun 2021. Untuk kategori The International Feature Film Award. Kini, film bergenre horor itu kembali mencatatkan prestasi di gelaran Festival Film Indonesia 2020.

PTJ dalam gelaran FFI 2020 yang digelar pada Sabtu (5/12/2020) malam di Jakarta Convention Center, ditabalkan sebagai Film Terbaik. Atau Film Cerita Panjang Terbaik.

Bukan itu saja. Film keroyokan produksi BASE Entertainment, Ivanhoe Pictures, CJ Entertainment, RAPI FILMS. Yang diproduseri Shanty Harmayn, Tia Hasibuan, Aoura Lovenson, dan Ben Soebiakto, itu juga menyabet beberapa kategori bergengsi lainnya.

Yaitu menghantarkan Joko Anwar sebagai Sutradara Terbaik-nya. Lalu mendudukkan nama “sakti” aktris senior yang tak perlu disangsikan lagi kemampuan aktingnya, yaitu Christine Hakim sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik.

Tidak berhenti di situ saja. PTJ yang memang sangat nggegirisi filmnya itu, juga mendapatkan Citra untuk kategori Pengarah Sinematografi Terbaik. Yang di berikan kepada Ical Tanjung, I.C.S.

Plus dua kategori lainnya. Yaitu
Penyunting Gambar Terbaik, oleh Dinda Amanda, dan Penata Suara Terbaik disabet Mohamad Ikhsan, Anhar Moha.

Dengan demikian, di tengah gebukan pagebluk, PTJ mendapatkan enam (6) Piala Citra.

Kategori lainnya, dibagi rata. Untuk
Penulis Skenario Cerita Asli Terbaik: Adriyanto Dewo – via film Mudik .

Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik: Ernest Prakasa, Meira Anastasia. Via film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan. Yang merupakan Skenario Adaptasi dari buku dengan judul sama, karya Meira Anastasia terbit tahun 2018.

BACA JUGA :  Kreditur IOI Temui Penyidik Polri Yang Paksakan Pasal Pidana.

Pengarah Artistik Terbaik: Vida Sylvia Pasaribu – via film Abracadabra. Penata Efek Visual Terbaik: Gaga Nugraha – via film Ratu Ilmu Hitam.

Penata Musik Terbaik: Aksan Sjuman – via Humba Dreams. Pencipta Lagu Tema Terbaik: Judul Lagu “Fine Today” . Musik/Lirik: Ardhito Pramono, via Film: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

Penata Busana Terbaik: Hagai Pakan – via film Abracadabra. Penata Rias Terbaik: Eba Sheba via film Abracadabra

Pemeran Utama Pria Terbaik: Gunawan Maryanto, via film The Science of Fictions (Hiruk-Pikuk Si Alkisah).

Pemeran Utama Perempuan Terbaik: Laura Basuki, via film Susi Susanti: Love All.

Pemeran Pendukung Pria Terbaik: Ade Firman Hakim, via film Ratu Ilmu Hitam.

Film Cerita Pendek Terbaik: Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka – Sutradara: Putri Sarah Amelia. Film Dokumenter Pendek Terbaik: Ibu Bumi – Sutradara: Chairun Nissa

Film Dokumenter Panjang Terbaik: You and I – Sutradara: Fanny Chotimah. Film Animasi Pendek Terbaik: Prognosis – Sutradara: Ryan Adriandhy.

Penanda Kemajuan Budaya di Tengah Keterbatasan.

Malam Puncak FFI 2020. (SMJkt/Ist).

Gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2020 mencapai puncaknya setelah melalui berbagai tahapan seleksi penjurian terdapat 21 kategori.

Pada FFI ke-40 ini, di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengatakan, FFI tahun 2020 dapat menjadi penanda kemajuan budaya di tengah keterbatasan.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955, FFI digagas sebagai barometer perkembangan kualitas perfilman Indonesia. Melalui berbagai penghargaan yang diberikan, publik dan kalangan perfilman sendiri bisa membaca pencapaian terbaik yang
dihasilkan pekerja film tanah air selama setahun terakhir.

Mendikbud menyampaikan, perkembangan perfilman Indonesia patut dirayakan via penghargaan kepada para pembuat film.

BACA JUGA :  Peringati Hari Ibu MSI Wury Ma’ruf Amin : Pentingnya Ibu Tangguh Hadapi Masa Pandemi

Menurutnya, FFI tahun ini menjadi catatan sejarah karena di saat yang sama, bangsa Indonesia tengah berjuang melewati pandemi Covid-19. “Melalui karya-karya yang membahagiakan dan menggerakkan (kita bangkit),” katanya dalam sambutan yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube FFI dan Kemendikbud RI, Sabtu (5/12).

Direktur Jenderal Kebudayaan (Dirjenbud), Hilmar Farid berharap, penghargaan FFI tahun 2020 dapat menjadi penyemangat agar film Indonesia dapat lebih dicintai di rumah sendiri, lebih banyak berkiprah di kancah nasional dan internasional, serta menjadi inspirasi masyarakat dalam menjalani hidup dan mengejar mimpi.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan. Kiranya nyala semangat FFI terus hidup pada tahun-tahun yang akan datang,” kata Hilmar.

Turut hadir secara langsung pada perhelatan yang diselenggarakan di Plenary Hall, Jakarta Convention Center ini adalah Ketua Komite Festival Film Indonesia 2018 – 2020, Lukman Sardi; Duta Festival Film Indonesia 2020, Chicco Jerikho; Laura Basuki; Tissa Biani; Karina Salim; Mawar de Jongh; Aurelie Moeremans; Lyodra; Andi Rianto; Dr. Twindy Rarasati; Yayan Ruhian; dan Erwin Gutawa.

Keseluruhan acara disutradarai oleh Jay Subiakto.

Jay Subiakto menjelaskan, acara Malam Anugerah Piala Citra konsepnya terinspirasi dari pekerja film dan keadaan Indonesia terkini.

“Ide saya melihat dari perkembangan selama ini dari orang-orang film. Ide pembuka terinspirasi dari akun Instagram KKFauzi yang menggambar Save of Our Cinema dengan tokoh-tokoh yang terkenal di film Indonesia,” kata Jay.

Lebih lanjut ia mengisahkan, konsep acara mencerminkan kerinduan orang untuk kembali ke bioskop. Dihadirkan pula tokoh-tokoh dari film yang masuk nominasi seperti ‘Susi Susanti: Love All’ dan ‘The Science of Fictions’, pahlawan super seperti Gatot Kaca, Gundala, Wiro Sableng dan lain-lain.

BACA JUGA :  Pindad Serahkan Bantuan 1.460 Paket Sembako Kepada Masyarakat

Selain itu ditampilkan juga dokter dan tenaga kesehatan sebagai bentuk tribut kepada para tenaga media yang masih berjuang hingga saat ini.

Jay Subiyakto menjelaskan bahwa acara ini diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Jumlah penonton dibatasi di area bawah dan balkon. Juga semua
kursi-kursi disusun untuk berjarak 1,5 meter. Mematuhi 3 M yaitu menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan,” katanya. Bahwa di lapangan, kondisinya sedikit berbeda, itu bagian dari sejarah.

Ketua Komite Festival Film Indonesia 2018 – 2020, Lukman Sardi mengatakan, penyelenggaraan Festival Film Indonesia 2020 tahun ini merupakan tantangan luar biasa bukan hanya dalam penyelenggaraan tapi juga jumlah film yang berkurang.

Ia mengemukakan, keadaan pandemi yang mempengaruhi seluruh lini kehidupan adalah cobaan yang berat. Semua pekerja film terdampak dan banyak pula pekerjaan yang terhambat maupun melambat. (Benny Benke-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *